We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda
Manajemen Sampah, Manajemen Diri? E-mail
Pengirim: Ellyza Dian Satriana   
Rabu, 30 April 2008

 Sampah itu artinya sesuatu yang tersisa. Kalau boleh diliat sebagai sistem menyeluruh, dimana ada 'masukan', ada hasil yang terpakai, dan ada 'keluaran', maka sampah masuk di bagian keluaran itu. Sekarang masalah kita adalah, bagaimana membuat sampah yang benar-benar sisa (yang tidak bisa diolah lagi) itu sesedikit mungkin.

Dengan melihat 'sistem' di atas, harusnya paling tidak ada dua cara meminimalisasi sampah, yaitu:
1. Tidak apa-apa keluarannya tetap atau bertambah asal keluaran itu bisa diolah lagi atau di-recycle hingga menghasilkan sampah sisa minim. Lebih bagus lagi kalau keluaran ini bisa dikurangi dengan membuat sistem yang sedemikian sehingga hasil produksinya menghasilkan sesedikit mungkin sampah.

dan/atau

2. menekan pengeluaran dengan menekan pemasukan dan hasil. Dalam hal ini itu artinya mengurangi produksi dan konsumsi.

Misalnya aku ambil contoh kasus: pakaian, yang:

masukkannya: benang, pewarna, listrik, dll
hasilnya: baju
keluarannya: baju

Kalau kita ingin keluarannya sesedikit mungkin, maka:
1. Silahkan buat baju sebanyak apapun, asal baju itu bisa didaur ulang

dan/atau

2. produksi bajunya dikurangi

Berangkat dari sini, ada beberapa poin yang ingin aku tulis:

1. Sampai saat ini pengertian kita sebagai warga tentang sampah kadang hanya berhenti pada sampah rumah tangga, lebih spesifiknya sampah dapur. Padahal, sampah itu luas artinya. SEMUA alias APA SAJA yang tidak bisa/tidak mau dipakai lagi, ya itu sudah sampah namanya. Terserah bentuknya mau apa saja. Mau makanan, plastik, baju, tas, mainan, lemari, gas buang, dst. Jadi bagi yang berminat mau mulai lebih memperhatikan masalah sampah, artinya perhatikan bukan sampah dapur saja, tapi kalau bisa semua sampah.

2. Dari cara mengurangi sampah yang pertama alias recycle, dibutuhkan partisipasi dan disiplin sebanyak mungkin orang. Kalau  di tempat kami (Jerman)  sampah rumah tangga dibagi dalam beberapa kategori sbb:

a. Sampah recycle: dibedakan atas sampah plastik, botol (yang dibagi lagi berdasarkan warnanya), kertas,  kaleng (aluminium). Sampah ini harus dibawa sendiri ke tempat-tempat pusat sampah recycle. Sampah kertas ada juga yang disediakan tongnya sendiri (warna biru) di rumah, dan ada truk sampah yang mengambil secara periodik.

b. Sampah organik, bisa kita sendiri yang melakukannya di rumah, atau dimasukkan ke tong sampah coklat dan akan diambil truk sampah secara periodik. Untuk itu kita harus membayar iuran. Sampah organik ini nantinya akan diolah perusahaan sampah menjadi pupuk (di sini sampah biasanya diolah swasta).

c. Pakaian dan sepatu bekas layak pakai: dibungkus yang baik lalu dimasukkan ke tempat penampungan yang biasanya juga tersedia di pusat-pusat pengumpulan sampah recycle.

d. Lampu dan batere: kita kembalikan ke toko tempat membelinya.

f. Sampah elektronik: dibuang ke pusat recycle sampah. Petugas di sana yang akan memilahnya.

g. Sampah furniture: Kalau yang masih layak pakai bisa disumbangkan ke tempat penampungannya. Atau diiklankan dikoran. Yang benar-benar sisa dibuang ke pusat recycle. Hingga berat tertentu tidak dikenakan biaya. Selebihnya harus membayar. Kalau kita ingin sampah kita dijemput truk sampah, kita juga harus membayar.

h. Sampah bangunan seperti karpet, tembok: ada perusahaan tersendiri yang mengurusnya.

i. Sampah zat kimia: diantarkan ke pusat recycle.

j. Sampah sisa dimasukkan ke tong sampah hitam, dan akan diambil secara periodik. Ini juga harus bayar.

Nah, sekarang gimana kalau di tanah air? Yang kebayang olehku:
a. Sampah plastik dan kertas dll yang biasa dikumpulkan pemulung, dikumpulkan jadi satu. Entah mau dijual, entah mau dikasihkan pemulung, tidak masalah. Yang penting terecycle kan?
b. Sampah organik, bisa dilakukan sendiri di rumah. Sepertinya banyak sekali sekarang yang menawarkan solusi dan kursus untuk ini di tanah air.
c. Sampah pakaian dan furniture layak pakai bisa banyak jalan keluarnya.

Nah yang tidak tahu adalah sampah lainnya itu seperti sampah elektronik, batere etc? Gimana ya sekarang di tanah air? Aku tidak tau informasinya.

3. Recycle saja belumlah cukup untuk mengatasi sampah. Masih ada lagi yang bisa kita lakukan. Dan ini menurutku bisa dilakukan semua orang dimanapun ia berada. Ini kaitannya dengan cara kedua mengurangi sampah di atas: menekan produksi dan konsumsi alias berhemat. Menurutku ini justru cara yang lebih efektif. Apalagi dikombinasikan dengan cara pertama: dahsyat.

Berhemat. Artinya setiap kita akan membeli sesuatu, kita harus memikirkan barang itu sebagai sistem tadi. Berapa banyak resource yang diperlukan dan berapa banyak sampah yang akan dihasilkan. Cukup imbangkah manfaatnya dengan 'pengorbanannya'? Apa dampaknya kalau kita tidak jadi membelinya/memilikinya saja? Berapa banyak energi dan hasil bumi yang diperlukan untuk menghasilkan tas baru ini, misalnya? Apakah sampahnya nanti bisa diolah? dst. Artinya kita harus lebih cermat memilih barang. Kalau dihitung per orang ya dikit, tapi kalau dikalikan jumlah manusia di bumi? Wow!.

Jadi, tren yang seharusnya adalah bukan hanya barang-barang nya saja yang 'go green', bukan hanya sebagian tindakan kita saja yang 'go green', tapi pikiran kita juga harus 'go green'. Artinya itu satu paket: Adillah dengan alam sejak dari pikiran.

Dan aku akui, justru ini yang paling sulit dilakukan. Salah satu filsafat orang Jawa tentang hubungan manusia dan alam itu adalah: berharmoni dengan alam itu jalannya adalah dengan mengendalikan diri (menaklukkan faktor dari dalam), bukan dengan berusaha menaklukkan alam (faktor luar). Artinya, kalau misalnya kita sedang ingin sekali punya pakaian banyak supaya hidup jadi lebih mudah (bagi manusia, dan dalam jangka pendek, tapi tidak mudah bagi alam sih kayaknya) dan indah, maka orang Jawa akan melihat ke dalam dirinya, menimbang-nimbang dan mengendalikan pikirannya. Bukan dengan mencari jalan membabat hutan ganti kapas, bikin mesin dll. Yang berakibat ingin pakaian yang lebih bagus, lebih ini, lebih itu, tidak ada ujungnya.

 
Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru
Sindikasi
Sedang Online
Ada 4 tamu online




Advertisement