|
Hampir setiap anak menyukai binatang. Baik binatang itu sebagai tokoh dalam buku cerita yang mereka baca, film, ataupun yang mereka lihat langsung di rumah, di kebun binatang, ataupun di peternakan. Binatang bagi mereka tidak berbeda seperti teman bermain yang unik dan menyenangkan. Mereka akan senang mengamati ulah binatang yang lucu dan mencengangkan. Tidak sedikit anak yang menjadikan hewan peliharaan sebagai teman setia melebihi teman-teman lainnya.
Bagi orang dewasa bahkan hewan peliharaan dapat membantu mengurangi ketegangan karena stress. Menurut DR L. Suryantha Chandra, psikiater dan Direktur utama Sanatorium Dharmawangsa, mempunyai hewan peliharaan bisa menjadi salah satu unsur dalam terapi pada gangguan jiwa. Oleh karena itulah, beberapa kali dia menganjurkan orang yang mengalami gangguan jiwa, seperti depresi, agar mempunyai hewan peliharaan. Hewan peliharaan bisa mempunyai beberapa fungsi untuk memenuhi kebutuhan jiwa manusia. Selain bisa mengisi rasa kesepian karena pemiliknya merasa punya teman, dia juga punya tempat untuk mencurahkan perasaannya tanpa merasa dihakimi. Karena terkadang manusia hanya perlu didengarkan. "Ada pasien yang merasa kesepian, padahal di rumahnya dia tak pernah sendirian. Namun, meskipun ada orang lain, toh dia tetap merasa kesepian. Saya anjurkan dia mempunyai hewan peliharaan. Beberapa waktu kemudian dia datang lagi dengan wajah yang lebih segar. Dia mengaku merasa aman dan punya teman setelah memelihara anjing. Dia tak lagi merasa kesepian," tutur DR L. Suryantha Chandra.
Hewan Sebagai Terapi
Ternyata olah raga berkuda bisa juga digunakan untuk terapi bagi penderita autis. Bukan olahraganya, terapinya melalui interaksi si anak autis dengan kuda. Kuda adalah hewan yang sangat peka. Salah satu masalah penyandang autis adalah kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Selain kuda, lumba-lumba adalah satwa yang paling cerdas dan ramah. Itulah sebabnya, hewan ini diberdayakan sebagai alternatif terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Caranya dengan mendorong anak berkomunikasi, bermain, dan berenang bersama lumba-lumba. Banyak anak berkebutuhan khusus yang terbantu lewat aktivitas di kolam lumba-lumba ini.
Jeri Novaro Sumual dari Kompartemen 99 Dolphin Therapy mengungkapkan, terapi lumba-lumba (TLL) untuk anak-anak berkebutuhan khusus telah lama diselenggarakan di Amerika. Penelitian di Miami dan Florida menunjukkan adanya dampak positif dari terapi lumba-lumba ini. Salah satunya adalah yang dilakukan psikolog Prof. David Nathanson dan ahli saraf David Cole dari Florida International University.
Dalam situsnya, Nathanson dan Cole mengungkapkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada otak manusia sebelum dan sesudah ia berinteraksi dengan lumba-lumba. "Sel-sel saraf otak yang awalnya tegang akan menjadi lebih relaks ketika mendengar suara lumba-lumba." Kondisi inilah yang membuat TLL dinilai efektif untuk anak berkebutuhan khusus.
Memberi Kesempatan Anak Mengamati
Dengan memiliki binatang peliharaan di rumah, berarti Anda mengajak anak untuk mengenal lingkungan kehidupan binatang ke dalam kehidupannya sehari-hari. Anda memiliki fasilitas untuk mengajarkan kepada anak tentang ilmu alam. Hewan peliharaan memberikan kesempatan langsung bagi anak untuk mempelajari secara dekat bagaimana ciptaan Tuhan (selain manusia) bergerak, melihat, mencium, bahkan merasakan. Selain itu, binatang peliharaan dapat membantu anak untuk mengerti berbagai macam binatang.
Anak yang memelihara ikan mas di rumah akan lebih baik dan peka dalam mengerti bagaimana kodok makan dan tumbuh besar dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak memiliki pengalaman langsung. Saat-saat yang unik ini memberi kesempatan kepada anak-anak untuk melangkah dan melihat dunia dari kacamata binatang. Salah satu bonus dari belajar empati dengan cara ini adalah kesadaran yang lebih baik dari memperhatikan kesejahteraan binatang. Anak-anak yang mengerti perilaku dan kebutuhan binatang lebih dapat "merangkul" perilaku manusia. Selain itu, empati terhadap dunia binatang dapat menular (dengan bantuan Anda) dan membuat anak lebih peka terhadap kebutuhan manusia.
Binatang peliharaan mengasah rasa kepekaan anak-anak terhadap pertemanan, dukungan, dan cinta. Binatang peliharaan selalu siap memberikan perhatiannya, dan perhatian yang mereka berikan tak terbagi - terutama untuk sesuatu yang menyenangkan.Tidak heran banyak anak yang melihat binatang peliharaan mereka sebagai pemicu semangat.
Hewan Peliharaan untuk Anak
Menurut psikolog Anak Adriana S Ginanjar, tidak menjadi masalah bila anak-anak memelihara binatang asalkan berada di bawah pengawasan orangtua. Anak-anak di bawah usia lima tahun kerap gemas, ingin menyentuh binatang, tapi belum tahu caranya yang benar. Akibatnya, ada yang memegang terlalu keras, mencabut, menarik-narik bulu binatang. Awasi anak agar hewan tidak merasa terancam hingga dapat melukai anak.
Saat mencapai usia sembilan tahun atau 10 tahun, anak sudah bisa mengekspresikan diri terhadap hewan peliharaannya. Ia akan menyayangi, memeluk, gembira, bahkan sedih bila peliharaannya mati. Mereka pun sudah bisa diberi tanggung jawab mengurus binatang. Mulai memberi makan, membersihkan kandang, memandikan, memisahkan dengan yang dewasa kalau induknya melahirkan.
Meski anak-anak yang sudah bisa bertanggung jawab terhadap hewan peliharaan, Ina menganjurkan agar orangtua tetap berperan. Misalkan membelikan buku-buku cara merawat binatang yang dipelihara si anak, browsing melalui komputer, mengajak anak ke pet shop membeli makanan hewan, atau mengajak ke dokter hewan.
Pilihlah binatang yang aman, tidak membahayakan, tidak berbisa dan tidak menyerang si pemiliknya. Misalkan kelinci, ikan, burung, hamster, kucing, anjing atau kura-kura. Menurut Adriana lagi, dengan memelihara binatang anak diajak berbagai kasih sayang dengan makhluk lain. Anak-anak pun semakin ekspresif menuangkan emosinya sayang, senang, sedih. Bagi orang tua yang sibuk biasanya hewan menjadi teman baik bagi si anak.’ inatang juga berfungsi sebagai ilmu pengetahuan bagi anak. Apalagi kalau hewan yang dipelihara banyak jenisnya. Anak-anak akan melihat langsung bagaimana tingkah laku hewan, suara hewan, cara makan, melahirkan, bermain, dan sebagainya. Ketika hewan peliharaan si anak sedang kawin, contohnya, bisa dijadikan kesempatan emas untuk mengenalkan pendidikan seksual.
Hewan menjadi contoh yang ampuh bagi anak-anak. Karena banyak buku bacaan yang mencontohkan melalui binatang. Apalagi ada hewan-hewan jenis tertentu yang bagus untuk perkembangan anak. Yang perlu diperhatikan pula oleh orangtua, walaupun anak sudah memiliki 'sahabat' binatang, sosialisasi dengan pihak luar harus tetap dilakukan. Jangan binatang itu sampai menjadi segalanya bagi anak, sehingga tidak memiliki teman lain. Boleh saja anak bicara dengan binatangnya, membagi makanannya, asalkan tidak menjadikan si hewan sebagai imaginary friend.
Tak Harus Melihara
Bila Anda berencana untuk memiliki binatang peliharaan untuk buah hati tersayang, yang harus dimengerti adalah tidak satu binatang pun tepat bagi anak-anak balita, usia prasekolah, atau anak yang masih di bawah umur. Itu sebabnya, memilih jenis binatang peliharaan harus melibatkan sisi keamanan. Setelah itu, baru pertimbangkan campuran antara kebutuhan, temperamen binatang, kepribadian anak, dan kondisi rumah keluarga Anda.
Bila Anda tidak dapat memelihara binatang peliharaan di rumah, jangan khawatir. Toh, Anda tidak harus memiliki binatang peliharaan untuk mengenalkan kehidupan binatang kepada anak-anak. Sering-seringlah Anda membawa anak ke kebun binatang, seaworld, peternakan, tempat penangkaran, dan lain sebagainya.
Tips Aman Anak dan Hewan Peliharaan • Jangan meninggalkan balita sendirian atau tidur dengan binatang. • Pastikan Anda dan anak selalu mencuci tangan dengan air dan sabun sesudah memegang binatang. • Ajarkan anak untuk tidak menarik telinga atau ekor binatang atau mencubit atau mengeluarkan suara yang keras. Anak tidak boleh mengganggu anjing yang sedang beristirahat, tidur, makan, atau bermain dengan mainan kesayangan. • Ajarkan anak untuk tidak pernah mendekati anjing atau binatang yang belum dikenal. Anak tidak boleh mendekati kandangnya. • Jangan biarkan binatang peliharaan menjilat muka anak atau mencakarnya. • Secara teratur, tingkatkan tanggungjawab anak dalam memelihara binatang peliharaan. Tapi ingat, Anda tetap merupakan pengasuh utama. • Memperlakukan binatang dengan cara yang salah, misalnya menarik ekornya atau terlalu kasar, biasanya disebabkan perasaan ingin tahu yang besar atau terlalu senang. Pastikan untuk menjaga keselamatan binatang peliharaan, dan beri pengertian pada anak akan kebutuhan binatang-binatang peliharaannya. • Persiapkan rencana yang matang bila ingin memelihara binatang peliharaan agar dapat konsisten dalam merawat dan mengasuhnya seumur hidup. • Pelajarilah hal yang berhubungan dengan melatih, memberi makan, dan mengasuh binatang peliharaan dengan membaca buku, internet, dan lainya.
Saran dari Dokter Hewan • Jaga kesehatan binatang. Percuma saja hewan jinak tapi tidak sehat sehingga bisa menularkan penyakit kepada anak-anak. Hewan perlu divaksin, diberi obat cacing, bebas kutu, perawatan bulu, gigi, telinga, dan kuku secara rutin. • Pilih binatang yang tidak suka menggigit. Misalnya, kelinci, kucing. Pilihlah kucing jinak seperti jenis Persia. Tapi, jika anak alergi jauhkan dari ras ini. • Jenis reptil, jangan pilih binatang yang suka menggigit atau melukai. Kura-kura, iguana, tergolong masih aman untuk anak-anak asalkan sehat dan perawatan baik. • Bagaimana mendeteksi binatang yang sakit? Ciri-ciri yang bisa diketahui orang awam, si hewan nafsu makannya berkurang, aktivitas juga menurun tidak seperti biasanya. Ada juga yang muntah, diare, banyak garuk-garuk, teriak-teriak tidak jelas. Binatang itu sebaiknya di bawa ke dokter hewan untuk mendapat perawatan lebih lanjut. • Jika anak digigit binatang kesayangan, luka gigitan harus segera dicuci dengan sabun, keringkan, dan diberi antiseptik. Kalau gigitannya sampai luka lebar segera bawa ke dokter.**(Aminah Mustari/WRM) |