We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda
Jangan Pernah Berhenti E-mail
Pengirim: Nur Eva Afiati   
Sabtu, 10 Mei 2008

 Cuplikan dari tulisan Gede Prama: "Banyak orang berpikir kalau saya sudah sejak awal bisa berbicara di depan publik seperti sekarang ini. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul, dan minder. Ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya. Tidak bisa tidur selama beberapa minggu, stres atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh seorang murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar."

Sedikit banyak, saya pernah berada dalam posisi itu. Belum lama mengajar, saya merasa perlu mengadakan evaluasi atas kegiatan belajar mengajar yang sudah berjalan selama beberapa bulan. Evaluasi sederhana dengan memberikan kuesioner simpel kepada mahasiswa yang menjawab tanpa nama. Alhamdulillah, sebagian besar mahasiswa menjawab kuesioner itu. Banyak di antara mereka yang memberi kritik dan saran dengan bahasa yang baik dan sopan. Ada juga yang menjawab dengan bahasa yang, dalam persepsi saya, kasar. Bahkan ada yang menjawab dengan tulisan besar-besar disertai dengan tanda seru pula. Cara penyampaian ga enak! Begitu tulisnya.

Hasilnya, 73 % menjawab bahwa kuliah yang saya berikan agak sulit dipahami, 19 % menjawab sulit dipahami, dan hanya 5 % menjawab mudah dipahami. Alasannya, 37 % menjawab materi yang terlalu banyak, 31 % menjawab kurang konsentrasi saat mengajar, 18 % menjawab kolom lain-lain (bahasa yang sulit dipahami, tidak menarik, terlalu text book, dsb), dan 14 % menjawab penyampaian yang terlalu cepat.

Pada kolom kritik dan saran, ada beragam kritik dan saran yang diberikan mahasiswa. Umumnya menjawab, kuliah harus dibuat lebih menarik. Jam kuliah yang siang hari, membuat mahasiswa (termasuk si dosen juga sebenarnya) mengantuk dan kelelahan. Kuliah yang lebih menarik diyakini mampu mengurangi kadar kengantukan dan kelelahan itu.  Caranya, dosen harus lebih komunikatif, menggunakan bahasa yang lebih mudah, mengurangi materi yang akan diajarkan, juga memberi contoh faktual dalam kuliah.

Sebagai objek evaluasi, tentu saja saya merasa punya hak untuk memberikan tanggapan atas saran dan kritik yang diberikan. Maksudnya, supaya yang memberi kritik dan saran mengetahui latar belakang, kondisi, situasi yang berhubungan dengan proses mengajar itu. Tapi rasanya, sulit memberikan tanggapan tanpa menghilangkan unsur defensif. Kalau sudah begitu, saya meragukan tanggapan yang diberikan akan diterima dengan baik. Salah-salah, tanggapan itu hanya memberikan kesan yang lebih buruk.

Beberapa mahasiswa menjawab perlunya saya untuk lebih ekspresif di depan kelas. Ini satu hal yang perlu saya jelaskan lebih lanjut. Kalau saya tidak terlalu ekspresif di depan kelas, rasanya bukan karena saya merasa kurang pede atau tegang. Selama ini, saya sudah merasa cukup rileks memberikan kuliah.

Kritik dan komentar tajam memang tidak jarang membuat panas kuping dan panas hati. Api bisa membakar gas dan memanaskan balon udara untuk membuatnya terbang lebih tinggi. Panasnya kritik dan komentar tajam untuk diri seharusnya juga bisa membuat diri ‘terbang’ lebih tinggi. Menjadikannya energi untuk bisa membuat hidup jadi lebih baik.

Berkaca pada tulisan Gede Prama, saya merasa bahwa komentar, kritik dan saran dalam evaluasi itu bukan menjadi hal yang membuat saya harus berhenti mengajar atau melakukan hal-hal berkait dengan berbicara di hadapan orang banyak. Kalau seorang Gede Prama pernah merasa dihina, dilecehkan, dan direndahkan sebelum menjadi pembicara publik dan penulis seperti sekarang, mungkin mirip seperti itu jugalah proses yang mesti saya jalani. Siapa tahu, pada rentang proses perjalanan nanti, nasib saya bisa jauh lebih baik dari Gede Prama saat ini.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru
Sindikasi
Sedang Online




Advertisement