We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Sekolah Baru: Pengalaman Melalui Masa Transisi
Sekolah Baru: Pengalaman Melalui Masa Transisi E-mail
Pengirim: Andi Sri Suriati Amal   
Kamis, 08 November 2007


 "Aku nggak mau ke sekolah. Aku gak ngerti bu guru dan teman-teman ngomong apa."
"Sekolahnya koq lama banget," keluh Jehan seminggu pertama di negeri jiran.

Sejak kepindahan kami ke Kuala Lumpur, anak-anak memang ‚berjuang’ untuk adaptasi dengan lingkungan, sekolah dan teman barunya. Padahal kita sudah persiapkan sejak jauh-jauh hari. Lewat internet kami berusaha meminimalisir resiko shock di lingkungan baru. Kami browsing mencari sekolah yang sesuai dengan harapan dan kemampuan kami. Dari pertimbangan lokasi, fasilitas penunjang, hingga mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan eks-kul-nya.

Syukurnya, jadwal kepindahan kami bertepatan juga dengan tahun ajaran baru di sini. Bahkan masih tersisa beberapa hari libur untuk mempersiapkan seragam, tas, sepatu dan buku-buku teks.

Ada dua sekolah yang kami pertimbangkan. Sama-sama internasional dan mahal. Soal bayaran tak perlu risau. Kantor yang tanggung insya Allah. Kandidat pertama ialah sekolah Jerman (Deutsche Schule) Kuala Lumpur. Kalau di sini kemungkinan besar anak-anak bisa langsung beradaptasi, karena sistem dan bahasa pengantarnya sama dengan di Jerman sana.

Alternatifnya ialah International Islamic School (IIS). Ini sekolah milik universitas (IIUM) mulai dari TK hingga tingkat menengah atas. Dari segi lokasi sangat baik, karena dekat dari rumah dan tempat kerja. Namun tantangannya adalah bahasa. Mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai medium. Selain itu kurrikulumnya juga beda, karena ada pelajaran menghafal al-Qur’an segala.

Setelah menimbang-nimbang konsekuensi positif dan negatifnya, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan anak-anak ke IIS. Tak pelak, masalah pertama yang harus diatasi adalah bahasa. Alhamdulillah, bagi Jehan bahasa Inggris tidaklah asing sekali. Bahasa Inggris telah dipelajarinya sejak duduk di kelas tiga di Jerman. Lagi pula, baginya ini adalah bahasa asing kedua (setelah Jerman).

Setiap kali anak-anak mengeluh, kami selalu menghibur sambil meyakinkan dia pasti bisa. "Ingat dulu waktu baru datang di Jerman. Jauh lebih susah kan. Kamu betul-betul tidak mengerti sama sekali," ujarku. Belum lagi sikap orang Jerman yang cenderung menutup diri bahkan menjauhi orang asing. Bisa dimengerti mengapa setahun pertama sekolah di Jerman, Jehan menjadi pendiam dan tidak punya teman. Sampai-sampai wali kelasnya sempat bertanya apakah ia mempunyai masalah psikologis. Kami katakan kalau di rumah ia sangat ceria dan banyak bercakap maupun bercanda dengan adik-adiknya.  

Kami baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada tahun kedua. Ternyata satu tahun pertama itu bagi orang asing sepertinya adalah masa menyerap dan merekam. Baru pada tahun kedua Jehan sudah mulai aktif di kelas dan sudah punya teman dekat. Bahkan pada waktu pemilihan lomba membaca cerita, Jehan terpilih mewakili kelasnya. Suatu prestasi yang cukup membanggakan.

Mengenang masa-masa transisi yang sulit ketika di Jerman dulu menumbuhkan semangat Jehan. Pede-nya mulai kelihatan. Satu persatu masalahnya cepat teratasi. Jehan cepat bisa berkomunikasi. Hal ini memudahkannya untuk berkawan. Tidak sampai dua bulan dia sudah punya banyak teman. Mungkin karena anak-anak di sini lebih terbuka. Atau mungkin juga karena mereka merasa sama. Sama dalam seragam sekolah dan juga agama. Yang jelas akhirnya dia sudah tidak banyak mengeluh. Bahkan cendrung lebih ceria. Alhamdulillah.

Sekali lagi internet dan telpon cukup membantu. Kami berikan kesempatan kepada Jehan untuk terus berhubungan dengan kawan karibnya di Jerman. Fadhilla dan Naufal diantara teman akrabnya yang sering dia SMS. Lewat multiply-nya Jehan juga terus berkomunikasi dengan teman-temannya ini. Kami juga buatkan id khusus di Yahoo Messenger dan alamat email. Dengan ini Jehan bisa chatting dan email-emailan dengan sahabat karibnya, Arso. Tentu saja selama berhubungan dengan teman-temannya ini, Jehan menggunakan bahasa Jerman. Harapan kami, agar dia tidak lupa dengan bahasa Jerman. Akhirnya rasa rindu dengan sekolah dan teman-temannya di Jerman pun terobati.

Ada beberapa hal yang membuatnya cepat jatuh cinta dengan sekolah barunya. Di sini karena waktu sekolahnya hingga jam 3.45 sore, jadi selain snack time anak-anak juga makan siang di sekolah. Terkadang saya hanya sempat menyiapkan snack. Untuk makan siangnya Jehan perlu membelinya di kantin sekolah. Otomatis dia harus belajar belanja. Ini rupanya membuat dia excited. Pegang uang sendiri, kemudian membelanjakannya sendiri. Hal yang baru buatnya. Di jerman mana pernah begitu. Di sekolah tidak ada kantin. Kalau belanja selalu bareng Mama atau Ayah, tinggal tunjuk dan beres.

Beberapa mata pelajaran tambahan yang tidak dia dapatkan dulu di Jerman membuatnya serasa menemukan sesuatu yang baru. Karena itu waktu sekolah yang panjang pun tidak pernah dia persoalkan lagi. Kukatakan padanya bahwa waktu sekolahnya perlu lebih lama agar dia bisa belajar banyak hal. Dan itu lebih bagus buatnya.

Pelajaran tambahan yang kelihatannya Jehan nikmati adalah pelajaran menghafal Qur’an. Persaingan dengan teman-teman membuatnya cepat terpacu ingin bisa menghafal lebih banyak. Alhamdulillah, hal ini yang membuat kami tidak menyesal memilih sekolah ini untuknya.

Akhirnya, satu persatu masalah transisi ini pun teratasi dalam waktu yang relatif lebih cepat dari dugaan saya. Alhamdulillah, semuanya berjalan normal kembali. Satu benang kusut di kepalaku terurai sudah. Pfffuuuuhhh... Saya pun sedikit lega. Alhamdulillah...

Kesimpulan dan tips :

• Masa transisi tidak perlu ditakuti, jalani dan nikmati. Karena masa ini hanya perlu proses.
• Libatkan anak dalam pemilihan sekolah barunya. Dengarkan pandangan dan harapan-harapannya tentang sekolah barunya. Meskipun pada akhirnya keputusan tetap ada di tangan kita.
• Jika memungkinkan, jauh-jauh hari anak diajak untuk mengunjungi calon sekolah baru ini. Lebih menguntungkan lagi jika sekolah tersebut punya website. Dari sini kita bisa mengenalkan anak pada banyak hal tentang calon sekolah barunya.
• Setelah membuat peninjauan terhadap calon sekolah baru, bincangkan dengan anak masalah-masalah yang mungkin akan dia hadapi dan alternative pemecahan atas masalah tersebut.
• Temukan hal-hal baru sebanyak mungkin yang kita anggap beda dan punya nilai positif yang ada di sekolah barunya. Gunakan ini untuk memanas-manasi si anak agar cepat jatuh cinta dengan sekolah barunya.
• Gunakan pengalaman masa silam untuk membangkitkan semangatnya. Termasuk pengalaman ortunya sendiri ketika memasuki sekolah baru.
• Jangan lupa bawa bersama foto-foto, alamat, no telpon, alamat email atau apa saja yang bisa membantu anak jika sewaktu-waktu rindu atau ingin menghubungi sahabat lamanya.
• Jika melibatkan bahasa asing, masa transisi mungkin memerlukan waktu beberapa bulan.
• Harus disadari bahwa meskipun sudah dipersiapkan sebaik mungkin, akan ada saja masalah yang dapat membuat anak mengeluh. Siap-siap saja dan segera bantu anak menemukan jawaban atas masalahnya.
• Siapkan waktu di hari-hari atau minggu-minggu pertama anak mulai masuk sekolah. Karena mungkin saja anak ingin ditemani atau sering dikunjungi.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement