We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Ajak Ia Bicara
Ajak Ia Bicara E-mail
Pengirim: Eva Nur Afiati   
Kamis, 10 Januari 2008

 Suatu hari, putra saya yang kala itu baru berusia 18 bulan, masuk di sebuah tempat penitipan anak. Setengah hari yang terlihat berat untuknya. Pertama kali bertemu dengan guru dan teman-teman baru, mesti menghadapi sendiri pula karena sang ibu dilarang menemani. Saat dijemput, terlihat wajahnya kusut. Bekas tangis masih menyisa di sudut mata dan hidungnya.

“Tadi menangis?” saya bertanya pada ibu guru yang menemani.

“Iya, sebentar,” jawab ibu guru berseragam batik coklat itu.

Sepanjang perjalanan pulang, saya mengajaknya bicara. Tidak berhasil, karena raut wajahnya masih saja kesal. Dicium pipinya pun tidak peduli. Ia memandang lurus ke depan sepanjang perjalanan.

Dua hari kemudian ia kembali ke TPA. Baru sampai di halaman TPA yang mengambil tempat di salah satu rumah dinas itu, tangisnya meledak. Tangannya bahkan menyeret ibu dan ayahnya keluar halaman. Guru dan teman-teman tak mampu membujuk menghentikan tangis kerasnya. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk tidak menitipkannya hari itu.

Berbilang bulan setelah itu, setiap kali berkunjung ke rumah relasi atau saudara, tangisnya meledak saat di teras. Menolak untuk masuk, dan memilih diam di sudut teras dan menangis. Ia pun menolak masuk ke sekolah dengan taman bermain di depannya. Pun ketika menjemput sepupunya di TK. Padahal sebelumnya, bermain ayunan di TK itu adalah favoritnya.

Setiap kali berkunjung ke rumah kenalan, hati sang ibu berdebar. Khawatir tangisan pangeran kecil akan berlangsung lama dan mengganggu kunjungan. Biasanya, perlu waktu beberapa saat supaya tangisnya reda. Setelah dilihatnya ayah dan ibu akrab dengan empunya rumah, barulah kaki kecilnya mau melangkah masuk.

Bagaimana kalau sikapnya berlanjut terus? Saya berusaha memikirkan cara untuk membuatnya tidak menangis saat berkunjung ke rumah teman. Salah satu cara yang hadir dalam benak, adalah mengajaknya bicara sebelum pergi. Saya ingat, pernah membaca di satu tabloid bahwa seorang tokoh sering mengajak anaknya bicara dulu sebelum beraktivitas.

Tak lama sesudah itu, saya berniat mengajak putra kecil saya ke rumah guru mengaji. Sebelum berangkat, saya mengajaknya bicara. Hati-hati dan perlahan bicara sambil menatap kedua matanya.

“Kita nanti pergi ke rumah guru mengaji ibu ya.. mas jangan menangis. Ibu nanti mau mengaji.”

Mata beningnya menatap saya. Tatapan ingin tahu yang ditunjukkannya membuat saya penasaran. Saya berharap kalau ia mengerti apa yang saya ucapkan. Sampai di halaman rumah guru, hati saya berdebar. Akankah ia menangis keras lagi seperti sebelum-sebelumnya? Akankah langkahnya terhenti di teras dan harus dibujuk untuk masuk? Mudah-mudahan Allah memberinya kelapangan hati untuk tidak menangis dan mau masuk ke dalam.

lhamdulillah, kami masuk ke rumah tanpa hambatan. Saat membuka sepatu dan melangkah masuk, saya menatapnya takjub. Sikapnya tidak berubah, tetap kalem dan santai.

Selanjutnya, setiap kali hendak berkunjung ke tempat baru, saya mengajaknya bicara dulu. Saya merasa perlu untuk memberitahu tujuan dan maksud kunjungan itu. Tak lama kemudian, kami hendak bertandang ke rumah tetangga sebelah rumah untuk acara aqiqah. Saya memberitahu kalau tempat yang dikunjungi tidak jauh, hanya di sebelah rumah saja. Saya masih ingat, sebulan sebelumnya saat menengok bayi yang baru lahir, tangisnya meledak di halaman tetangga itu. Saya tidak mau kejadian itu terulang lagi.

Alhamdulillah, langkahnya mantap masuk ke dalam rumah. Bukan hanya itu, sepanjang dua jam acara, tingkahnya juga tidak merepotkan. Di tengah acara, ia bahkan terlelap di pangkuan. Lain waktu, rasanya saya tetap akan berusaha mengajaknya bicara sebelum beraktivitas. Berusaha juga untuk tidak lupa berdoa agar semuanya berjalan lancar. Insya Allah..

Menurut Irwan Prayitno, seorang psikolog dan pengelola lembaga pendidikan anak, anak hendaknya diajak bicara sedini mungkin. Bicara merupakan alat utama untuk mengembangkan segala bentuk perkembangan anak seperti perkembangan sosial dan perkembangan emosi. Ketika memasuki masa kanak-kanak, bicara merupakan sarana pergaulannya.

Mengajak anak bicara juga membuat potensi anak teraktualkan. Dengan bicara, potensi seperti kognitif, sosial dan emosi dapat diaktualkan. Bayi dan anak akan meniru bagaimana orang tua berbicara sehingga anak terbiasa mengungkapkan keinginannya dengan cara yang baik.

Apakah anak usia 2 tahun sudah memahami isi pembicaraan orang tua? Saya tidak tahu pasti. Tapi berdasar pemahaman dan pengalaman saya, orang tua hendaknya tidak meremehkan anak, berapa pun usianya. Anak mungkin sudah memahami isi pembicaraan orang tua. Kalau pun ia belum memahami, mengajaknya bicara dapat melatihnya berkomunikasi dengan lebih baik.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement