|
Di sebuah surat kabar New York, saya membaca seorang wanita mengeluhkan hal yang disaksikannya di sebuah subway. Seorang ibu dengan ketiga anaknya naik subway yang sama. Si kecil lalu menangis dan si ibu tanpa malu langsung membuka bajunya dan menyusui anaknya. Hal yang membuat wanita tadi jengah adalah bagian tubuh tertentu si ibu yang tidak tertutup. Sedangkan beberapa kaum adam di gerbong itu, menonton dengan seksama pemandangan tersebut.
Kadang pada saat kita bahagia atau merasa bahwa apa yang kita lakukan itu penting, kita lupa hal-hal kecil yang sebenarnya. Seorang ibu yang bangga akan anak perempuannya, mengambil photo anaknya dalam pakaian minim. Gaya si anak yang lugu ternyata tidak selugu menurut pendapat orang lain. Waktu itu, tahun 70-an, di mana seorang dewasa mengambil photo seorang anak dalam keadaan demikian bisa dianggap pornography anak. Malang nian si ibu, ketika dia akan mengambil hasil photo anaknya di tempat cetak photo, dia malah ditangkap polisi dan dituduh membuat pornography anak. Si ibu bahkan diadili dan dipenjara belasan tahun akibatnya.
Seorang ibu yang lain dengan bangganya menceritakan bagaimana bahagianya dia menyusui bayinya. Tapi gambar yang dia tampilkan di websitenya amatlah membuat gusar. Karena bagian pribadi dirinya justru yang terlihat 3/4 -nya photo tersebut. Sedangkan intinya dia menyusui si bayi jadi buyar. Rasa risih saya sebagai wanita jadi tergoda. Ingin rasanya saya segera menutup bagian pribadi si ibu supaya dia lebih nyaman dan saya juga.
Lain lagi cerita kawan saya tentang seorang ibu yang memajang photo-photo anaknya tengah mandi, bertelanjang bulat atau photo seorang bocah laki-laki yang baru disunat. Kalau photo bayi yang bertelanjang bulat mungkin lucu buat kita. Kita bisa tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Tapi ada batas-batas tertentu apalagi menyangkut usia si anak. Mungkin buat kita sebagai ibu, kapan lagi kenang-kenangan seperti itu terjadi lagi, begitu pikir kita. Tapi anak juga punya rasa malu apalagi kalau dia sudah menolak atau tidak mau melakukannya. Inti dari kejadian penting dalam hidup anak itu pun jadi buyar juga ketika sebuah photo lebih menggambarkan unsur pornography daripada kebahagiaan si ibu.
Pada saat anda membaca hal mengenai pornography, anda mungkin terbayang majalah-majalah seperti Playboy, Penthouse atau film-film biru dan lain-lainnya. Tapi pornography sebenarnya secara halus bisa kita temui dalam kegiatan sehari-hari. Itulah yang disebut "soft porn". Soft porn tidak mengharuskan orang lain yang melihat objek tersebut menjadi terangsang, tapi unsur dari sesuatu yang cabul terkandung di dalamnya, sebagai contoh memperlihatkan bagian tubuh yang pribadi. Dan karena adanya unsur tersebut orang awam kebanyakan merasa kurang nyaman. Tidak diharuskan adanya sebuah tujuan untuk menyebarluaskan sebagaimana definisi "hardcore porn" seperti halnya gambar-gambar pada majalah Playboy atau Penthouse. Jadi pada saat ada gambar yang memepertunjukkan bagian dari tubuh yang membuat orang awam kebanyakan merasa kurang nyaman, timbullah unsur cabul. Sekalipun gambar tersebut bukanlah sebuah gambar yang bertujuan sebagaimana sebuah gambar porno berfungsi, yakni untuk menimbulkan gairah seksual.
Soft porn yang saya sebutkan di atas juga beberapa kali melibatkan anak-anak. Berbeda dengan definisi dari pornography itu sendiri, yang menitikberatkan unsur adanya upaya penyebarluasan. Saya ingin meminjam definisi tentang pornography anak dari 18 US Court 2252: Child pornography is defined as: "any visual depiction of "sexually explicit conduct" "involving children". Dan kalau anda berpikir bahwa yang dimaksud dengan "sexually explicit conduct" itu seperti yang sama dalam hal pornography biasa, dalam hal anak, sebuah gambar sederhana bisa jadi mengandung unsur porno.
Sebuah photo seorang anak berusia 5 tahun dengan pakaian renang atau bertelanjang bulat sekarang bisa masuk kategori pornography anak. Memang meskipun pada akhirnya apakah sebuah gambar itu mengandung hal yang berbau porno dihadapkan pada pengadilan, ada baiknya sebagai orang tua kita berhati-hati. Karena gambar-gambar yang kita pajang sebagai kebanggaan bisa jatuh ke tangan orang tidak bertanggung jawab, para pedophile. Juga kalau anda memiliki tujuan yang baik seperti halnya penyebarluasan kecintaan menyusui asi. Tolong lebih bijak memakai gambar-gambar yang ditampilkan. Bagaimanapun juga, inti dari menyusui itu adalah si bayi dan hubungannya dengan si ibu. Bukan dengan memperlihatkan bagian tubuh yang pribadi dan menyamarkan tujuan mulia anda. |