|
Setiap tahun, tanggal 21 April, kita, tepatnya kaum wanita Indonesia, merayakan hari Kartini dengan mulia. Dari tahun ke tahun, dari kita kecil sampai dewasa. Does it really matter to me?
Sewaktu belia, hari Kartini identik dengan pawai di sekolah, kehebohan memakai baju daerah. Sampai masa anak-anakkupun sekarang, Hari Kartini berarti Lomba Busana Tradisional komplit dengan make-up menor dan tatanan sanggul segede tampah! Yang jelas putriku ogah berpartisipasi. Cukup sekali. Dia kapok karena kepala pening, badan gerah dan gatal akibat kostum yang ‘cute’ dilihat bagi orang dewasa, tapi siksaan bagi si kecil!
Heran, apa sekarang itu jaman sudah berubah ya. Anak-anak sudah berani mengutarakan pendapat dan kukuh dengan pendiriannya. Yang kuingat, dengan pasrah, tak pernah sekalipun aku berani membantah kegairahan ibu dulu dalam hal mengekspresikan bakat merias dan mendandaniku , satu-satunya anak perempuannya, yang sukses menjadi korban dicoreng-moreng dan susah bernapas akibat bebatan kain berwiron. Meskipun, sudah bisa diduga, dari tahun ke tahun, tidak pernah sekalipun berhasil menjadi pemenang!
Kalau dipikir, apakah esensi Kartini sebatas jelita penampilan luar saja? Senyum, pupuran dan kostum ala Raden Ajeng Kartini, lengkap dengan kebaya beludru hitamnya.
Gadis-gadis imut yang malang. Seyogyanya acara peringatan Hari Kartini lebih mengarah ke kebebasan berkreasi dari anak-anak cantik-manis ini. Pintar melukis? Ayo, pajang! Ingin menari ciptaan sendiri? Silakan! Mau menyanyi? Monggo*! Berhasrat memamerkan pernak-pernik kerajinan tangan karya sendiri? Hayuh, aja! Unjuk gigi kelihaian berkarate? Sok, atuh*! Semua bagus, semua menang. Kowe iso nduk, kowe iso*…
Yang penting, menurutku adalah, memupuk rasa percaya diri anak-anak perempuan Indonesia untuk tampil dengan kecerdasan mereka masing-masing yang unik. Memberikan wadah bagi makhluk-makhluk mungil ini untuk berani mengekspresikan kemampuan tanpa rasa takut atau malu. Soenggoeh patoet dipoedjiken…
Jaman SMP, SMA, kuliah bahkan di masa kerjapun, hari Kartini, terbatas pemikiran tunggal untuk ramai-ramai janjian pakai busana etnik. Kalau dipikir-pikir, bagus juga sih, minimal setahun sekali, perempuan Indonesia terlihat kenes, kemayu dan anggun dengan busana adat. Apa ada efeknya? Ada, paling enggak di diriku sendiri.
Sekarang sedapat mungkin aku berusaha abai dengan sisi kefeminitasanku sebagai perempuan Indonesia. Menyukai berkebaya dan berkain yang luwes dan simpel di acara-acara khusus, seperti Idul Fitri dan resepsi pernikahan. Minus bedak tebal dan konde bersasak. Pakai kain, ternyata nggak perlu ribet kok! Jaman sekarang sudah banyak modelnya kain-kebaya yang modis tapi praktis. Bahkan ketiga putrikupun aku ajak berkebaya-ria!
Apa lagi? Apa hanya sebatas penampilan fisik saja? Setiap tanggal 21 April, seolah aku disadarkan kembali oleh Bunda Kartini, nilai tambah apa yang telah kamu berikan sebagai seorang perempuan Indonesia? Sebagai ibu?
Aku berjanji, semakin tambah tahun, semakin aku sadar dan bertekad untuk: 1. Kontinu memberikan life-skill buat permata hati di rumah. Sekolah formal dan nilai akademik bukanlah jaminan. Ketiga buah hatiku harus punya ketrampilan sesuai dengan minat dan bakat mereka yang musti dikembangkan untuk kebaikan diri mereka kelak. Bukankah semua anak itu cerdas, asal diberi kesempatan?
2. Menjadi green-woman, socially-responsible-mom. Tanggap terhadap lingkungan, cinta bumi. Empati terhadap kaum papa. Memberikan contoh nyata, minimal terhadap keluarga dan kolega untuk peduli anak jalanan, banyak menanam pepohonan, mengurangi konsumsi plastik dan kertas serta kemana-mana membawa tas belanjaan sendiri
3. Punya rancangan yang terarah untuk program investasi keluarga (termasuk investasi spiritual), juga perencanaan untuk hari tua buat diri sendiri
4. Healthy living, learn to love myself and dare to say ‘No’. Tahu saatnya mengurus keluarga, mengurus orang lain dan paham kapan musti bersenang-senang untuk kemaslahatan diri sendiri.
Bunda Kartini, Aku bangga menjadi perempuan Indonesia. Aku bersukahati dan rela menjadi penerusmu. Temani langkahku meniti pelangi asa, Menjadi bintang kejora kecil yang kemilaunya sampai di marcapada, di antara sejuta gugus gemintang wanita hebat di alam semesta .
Mudah-mudahan Allah yang Maha Kuasa meridhai langkahku menjadi seorang Kartini, pahlawan sejati, penyulut ide kemandirian bagi kaum wanita,… setidaknya…, bagi ketiga bidadari kecilku.
*Monggo (bahasa Jawa): Silakan *Sok, atuh (bahasa Sunda): Silakan saja *Kowe iso nduk, kowe iso (bahasa Jawa): Kamu bisa nak, kamu bisa
Gita Sukardi http://gitass.multiply.com/
Ibunda dari tiga ‘Kartini’ kecil: Ramya (10 thn), Raras (9 thn) dan Rafa (5 thn).Ramya, adalah seorang penulis cilik, ‘Kartini’ kecil, inspirator bagi anak-anak perempuan Indonesia usia TK-SD, karena telah menerbitkan tiga buku kumpulan cerpennya di usia 9 tahun. Sekarang Ramya sedang menunggu terbit bukunya yang keempat. |