|
Alhamdulillah, hari Kamis, 3 April 2008 lalu, WRM Yogyakarta yang bekerja sama dengan Pusat Kajian Media dan Budaya Populer telah mengadakan diskusi anak & media yang diberi judul “Telaah Kritis Program Televisi Untuk Anak-Anak”.
Diskusi tersebut sudah berlangsung dengan baik & lancar. Dari sisi jumlah peserta yang hadir memang tidak banyak, tapi cukup mewakili berbagai pihak yang mempunyai kepentingan terhadap televisi dan anak.seperti Ketua KPID Yogyakarta, perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), akademisi, pengamat media dari beberapa LSM, orang tua dan wartawan. Diskusi dimulai dengan penyampaian keluhan orang tua oleh Mom Yunita Candra dari We Are Mommies. Bagaimana tayangan program anak-anak di televisi saat ini sangat meresahkan orang tua. Program audisi penyanyi anak dengan materi lagu-lagu dewasa, film-film dengan muatan kekerasan dan bahasa yang kasar, sinetron anak yang menceritakan kisah percintaan orang dewasa, dan lain-lain. Ironisnya program yang dinilai bagus justru ditayangkan pada jam istirahat anak. Orang tua yang melek media dan mempunyai waktu untuk terus mendapingi anak dalam menonton televisi bisa mengarahkan untuk memilih program yang baik, menjelaskan saat ada program yang kurang baik, namun sayangnya tak semua orang tua punya kesempatan itu. Sebagian orang tua harus bekerja dan sulit untuk membuat pengasuh anak untuk dapat mengerti tentang penyaringan tontonan ini. Karena keprihatinan ini, orang tua mengharapkan televisi mau membantu dalam pendidikan anak-anak dengan menyajikan tontonan anak yang lebih baik dan edukatif dengan kemasan yang menarik.
Narasumber kedua, Ibu Sutarimah Ampuni, seorang psikolog anak membawakan makalah dengan judul sangat menarik “Ingin anak anda dewasa lebih cepat? Biarkan dia hidup bersama TV setiap hari!” Dalam tulisannya, beliau mendiskripsikan hal-hal yang dimuat oleh tayangan anak saat ini antara lain adalah penggunaan bahasa orang dewasa, pengangkat permasalahan orang dewasa yang dikemas dalam cerita untuk anak dan merusak logika anak, serta melanggar batas kehidupan wajar anak-anak serta memaksa anak berkembang melebihi seharusnya. Karena dilihat dari sisi pesertanya, mereka adalah anak-anak yang sebetulnya belum siap untuk tampil dan disaksikan oleh sekian juta orang, menjadi idola & dielu-elukan. Yang dikhawatirkan adalah jika setelah masa festival itu selesai dan mereka tidak menjadi orang terkenal lagi, mereka akan mengalami kondisi psikologis yang buruk.
Ibu Rahayu, narasumber terakhir dari sisi pengkaji media menjelaskan bahwa memang saat ini kita dalam posisi yang karut-marut. Saat ini terjadi peningkatan rata-rata 11-15% jumlah pemirsa anak-anak. Pertambahan waktu mencapai 15% pada pukul 18.00 – 21.00 dimana saat itu disiarkan program untuk remaja dan dewasa. Dari sini dapat diprediksi bahwa anak-anak pun mengkonsumsi program yang tidak sesuai dengan karakteristiknya. Saat yang orang tua merasa gelisah dengan program yang disajikan televisi harus berhadapan dengan industri yang mempunyai begitu banyak kepentingan. Maka hal terpenting yang harus dilakukan orangtua adalah menciptakan kultur menonton yang sesuai di rumah masing-masing.
Dalam diskusi selanjutnya, diperoleh beragam cerita tentang kultur menonton di keluarga masing-masing. Di satu keluarga, televisi hanya ada di kamar asisten rumah tangga saja, di keluarga yang lain sama sekali tidak ada televisi sehingga di keluarga-keluarga ini anak tidak terbiasa menonton televisi, sehingga ketika pada suatu kesempatan mereka disuguhi tontonan televisi anak tidak tertarik. Di keluarga lain yang menyediakan televisi sebagai sarana hiburan keluarga, baik hanya di ruang keluarga saja atau bahkan di masing-masing kamar, diberlakukan aturan menonton yang ketat meliputi pemilihan program dan jadwal menonton.
Kesimpulan yang didapat dari diskusi ini adalah sebagai berikut : 1. Yang paling penting dilakukan oleh orang tua adalah untuk selalu mendampingi anak saat menonton TV agar dapat menjelaskan kepada anak jika terlihat ada sajian yang tidak sesuai untuk mereka. Jika harus mendelegasikan tugas itu kepada pengasuh, yakinkan bahwa pengasuh itu bisa memahami misi kita dengan baik.
2. Membentuk kultur menonton yang baik. Meliputi mengarahkan anak bagaimana memilih tontonan yang baik dan membuat jadwal/pembatasan waktu menonton. Mulai dari anak-anak sendiri, meluas ke keluarga dan lingkungan di luar keluarga.
Lalu bagaimana dengan bagian masyarakat lain yang saat ini belum melek media? Karena anak kita pun berinteraksi dengan anak-anak yang orang tuanya belum melek media sehingga masih mengkonsumsi proranm-program TV yang tidak pas.
Untuk ini yang bisa dilakukan adalah : 1. Terus mengkritisi program TV dengan menyampaikan keluhan dan saran kepada pemerintah, KPI/D dan stasiun TV terkait. Menurut salah satu peserta yang pernah bekerja di bagian pemberitaan salah satu stasiun televisi, setiap masukan (terutama yang berupa kritik) yang disampaikan pasti akan diperhatikan. Jika gelombang kritik itu semakin besar, lambat laun stasiun televisi pasti akan berpikir untuk meninjau programnya.
2. Membuat jaringan untuk advokasi literasi media. Dalam diskusi ini, KPID Yogyakarta telah memberikan kesediaan untuk memfasilitasi semua pihak yang peduli agar bisa memberikan pembelajaran tentang media kepada masyarakat yang lebih luas. Seperti yang dilakukan oleh KPID Yogya saat ini, menggandeng mahasiswa KKN untuk memberikan pelajaran media literasi di lokasi-lokasi KKN-nya. Selain itu, kegiatan awal yang akan dilakukan adalah membuat milis Peduli TV, selain untuk membentuk jaringan juga untuk menampung banyak masukan terhadap TV.
3. Membuat penelitian tentang jumlah konkrit pemirsa anak-anak dan apa saja yang mereka tonton, serta bagaimana efek tontonan itu terhadap anak (penelitian tentang hal ini sampai sekarang belum ada) . Hal ini penting untuk pemerintah dan pihak berwenang lainnya untuk menentukan kebijakan.
Yuk moms! Kita tingkatkan kepekaan kita terhadap media. Kita mulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Semoga dengan kerjasama yang baik dari semua pihak yang peduli anak dan media, akan semakin banyak program televisi yang tepat dan bermanfaat bagi pendidikan anak.
(We Are Mommies Yogyakarta) |