|
Pengirim: Vanda
|
|
Kamis, 29 November 2007 |
|
Semenjak pagi tadi saya sudah uring-uringan di rumah. Kepala rasanya pusing berdenyut-denyut. Kopi hangat yang hanya tersisa setengah gelas pun tidak dapat menghilangkan rasa pusing itu. Saya ambil beberapa potong pancake dan disiram dengan sirup. Satu persatu saya lahap sampai habis. Tapi kepala saya tetap pusing.
Lalu saya pun ke `sink' dan mulai mencuci piring bekas sarapan pagi itu. Kemudian saya keluarkan ayam dari lemari pendingin untuk makan hari itu. Rendang sisa tadi malam hanya akan cukup untuk makan siang ini saja. Lalu terdengar bunyi `tut-tut-tut'. Ahh, nasi di rice cooker sudah matang. Saya ambil piring dan menyendok nasi. Sepotong daging rendang saya taruh di piring. Setengah jam kemudian setelah suapan terakhir masuk, rasa pusing di kepala saya pun hilang.
Sesudah tinggal lama di Amerika dan terbiasa dengan `bread' dan `bun', kebiasaan makan nasi tidak bisa hilang. Saya bisa saja makan hamburger, pizza atau pancake sampai beberapa potong. Tetapi jika nasi belum masuk mulut, maka artinya saya belum makan! Saat pertama kali datang ke Amerika, pernah saya kehabisan beras. Karena toko Asia jauh, selama dua hari saya tidak bertemu dengan nasi. Belum pernah saya merasa pusing dan lemas seperti itu. Hal ini membuat saya berfikir, apakah nasi itu addictive?
Di majalah Oprah bulan ini ada satu artikel yang menggelitik pikiran saya. Kisah seorang Korean American yang menuturkan bagaimana ibunya membuat semangkok nasi sebagai satu ritual yang wajib di rumah. Sang ibu tidak akan tenang sampai anaknya makan nasi. Ibunya bahkan emiliki cara tersendiri untuk memasak nasi dari mulai bagaimana cara mencuci beras hingga menyajikannya. Menurut istilah dia, bagi ibunya having a bowl of rice is like a religion to her.
Saya mengerti sekali perasaan ibunya. Makan nasi bukanlah hanya sekedar untuk mengenyangkan perut. Nasi adalah bagian dari sesuatu yang hilang. Nasi bukan hanya menghilangkan rasa lapar tetapi juga sebagai obat rindu kampung halaman. Nikmatnya saat setiap bulir nasi saat menyentuh lidah tak bisa dibandingkan pepperoni pizza dengan kejunya yang bertaburan.
Nasi adalah nasi. Walaupun hanya `ditemani' dengan sepotong ceplok telor dan sambal kecap, akan mengalahkan menu McDonald ala Amerika, yang disini dijual tanpa nasi. Tentu tidak semua orang akan setuju dengan saya dalam hal ini. Tapi, walaupun sudah hampir satu dasawarsa disini dan sudah mencicipi beragam jenis keju tetapi lidah saya masih lidah Indonesia. Saya tetap memilih nasi. Saya cinta nasi. (Vanda) |