|
Seorang mom dalam milis WRM melontarkan masalah yang sedang dihadapinya. Anak laki-lakinya (3,6 tahun) minta dibelikan boneka Barbie termasuk rumah dan perlengkapannya. Pada awalnya ibunya tidak terlalu mengindahkan permintaan sang anak. Tetapi anak laki-lakinya itu tetap bersikeras untuk dibelikan boneka Barbie. Mamanya sudah menawarkan pilihan lain yang lebih sesuai dengan kelaminnya, misalnya boneka binatang atau boneka superhero, namun sang anak tetap tidak mau. Perlu diketahui bahwa anak-anak sebaya di sekitar rumah sang anak kebanyakan perempuan, dan dia sering melihat teman-temannya itu bermain Barbie.
Beberepa mom memberi tanggapan dan solusi atas permasalahan tersebut. Sebagian besar berpendapat bahwa tidak perlu ada pembedaan mainan anak perempuan atau laki-laki. Bermain boneka Barbie adalah permainan peran yang pada kenyataannya dibutuhkan baik oleh anak laki-laki ataupun anak perempuan. Dengan penjelasan yang lengkap dan mendalam tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, diskusi yang intens tentang permainan yang dilakukan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Berikan juga boneka tambahan yang mewakili karakter laki-laki. Buat kisah yang menarik tentang sebuah keluarga yang utuh di mana ada laki-laki dan ada perempuan; masing-masing melakukan tugas yang sesuai. Menurut Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, Psi, guru besar Fakultas Psikologi Unpad, kelainan seksual yang terjadi ketika dewasa lebih disebabkan karena perkembangan psikoseksual yang tidak sehat ketika kecil (usia 8-12 tahun). Pada fase tersebut , seorang anak mengalami proses identifikasi karakteristik jenis kelamin dari figure yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Misalnya ibu, nenek, atau tante untuk anak perempuan, dan ayah, kakek dan om untuk anak laki-laki. Tetapi meskipun figur itu ada, tetapi ia tidak mendapatkan image yang positif dari orang yang seharusnya jadi figur, maka bisa dikatakan ia tidak mendapatkan figure yang dibutuhkannya. Jika figure yang diperlukan oleh anak untuk membentuk identifikasi dirinya secara normal tidak ada, maka di sinilah kemungkinan dapat timbul kelainan seksual kelak. Selain itu, pengalaman masa kecil yang tidak sehat, misalnya keluarga yang tidak harmonis, tidak adanya ikatan emosi dengan figure yang dibutuhkannya, sering menyaksikan pertengkaran orang tua, pernah menyaksikan atau menjadi korban penyimpangan seksual, dapat memberikan potensi penyimpangan seksual bagi dirinya. Potensi itu akan bertambah jika ia mendapatkan manifestasi dari identifikasi seksualnya, misalnya dengan keberadaan teman yang memiliki kelainan seksual dan menjadi objek pelampiasan dari penyimpangan seksualnya itu sendiri. Catatan Penyebab terjadinya kelainan seksual: 1. Keluarga yang tidak harmonis 2. Tidak adanya ikatan emosi dengan figure yang dibutuhkan 3. Sering menyaksikan pertengkaran orang tua 4. Pernah menyaksikan atau menjadi korban penyimpangan seksual, Misalnya seorang anak yang memiliki orang tua tunggal (ayah) dan seorang pembantu perempuan sejak ia kecil. Sejak usia dini, ia tidak mendapatkan contoh figure seorang perempuan dalam proses identifikasinya sebagai seorang perempuan. Ayahnya adalah figure dominan yang dengannya ia mengidentifikasikan dirinya. Pembantu perempuan sama sekali tidak membantu dirinya membentuk identifikasi diri karena tidak adanya ikatan emosional. Gejala-gejala psikologi yang timbul ketika ia dewasa adalah bahwa ia merasa memiliki penghayatan dan bayangan diri (self image) sebagai laki-laki, dominan, memiliki sikap pelindung, agresif, cenderung cuek, keras, dan posesif. Maka ia akan memiliki ketertarikan justru dengan sesama jenisnya yang memiliki karakter yang berseberangan dengan self image-nya. Contoh lainnya seorang anak laki-laki yang tinggal dengan kakek neneknya hingga usia 6 tahun. Kakek neneknya sering bertengkar di hadapannya, dan neneknyalah yang dominan. Ketika bertengkar, sang anak selalu dijauhkan dari sang kakek, selalau bersama nenek ke mana pun. Di mata sang anak, kakek tidaklah menjadi contoh baginya. Ketika tinggal bersama orang tuanya, kedua orang tuanya sangat sibuk hingga ia tidak mendapatkan ikatan emosi dengan mereka. Ibunya adalah orang yang juga dominan. Di matanya ayah adalah orang yang lemah dan ia tidak mendapatkan figure bagi identifikasi dirinya. Namun perlu diingat, tidak semua anak yang memiliki latar belakang demikian akan menjadi orang dengan kelainan homoseksual ketika dewasa kelak. Lingkungan amatlah berpengaruh terhadap potensi yang ada pada diri seseorang. Karena itu, berikanlah lingkungan yang baik pada diri anak dan keluarga kita. Hubungan yang sehat dan nilai agama yang luhur akan sangat membantu seseorang untuk menjadi manusia yang normal. Bagi orang yang berpotensi memiliki kelainan seksual (homoseksual), memang benar ia memiliki kecenderungan untuk bermain dengan permainan yang biasanya dilakukan oleh orang dengan jenis kelamin yang berbeda dengannya. Tetapi permainan yang “tidak sesuai” dengan kelaminnya bukanlah pemicu terjadinya kelainan seksual. Hubungan anak dengan orang tua, atau wali yang akan menjadi figure bagi identifikasi kelaminnya adalah hal utama yang menjadi penyebabnya.**(AminahMustari/WRM) |