|
Orang-orang bilang, Bali itu seperti kahyangan. Surga dunia. Buat siapa? Biasanya pengalaman liburanku bersama keluarga ke Bali cukup mengesankan. Tidak ada keluhan. Tetapi, pengalamanku yang terakhir berwisata kemarin, pantas untuk direnungkan.
1. Hampir semua swalayan tidak punya uang kembalian receh. Aku tidak tahu apa Bali itu bagian lain dari Indonesia, tetapi yang jelas mata uang terkecil di sana adalah uang kertas seribuan rupiah. Mungkin propinsi di sana dipimpin oleh seorang anak-anak yang gemar manisan, karena kembalian recehan selalu dalam wujud PERMEN. Sungguh parah!
Mbak-mbak kasir yang cantik-cantik itu berlagak cuek, hanya memberikan struk belanjaan meskipun jelas-jelas tertera di sana tokonya musti memberikan kembalian sebesar lima ratus lima puluh rupiah! Apa-apaan ini? Kalau ditegur pun, malah kita yang jadi dongko. Karena dengan kemayunya, ringan dia menjawab, “Ga ada kembaliannya, bu.” Sambil nyureng, sinis.
Aku bisa menebak pasti, dalam hatinya dia nggerundel, “Dasar ibu-ibu ga ada kerjaan. Pelit. Limaratus perak aja diminta!” Ya iyalah!! Biar sepuluh perak pun sebenernya itu hak pembeli! Dan kewajiban bagi penjual untuk mengembalikan. Usaha dong, cari receh.
Kalau memang Bank tidak ada lagi yang stok receh, ya diupgrade sistem pembukuannya pakai pembulatan ribuan. Atau harga-harga produknya dibulatkanlah semua jadi ribuan? Apa karena dia mikir, toh yang belanja bule-bule ini. Tidak masalah uang limaratus perak. Cuma lima sen US dollar.
Tapi..., coba kalau kita ke negara lain. Apakah punya pengalaman seperti itu? Biar lima sen juga dibalikin kan? Apa si kasir nilep uang kita yang lima sen? Pasti dia kembaliin. Even yang belanja kita, turis asing yang gampang dikibulin, apa anak-anak yang belum bisa ngitung, tetap kembalian ya kembalian. Harus dikembaliin ke yang berhak. Jadi sedih…, gimana bangsa kita dapat maju, kalau mental korupsi sudah ada di berbagai lapisan. Pemilik toko anggap wajar. Kasir anggap wajar. Dan konsumennya anggap wajar. Padahal itu sudah termasuk korupsi.
2. Susahnya nyari tempat makan. Memang rumah makan dan warung yang terkenal lezatnya bertebaran di setiap pojokan. Segala jenis makanan ada. Warung padangpun banyak. Tapi dari yang sederhana sampe yang kelas café, tidak ada yang punya ruangan khusus buat perokok. Kalau aku bilang, “Lima orang…cNo smoking …” Sang waiter malah bengong, ngeliatin dari ujung kepala sampe ujung kaki, kayak mandang orang planet. Setengah geli dan dengan enteng dia menjawab, “Wah…di sini ruangannya smoking area semua bu…” Seolah-olah kami jadi terpidana. Seolah-olah kami seperti pengemis yang mau minta makan gratisan! Eh, kami bayar lho! Tetapi kenapa hak-hak pelanggan yang alergi terhadap asap rokok diabaikan? Kenapa perokok punya hak veto di sana? Coba deh! Sampai-sampai di hotel berbintang lima pun, coffee shopnya mengistimewakan para penghamba rokok. Mereka bebas duduk di mana saja. Di setiap meja tersedia asbak. Sementara kami yang membawa anak kecil, hanya bisa pasrah, berdoa, semoga singgasana sebelah tak ada yang merokok. Dewa-dewi swargaloka dengan segala warna rambut, warna kulit, merokok dengan bebasnya di sana. Yang sipit, yang belo’. Yang bule yang melayu. Bersuka ria menghembuskan asap rokoknya. Sambil merem melek. Nikmat sekali. Ya. Bali memang surga bagi para pemuja rokok. Neraka bagi anak kecil dan pembenci rokok. Edannya lagi, di ruangan berAC pun mereka berpestapora merokok. Kabut asap memedihkan mata. Meracuni paru-paru. Terbatuk-batuk kami, cepat-cepat menghabiskan makanan tanpa bisa menikmati. Sementara sang pelayan restoran dan pemiliknya menganggap hal itu sah-sah saja. Dugaanku, para perokok itu membayar dua kali lipat untuk makanannya sehingga mereka diperlakukan bak raja-raja? Dalam satu hal aku bersyukur, dan berterimakasih pada gubernur DKI, menjadi penduduk Jakarta yang tempat-tempat umumnya lumayan ramah pada penghujat rokok. Jadi gimana? Harapanku, Bali itu menjadi surga buat semua manusia. Yang putih, yang hitam, yang kuning, yang coklat. Anak-anak, orang dewasa. Berperilakulah yang wajar. Pemerintah Bali sebaiknya terus menerus berbenah dan memperbaiki diri. Jangan terlena dengan julukan atau dipilihnya kembali Bali sebagai Pulau Tujuan Wisata Terfavorit. Buatlah Bali yang sehat dan nyaman.
Gita Sukardi http://gitass.multiply.com/ *yang ga bosen-bosennya pergi ke Bali* |