We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Salah Tebak
Salah Tebak E-mail
Pengirim: M. Murniati   
Kamis, 10 Januari 2008

 Beberapa langkah dari pintu keluar, seorang gadis masuk ke dalam toko mengenakan legging hijau lumut. Aku segera teringat untuk mencari celana ketat dikulit penghangat kaki angin dingin Januari.  “Mumpung sale,”pikirku sembari berbalik ke sektor pakaian wanita GAP di kawasan Knightsbridge, London.

Diantara puluhan badan yang sibuk mengudar jajaran jaket musim dingin, knitwear, aksesoris dan iming-iming diskon setengah harga, menemukan barang terakhir dalam petualangan belanja hari itu bak mencari jarum dalam jerami. Belum lagi kedua tungkai kakiku yang berteriak penat setelah dua jam setengah berlari menyusuri area
pertokoan yang  di tengah kota yang penuh dengan kerumunan turis.

Akhirnya kulihat dari samping seorang perempuan ramping berambut jagung sedang menggantung kardigan dibagian syal dan topi musim dingin.

“Hido uhave legging indisfloor?,” tanyaku cepat tanpa berpikir.

“Excuse me?” jawabnya dengan suara tinggi. Ia melirikku dengan sudut matanya., mundur beberapa langkah sambil mengerutkan keningnya. Kukira kalimatku terlalu cepat baginya sehingga kuulangi lagi dengan lebih sopan.

“Could you help me find legging, please?” Mukanya seketika memerah mirip kepiting rebus, ia buang pandangannya sambil meraih tas tangan warna keemasan di dekat kakinya. Aku mulai tidak enak hati saat ia dengan sengaja melihatku dari atas ke bawah. Kutatap kilas tajamnya dan terheran-heran. Kenapa sih nih orang? Nggak boleh ditanyain baik-baik? Mungkin sudah
capek ‘kali, pikirku dalam hati. Aku masih belum sadar apa kesalahanku.

Ia terdiam sesaat sebelum setengah berteriak, “I AM NOT WORKING HERE!”

Aku pun terhenyak, mundur dua langkah ke belakang mendengar aksen Rusia dalam Inggrisnya. Denyut-denyut kelelahan di kepalaku mendadak hilang. Syukur saja tidak ada orang lain di dekat kami. Mereka bisa saja kaget atau menyembunyikan senyumnya menertawakan kekonyolanku.   
“Oh-I-am-very-sorry,” tukasku tergugup menekankan setiap kata sambil menelan tenggorokan keringku. Waduh, dia bukan asisten toko. Salah, deh, kecamku pada diriku sendiri dan bergegas mengambil langkah seribu di bawah tatapan seramnya. Hilang sudah niat mencari sang legging impian. Kulewati saja tumpukan barang bergaris-garis tersebut di sebuah pojok
berdiskon 40% dekat dengan pintu keluar. Mukaku serasa berwarna pelangi di tengah cuaca mendung London.   

Ditengah arus manusia dan kendaraan berjalan menuju stasiun kereta bawah-tanah terdekat, aku tercenung. Mengapa gadis Kaukasian itu menjawab pertanyaanku dengan kasar? Betapa tidak senangkah dirinya kuanggap asisten toko bergaji upah minimum? Apakah ini untuk kesekian kalinya orang salah bertanya sepertiku?Ataukah ini yang pertama kalinya sehingga mukanya membatu seketika?

Selama enam tahun lebih tinggal, dua atau tiga kali kualami pengalaman serupa. Uniknya terjadi pada saat kuberbelanja tanpa anak-anak. Awalnya ya kaget ya agak bingung. Tampang pelayan? Saat itu ringan saja kujawab bahwa aku bukan orang yang tepat untuk ditanyai. “I
don’t know” awalnya lalu beralih ke “I have no idea” sambil mengangkat bahu dan bersimpati dengan kebingungan sang penanya.

Sekali waktu setelah sampai di rumah, saat melintasi cermin kuamati gaya pakaianku hari itu.  Geli kusadari celana komprang, atasan putih berkerah yang menutup paha dan jilbab hitam pendek yang kumasukkan ke dalam kerah. Busanaku amat mirip dengan seragam para asisten di cabang lokal Mark& Spencer atau Next! Selain itu, mungkin juga karena orang umumnya menyangka usiaku paling tidak sepuluh tahun lebih muda dari yang sebenarnya. Ehm.  

Jadi sekilas dandanan gadis berkulit pucat dengan jeans ramping, tank-top putih yang judes itu serupa dengan asisten-asisten atraktif berusia 18-21 tahun yang umumnya kutemui di toko-toko retail besar lainnya. Sebagian dari mereka adalah pelajar/mahasiswi yang mengambil kesempatan bekerja paruh waktu pada saat tradisi sale tahunan London setelah 25 Desember sebelum memulai kembali semester baru di minggu ke-2 Januari. Cuma kali ini aku keliru.

Kutangkap kesan egonya tersodok habis oleh pertanyaanku. Entah ia punya pengalaman buruk terhadap ­bisa juga pernah sebagai- asisten toko atau ia sedang dalam pre-menstruasi period yang menyebabkan kepekaannya tinggi.  Nada geram dan tersinggungnya sebenarnya bisa jadi menutupi sedih di hatinya dianggap hanya asisten belaka. Yang terpenting, cara bertanyaku yang tergesa-gesa dan spontan punya andil membuatnya bereaksi negatif. Apalagi, ya? Sulit
mengira-ngira secara pasti alasan utama dibalik reaksinya yang berlebihan.

Bila ia tak suka dianggap sebagai pekerja, apakah berarti status asisten tidak sama dengan pelanggan? Mungkinkah menurutnya lebih terhormat dianggap sebagai orang yang masuk, melihat-lihat atau sentuh sana-sini daripada mereka yang melipat dan mengembalikan
baju-baju yang terserak ke tempatnya selama 6-8 jam dalam sehari? Ketika sebuah pertanyaan merubah statusnya, apakah ia menganggap hal itu  merendahkan martabatnya?

Dua orang gadis Jepang bertopi baret, berjaket kulit dipadu rok mini dan sepatu boots setinggi lutut yang asyik bercakap berjalan santai dari arah berlawanan. Dalam tujuh detik kami akan berpapasan dan bersinggungan. Bisakah ku nilai dari cara dandanannya bahwa keduanya: a. turis tahunan Jepang di London, b. Japanese Londoners, lahir dan besar di kota yang luasnya dua kali Jabotabek atau c. asisten di bagian kosmetik Harrods?  

Kejadian “salah tebak” ini kuanggap sebagai wacana untuk lebih berhati-hati terhadap tampilan fisik. Kebanyakan orang tidak suka dianggap sebagai sesuatu yang ia nilai lebih rendah dari cara menghargai dirinya. Di sisi lain, kesalahan orang lain bisa menjadi hikmah bersabar dan contoh agar tidak mengulang kesalahan serupa.
 
Lain kali lebih baik aku mencari saja sendiri barang yang kumau sampai dapat. Kalo tidak, yo wis.  Bukannya tak ingin bertanya karena bisa sesekali malu bertanya selamat di jalan.

M Murniati
Anggota WRM, Ibu dua anak yang tinggal di Edgware,daerah pemukiman di utara London.  

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement