We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Tip Menghadapi Mertua
Tip Menghadapi Mertua E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Minggu, 20 April 2008

Seorang anggota mengeluhkan masalahnya dalam menghadapi mertua. Beliau ingin mendapatkan tip dari Mommies mengenai cara  menghadapi mertua. Terutama ibu mertua yang sangat tajam dalam berkata-kata sehingga membuat hati sang menantu tidak nyaman? Akibatnya menantu selalu was-was saat bertemu mertua, takut dikritik. Misalnya saja mertua melarang menantu untuk mengendong bayi yang baru lahir dengan alasan nanti bau tangan.

Berikut beberapa pendapat dari anggota.

"Tipnya adalah bersikap tetap menghormatinya tapi juga menunjukan kalau aku punya pandangan sendiri. Jadi setiap beliau mengkritik, aku langsung menjawab dengan mengemukakan alasan dan pandanganku.

Contoh, beliau mengkritik pembelian suatu barang yang dinilai terlalu mahal, tapi aku 'tangkis' bahwa perhitungannya adalah mahal karena kita beli kualitas, bukan kuantitas. Jadi dengan harga sekian kita bisa menggunakan barang tersebut sekian tahun sehingga 'jatuh' nya harga juga akan jauh lebih murah dibanding beli yang dibawahnya. Sering juga aku kesal sekali dan malas ngasih jawaban, biasanya aku pilih  berpura-pura tidak mendengar ucapan beliau dan mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Cara ini selalu berhasi, beliau akhirnya 'melunak'.

Cara lain yang juga ampuh adalah, aku berusaha 'keras' menunjukkan kepada beliau bahwa aku mampu mengurus anaknya, yaitu suamiku dengan baik. Berhubung suami saya dulu tergolong bandel dan lumayan susah diam di rumah."

Pendapat lain adalah: "Kalau boleh memetik sedikit nasihat ibu saya waktu saya curhat soal mom in-laws ini, intinya walaupun beliau bukan ibu yang melahirkan kita, tapi pastinya beliau sayang dengan mantunya. Hanya caranya saja yang beda. Jadi ya, biar kita tidak makan hati nangis darah, lebih baik kita tidak pikirin semua kritikan beliau. Apalagi kalau suami kita juga bisa berpikir dengan logis dan siap mendukung istrinya. Alhamdulillah sekarang ibu mertua jauh lebih lunak. Bahkan sekarang beliau kerap curhat & meminta pendapat saya. Juga sering kali lebih membela saya daripada suami yang notabene anak kandungnya."

Seorang anggota juga mengingatkan bahwa beda pendpat dengan mertua itu biasa, dengan ibu kandung sendiri pun kita sering beda pendapat.

"Ibu saya sendiri juga begitu. Kadang kami ya berantem mulai dari dulu anak-anak masih bayi sampai sekarang sebagian cucunya sudah mau SMA. Ada saja yang dikritik. Jadi, sabar saja. Mertua atau bukan, sama saja. Rasanya semua "veteran" ibu selalu merasa dirinya paling tahu urusan anak. Mungkin termasuk kita juga nantinya. Sekarang saja kalau ada ibu baru yang memperlakukan bayinya tidak sesuai dengan ilmu/pengalaman yang kita yakini, pasti deh jadi gatel. Makanya perlu sekali ingat salah satu parenting rule: "Don't give any uninvited advice". Kalau tidak dimintai saran, mending diam."

Anggota lain juga memberikan saran untuk bekerjasama dengan suami.

"Kunci yang lainnya ya kerjasama dengan suami, jadi suami ya mesti satu faham dan seiya sekata sama kita (dididik dulu nih sama kita biar sefaham).

Contoh, anak saya tidak ditindik (perempuan), entah sudah berapa puluh kali, setiap ibu mertua saya lihat, pasti dikomentari, dibeliin anting pula (niatnya baik banget kan), "kasihan anak perempuan tidak dikasih tindik". Jawab saya, "iya ma, nanti kalau besar sedikit ditindik, kalau sudah minta". Ibu mertua bilang, "kasihan dong, sudah gede ditindik sakit lho." Saya bilang, "Ma, takutnya ditindik sekarang, nanti antingnya dimainin.

Nanti kalau masih ngasih komentar lagi, biasanya saya minta suami saya saja yang maju, senjata saya sih begini, "ma, sama papanya tidak boleh ditindik, ma...". Nah kalau sudah pakai senjata bahwa suamiku juga tidak nurutin, baru  tidak ada komentar lagi.

Apalagi ya, oh ya susu uht. Komentar mertua, "koq, dikasih susunya begitu? Gak apa-apa tuh?" Saya  bilang, "papanya yang minta tuh, Ma." Nah diskusinya jadi suami dengan ibunya. Padahal sebelumnya sudah kita beritahu suami. Biasanya kalau sudah begitu tidak ada masalah lagi.

Cuma mungkin kasus saya tidak terlalu banyak, soalnya ketemu ibu mertua paling seminggu sekali atau dua kali. Kalau tinggal serumah dengan ibu mertua mungkin perlu jurus yang sedikit berbeda, tapi intinya  sama saja, jangan terlalu dimasukin ke hati dan dipikirin terlalu njelimet dan kedua, bekerjasama deh dengan suami biar seiya sekata, dan kalau sudah mentok, biar suami saja yang maju."

Seorang anggota juga membagikan kisah seorang menantu yang dapat diambil hikmahnya.

"Hikayat ada seorang perempuan yang benci setengah mati sama ibu mertua-nya, sampai si perempuan ini niat membunuh ibu mertua-nya ini. Untuk menjalankan niatnya, si perempuan pergi ke tabib terkenal untuk minta racun yang ampuh.

Sama sang tabib, dikasih racun dengan saran kasihnya sedikit demi sedikit, kalau sekaligus bisa bikin orang curiga. Syarat lain, selama memberi racun si perempuan harus memperlakukan ibu mertuanya seperti ia memperlakukan ibunya sendiri, dihidangkan makanan kesukaan, kalau lagi ngomel tidak dijawab, dll.

AKhirnya, pas racun sudah mau habis, si perempuan inipun khawatir. Karena sekarang ia sayang sekali dengan ibu mertua-nya, demikian pula sebaliknya. Ia tidak ingin lagi membunuh si ibu mertua-nya.

Akhir cerita happy ending, karena ternyata yang dikasih sama tabib itu cuma ramuan kesehatan saja. Mungkin dari cerita ini bisa kita ambil sari-nya bahwa menghadapi mertua gampang-gampang susah.  Untuk itu yuk belajar sayang ama ibu mertua. "(MD)

 
Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement