We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Mengail Cinta dengan Mengawal Marah
Mengail Cinta dengan Mengawal Marah E-mail
Pengirim: Andi Sri Suriati Amal   
Kamis, 11 Oktober 2007


 Tidak semua orang mampu menahan marah. Tak heran jika Rasulullah SAW mengatakan orang kuat itu bukanlah orang yang kuat berkelahi tetapi orang yang kuat menahan diri ketika marah. Pernah seorang lelaki meminta nasehat kepada beliau, maka dipesannya: “Jangan engkau marah”. Tiga kali orang itu mengulang dan tiga kali pula Rasulullah memberikan pesan yang sama: “Jangan engkau marah”.

Milis WRM (We aRe Mommies) baru-baru ini juga mendiskusikan soal ini. Mayoritas setuju andaikata sabar itu bisa dibeli niscaya mereka semua mau membelinya. Tapi nyatanya sabar memang tidak dijual di toko mana pun di dunia ini. Sabar menahan marah yang saya maksud di sini ialah sabar menghadapi tingkah anak-anak.   

Biasanya, kata-kata yang paling sering terlontar ketika melihat anak bertengkar sama adik atau kakaknya adalah “Du must Geduld haben” (kamu harus sabar). Tapi justru inilah yang kadang absent dari diri sendiri. Akhirnya menyesal. Ah, kenapa penyesalan selalu datang kemudian.

Sebenarnya sabar itu bukan bawaan dari lahir (nature) tetapi hasil pembelajaran dan pemupukan (nurture). Karena itu setiap orang pada prinsipnya mampu dan bisa menjadi penyabar asalkan mau dan tahu caranya.

Naomi Aldort dalam bukunya, Raising Our Children, Raising Ourselves, memberikan 10 tips untuk kita.

Pertama, terapkan formula “SALVE”, kependekan dari Separate yourself, Attention to the child, Listen, Validate, Empower. Berikut ini penjabarannya:

S-(Separate yourself). Pisahkan diri anda dari gumpalan emosi dengan cara berbicara dalam hati dan pikiran (silent self-talk). Begitu anak bertingkah, biasanya kita otomatis bereaksi dengan mulut. Namun kata-kata yang terlontar seringkali bukan kata-kata yang sebenarnya kita inginkan. Menurut Naomi, kata-kata spontan atau reaksi pertama itu semestinya diucapkan dalam hati saja, jangan langsung dikeluarkan, karena pasti akan melukai hati anak.

A-(Attention)
. Setelah berhasil menguasai diri dan meluahkan segalanya dalam kepala (tanpa melakukan apa-apa ke anak), sekarang tumpukan perhatian anda kepada si anak.

L-(Listen)
. Dengarkan apa yang anak itu katakan, pahami apa ia maksudkan dengan tingkahnya itu. Sambil kontak mata, tanyakan apa yang ia kehendaki dari anda.

V-(Validate)
. Nyatakan bahwa anda memahami maksudnya dan sependapat dengan jalan pikirannya. Katakan ini tanpa mendramatisir atau menambahkan persepsi kita. Misalnya, anak mengamuk karena permennya habis, padahal ia masih mau. Jika anda melakukan validasi, maka anda katakan: “Kamu mau lagi permen itu ya. Mama tahu kamu suka sekali permen itu. Tapi permen kesukaanmu itu sekarang sudah habis.”

E-(Empower)
. Bantulah anak untuk bangkit dari perasaan kecewanya dan mengatasi masalahnya dengan mencarikan jalan keluar dan memberikan kepercayaan.

Kedua, berpikir sebelum bertindak. Luahkan semua unek-unek anda di kepala saja (self talk). Diam sejenak dan bayangkan diri anda sedang menjerit, memukul, mencubit atau apa saja yang ingin anda lakukan. Biarkan kecamuk itu berlangsung bagai film laga dalam diri anda. Anda akan merasa sangat bahagia jika tidak mengikuti semua itu.

Ketiga
, jangan keluarkan kata-kata pertama yang ada di kepala anda. Anda bisa minta tolong ke anak atau pasangan untuk mengingatkan, ‘Tenang dulu, Mom’, atau ‘Pikir dulu baik-baik, Pa’.

Keempat, kuasai emosi anda kemudian lepaskan agar anda dapat mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada anak. Tindakan anak hanya menstimulasi bukan penyebab kemarahan anda. Karenanya, anak-anak tidak bertanggung jawab atas emosi anda. Mereka melakukan aksi dan otak anda segera merespon untuk bertindak atau berkata-kata. Respon ini terjadi secara spontan, tapi anda masih punya pilihan apakah akan mengikuti atau menolak perintahnya. Ikuti dan lepaskan secara bebas tapi hanya sebatas di kepala saja. Strategi ini hanya memerlukan sedikit waktu tapi akan mengembalikan kekuatan dan kasih-sayang anda. Setelah yang tersisa tinggal kasih sayang saja, selanjutnya arahkan perhatian sepenuhnya ke anak.

Kelima, ubah perilaku anda dari kebiasaan menyangkal dan mementahkan (negating) kepada kebiasaan mengiyakan dan membenarkan (validating). Contohnya, saat asyik memasak, tiba-tiba anak naik dan berdiri di atas kursi tepat di depan meja makan dan menuang sendiri susu ke dalam gelas. Anak itu tidak bermaksud mengganggu ibunya yang tengah memasak. Meski gelas itu sudah penuh, anak terus asyik menuangkan susu sampai habis dan tumpah membasahi meja makan dan lantai. Anda yang meyaksikan itu ingin menjerit, “Aduuuh … tumpah dah semuanya! Kenapa nggak bilang sama mama kalau mau minum susu?!” Ini reaksi negatif. Hasilnya, anak jadi kaget, cemberut, sedih bahkan bisa menangis. Seharusnya anda menarik nafas panjang dulu, kemudian berkata: “Oh, kamu mau susu yang banyak ya? Kamu mau belajar menuang sendiri ya?” Anak menjawab: “Iya, tapi susunya jadi tumpah”. “Mama juga dulu waktu kecil begitu. Tapi nenek hanya tersenyum dan memberikan kain lap dan mengajari mama bagaimana membersihkannya kembali.”  Mendengar reaksi validatif ini, anak dengan riang gembira lantas berlari mengambil kain lap dan membersihkannya. Happy ending.

Keenam, segera ubah tindakan anda begitu anda berhasil menguasai diri. Tidak ada kata terlambat untuk mengubah kebiasaan yang kurang baik. Jangan segan-segan berhenti begitu anda menyadari tindakan anda salah. Misalnya, sudah terlanjur menjerit, “Aduh Iffah, tumpah dah semuanya”. Tapi ups… Kembali keposisi semula, tarik nafas dan keluarkan kata-kata yang manis.

Ketujuh, sadari bahwa perubahan ini memakan waktu dan memerlukan pengulangan untuk menjadikannya suatu kebiasaan.

Kedelapan, biarkan anak-anak tahu bahwa anda baru dalam hal ini dan anda sedang belajar membangun karakter baru. Dalam keadaan tenang dan santai anda bisa memberi tahu anak-anak bahwa anda sesungguhnya tidak suka marah dan anda ingin mengubah kebiasaan itu. Minta kerja sama dari anak untuk, misalnya, mengingatkan anda ketika melihat keadaan yang mungkin akan memicu kemarahan anda.

Kesembilan
, mulai dari diri sendiri. “Teach but yourself first”. Jika anda ingin anak-anak memiliki sifat lemah lembut, tunjukkan pada mereka contohnya pada diri anda.

Kesepuluh, jadilah tuan bagi diri anda sendiri. Tumbuhkan selalu kebaikan dan belajarlah memberi kenangan indah kepada anak-anak anda. Bayangkan suatu saat anak-anak akan bercerita tentang ibu atau ayah mereka. Anda tentu ingin mereka bercerita yang indah-indah, bukan?

Akhirnya, patut disimak peringatan Nabi Muhammad saw yang artinya kira-kira demikian: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah, yaitu sifat lemah lembut (sabar) dan sifat tenang (tidak tergesa-gesa).” (HR. Muslim)

Frankfurt am Main, 25 Januari 2007

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement