|
Mengajari Anak Egois dan Mau Menang sendiri |
|
|
Pengirim: We R Mommies
|
|
Kamis, 22 November 2007 |
|
Seorang mommy yang bersama keluarga mengikuti acara HBH di Gelanggang Samudra Ancol curhat di milis. Saat itu penonton yang hadir sangat padat mengakibatkan semua pengunjung harus antri baik di arena tontonan maupun di arena bermain. dak hancur. (HI/WRM)
Nah disini masalahnya. Saat mommy menemani anak-anak untuk antri di salah satu wahana yang hanya memperbolehkan anak-anak untuk bermain, mommy melihat eorang anak yang ditemani ibunya dan malah diangkat oleh sang ibu untuk melewati pagar antrian sehingga ia dengan mudah dapat berlari mendapatkan giliran, padahal di depanya banyak anak mengantri. Mommy bersyukur, anak-anaknya tak ingin meniru cara tersebut. Ternyata setelah permainan selesai dan anak-anak mommy mencapai gilirannya untuk bermain, mommy melihat bahwa anak tersebut mendapat instruksi dari bunya untuk memutar (tanpa keluar drai barisan antrian)dan bermain kembali tanpa diketahui oleh petugas. Jadi anak itu bermain dua kali, sementara banyak orang masih mengantri untuk mendapatkan gilirannya bermain. Mommy prihatin setelah mengetahui bahwa ibu anak tsb ternyata orang yang dikenal, dan orang yang berpendidikan. Mommy menyayangkan mengapa ibu tsb mengajarkan anak untuk menjadi egois, menang sendiri dan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Akhirnya mommy menyampaikan kepada anak-anaknya bahwa hal tersebut adalah hal yang tidak baik dan tidak boleh ditiru. Tanggapan yang masuk dari mommies: 1. Menegur ibu tersebut dengan cara yang halus dan tak usah malu-malu. Ini baik untuk anak-anak agar mereka juga ngerti bahwa yang ibu tersebut lakukan kurang benar dan anak-anak mommy akan menerti bahwa mommy tidak suka dengan cara ibu tersebut. Dengan itu mommy telah memberikan pendidikan disiplin pada anak-anak juga. Banyak orang tua yang kurang berhati-hati dengan pendidikan anak-anak mereka. 2. Memang kecurangan yang ada di sekitar kita sering membuat kita "iri". Kalau kita tidak tahan, kita bisa ikutan curang dengan dalih "Habis yang lain juga gitu sih...". Menurut mommy, yang merasa titik didihnya rendah, pasti mommy akan langsung menyentil ibu ybs,"Itu namanya ngajarin anak curang, Bu." Mommy pernah membaca di majalah Ummi tentang pengalaman seorang ibu guru. Si guru memberi nilai ulangan jelek pada seorang anak karena jawabannya banyak yang salah. Keesokan harinya si anak kembali lagi ke gurunya untuk memprotes, mengapa jawaban benar kok disalahkan. Setelah diperiksa ulang, si guru kaget juga. Oh iya, mengapa jawabannya benar semua? Ternyataa...saat di rumah, ibunya menghapus jawaban si anak yang salah dan menggantinya dengan jawaban yang benar. Kemudian menyuruh si anak protes ke gurunya. Mommy terkejut! Ternyata kadang ada juga "neraka di bawah kaki ibu" (buat para anak harus hati-hati:)). Semoga kita tetap teguh berada pada "jalur" yang benar dalam mendidik anak-anak agar tidak negeri kita ti |