|
Mata saya masih menatap televisi ketika seorang ustad muda diwawancara dalam sebuah infotainment. Ustad itu dimintai komentar mengenai seorang ibu yang mengaku sebagai ibu angkatnya. Satu kalimat yang menjadi perhatian saya adalah saat sang ustad berkata, “Saya percaya seorang ibu yang baik tidak mengharap balas jasa dari anaknya.” Kalimat itu menyita perhatian saya karena beberapa alasan. Pertama, sebagai anak, saya teringat dengan Ibu yang telah membesarkan. Kedua, sebagai ibu dari dua orang anak saya mencoba menggali lebih dalam makna dari kalimat yang diucapkan sang ustad di televisi.
Saya teringat Ibu yang kini berada di kampung halaman. Di usianya yang lewat 65 tahun, ia masih aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk mengisi masa pensiunnya. Ibu memang tak bisa selalu berada di sisi saya, tapi saya tahu bahwa doa-doanya selalu menyertai langkah saya menjalani hidup. Saya tahu, tidak semua tingkah laku saya berkenan di hati beliau. Tapi beliau selalu memiliki kelapangan hati untuk terus memanjatkan doa bagi saya dan anaknya yang lain. Saya memahami hingga saat ini masih belum mampu membahagiakan beliau. Saya juga mengerti bahwa saya tidak akan pernah mampu membalas jasa-jasa beliau. Satu hal yang beliau minta adalah mendoakan beliau senantiasa. Saya memang memanjatkan doa untuk kedua orang tua ketika usai melaksanakan sholat. Tapi beberapa kali, doa yang dipanjatkan tidak saya resapi maknanya dalam hati.(Astaghfirullahaladziim.. Maafkan anakmu, Ibu..)
Selama ini, ‘balas jasa’ yang Ibu minta dari saya sebagai anaknya adalah doa itu. Sebenarnya, tanpa beliau minta pun, insya Allah saya akan berdoa untuk kedua orang tua. Doa yang saya panjatkan pastilah tak akan mampu membalas jasa-jasa mereka. Pada sisi lain, sebagai seorang ibu dari dua batita, saya berusaha menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ibu sebaik-baiknya. Saya tahu tidak akan pernah bisa menjadi ibu yang sempurna. Tapi saya akan berusaha untuk menjadi ibu yang terbaik untuk buah hati dengan segala kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.
Merawat dan mendidik anak sebaik-baiknya memang sudah menjadi tugas saya sebagai ibu. Saya meyakini hal itu merupakan satu hal yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Maka menjalankannya dengan baik sudah menjadi kepentingan saya juga.
Balas jasa apa yang saya inginkan dari anak-anak saya kelak? Ataukah saya tidak akan mengharap balas jasa apa pun dari anak-anak yang saya lahirkan? Melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sholeh sepertinya sudah menjadi balasan tak ternilai harganya. Rasanya saya akan melakukan hal yang sama dengan Ibu, mengharap doa tulus dari ananda agar Allah SWT meridhoi setiap langkah yang saya tempuh. Tapi bagaimana jika anak-anak alpa melakukannya? Akankah saya menuntut mereka mendoakan saya senantiasa? Rasanya tidak. Bagi saya saat ini, cukuplah Allah SWT yang memberi balasan terbaik, karena Dia adalah sebaik-baik pemberi balasan.
“Siapa mendapat cobaan dalam memelihara atau merawat anak-anaknya, tetapi dia berusaha merawat mereka sebaik-baiknya, maka semua cobaan itu menjadi dinding baginya dari neraka.” (HR Muslim)
Wallahu’alam bishshowab
Teriring berjuta maaf dan terima kasih tak berhingga untuk Ibunda di tanah kelahiran |