|
Pada cerita ‘Lorong Waktu’ yang kesatu, Nana masuk ke rumah neneknya dan menemukan sebuah lorong. Ternyata lorong itu adalah Lorong Waktu yang bisa membawa Nana pergi ke mana-mana!
Beberapa tahun kemudian, Nana sudah tumbuh besar dan berumur limabelas tahun. Ia ingin bersekolah di Paris. “Bu, aku sudah memesan tiket pesawat untuk ke Paris besok,” katanya pada suatu malam. “Adakah sekolah yang menerimamu nak?” Tanya ibu. “Sudah bu. Lagipula aku sudah bersiap-siap,” jawabnya sopan. “Baiklah. Kalau begitu ibu izinkan.” Nana sebetulnya sudah memiliki seorang adik perempuan yang pintar bernama Klara. Klara berumur delapan tahun. ”Kak, sebelum kakak pergi, adakah rahasia yang penting? Beritahu aku kak! Please…..” “Oh tentu ada Klaraku,” jawab Nana. “Apa kak, apa?” “Lorong Waktu,” bisik Nana. Nana langsung pergi ke kamarnya. “Lorong Waktu?” Apa ya?” dalam hati ia bertanya-tanya. Esokpun tiba. Nana berangkat ke airport untuk pergi ke Paris. Klara dititipkan di rumah nenek, karena ibu akan pergi ke Bogor satu hari satu malam. Di rumah nenek, Klara harus tidur sendiri di kamar yang berada di sebelah kamar cucian, karena di lantai dua sudah tidak ada lagi kamar yang tersisa. Semua kamar tidur sudah penuh oleh anak-anak yatim piatu. Memang sekarang nenek merawat anak-anak yatim piatu karena nenek melihat banyak panti asuhan yang tak cukup untuk menampung mereka, karena rumah nenek kamarnya lumayan banyak. “Klara, sekarang kau tak boleh kemana-mana. Kau harus tetap di dalam kamar ini. Nenek mau mengurus anak-anak yatim piatu dulu,” kata nenek pada Klara. “Kenapa nenek bersusahpayah bekerja sendirian? Aku sudah besar dan bisa membantu kok,” jawab Klara. “Oh Klara. Kau masih terlalu kecil untuk membantuku. Sekarang ayo, ayo..cepat! Ayo Klara!” perintah nenek sambil merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Nenek lalu langsung menutup pintu dan menguncinya. Memang sekarang sikap nenek agak memburuk, entah kenapa. “Uh sebal. Aku terkunci di sini. Ibu pergi. Kakak pergi. Nenek sibuk banyak urusan. Uh! Benar-benar menjengkelkan!” gerutu Klara sedih. Ia duduk di samping tempat tidur dan tak sengaja kaki kanannya menendang sebuah bola kecil. Bola itu melayang dan membentur sudut tembok kamar. Ajaib! Dinding tiba-tiba terbuka lebar. “Oh, ada sesuatu yang tersembunyi di sini…” Penuh rasa ingin tahu Klara berjalan mengendap-endap masuk ke balik dinding. Ternyata sebuah lorong yang berujung di sebuah kamar berpintu. Sambil menahan rasa takutnya ia buka pintunya. O ternyata bukan kamar yang ada di baliknya, tapi sebuah lorong lagi! “Lorong, hmmmm….” Klara melihat sebuah tombol merah di samping kanan. “Coba kutekan ya,” katanya dalam hati. “Tet….” Oh, mendadak seberkas kabut pelangi, persis seperti yang dialami oleh kakaknya dulu, menutupi penglihatannya. “Aduh, kabutnya tebal sekali. Menyebalkan!” katanya kesal. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, mencoba mengusir kabut pelangi yang begitu tebal dan serasa lengket di kedua bola matanya. Tapi usahanya sia-sia saja, kabut tetap menghalangi pandangannya. Beberapa saat kemudian kabut berangsur-angsur menipis dan akhirnya lenyap. “Uh aku tak mau kemari lagi,” putusnya. Ia berjalan balik arah, keluar lorong. Tapi….wow…benar-benar ajaib! Tahu-tahu ia sudah duduk terikat seat-belt di dalam sebuah pesawat yang sedang terbang mengudara di angkasa. Entah tujuan kemana. “Wah…menakjubkan!” “Eh Klara! Kok kamu bisa berada di sini sih?” terdengar suara kakaknya Nana yang ternyata duduk di sebelahnya. Mereka berdua sama-sama terkejut. Klara segera menceritakan pengalamannya. “Wah dulu juga kakak pernah mengalami kejadian seperti itu! Ayo, sama-sama kita temukan lorong itu lagi,” ajak Nana bersemangat. “Memang bagaimana caranya?” Kakaknya menggeleng, tidak tahu juga caranya. Sedang mereka berpikir, seorang pramugari datang membawa sebaki minuman putih. Ia menawarkan kepada Nana dan juga Klara. “Apakah kalian mau?” tanyanya ramah. “Tentu,” jawab mereka serempak. Baru saja mereka mau meneguk… tiba-tiba mereka berdua sudah berada di lorong ajaib! “Nah ini dia yang namanya Lorong Waktu,” kata Nana senang. Ia lalu memencet tombol merah dan seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, kabut pelangi segera menutupi pandangan mereka. Saat kabut lenyap, ”Wah…ladang jagung?” Klara kebingungan. “Ha..ha..” Nana tertawa kecil. “Ayo kita temukan kakek petani,” ajaknya girang sambil menarik tangan adiknya dan berlari. Bukannya kakek yang dulu pernah Nana temui, tetapi mereka melihat seorang gadis berumur sekitar dua puluh satu tahun sedang menyiram tanah yang nampaknya baru saja ditanami butiran jagung. “Hei…Siapa kalian?” tanya perempuan itu curiga. “Namaku Klara.” “Aku Nana. Kau siapa?” “Aku Farly Sakina. Panggil saja aku Lysa.” “Kami sedang mencari seorang kakek petani yang biasanya merawat ladang jagung ini,” Nana menjelaskan tujuan mereka dengan sopan. “Ikuti aku, teman,” ajak Lysa. Bersama-sama mereka berjalan dan sampai di depan sebuah rumah. “Klara, Nana. Ini dulunya rumah kakek penjaga ladang jagung. Sekarang kakek sudah tidak ada lagi.” “Kakek? Kakek siapa sih?” Klara bertanya-tanya. “Ssst….nanti kakak jelaskan,” bisik Nana. “Kenapa kita tak masuk saja dan menemuinya?” ajak Nana. “Yang aku tahu ceritanya seperti begini: Dulu ia pernah bertemu dengan seorang gadis kecil misterius di ladang ini pada saat ia sedang bekerja. Tetapi anak itu lalu lenyap tiba-tiba dari hadapannya. Kakek lalu langsung menaruh TIGA KERANJANG PENUH JAGUNG ke truknya, mengunci semua pintu rumahnya dan langsung pergi entah kemana. Sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana ia berada, apakah ia masih hidup atau sudah tiada. Aku adalah anak dari temannya. Ia berpesan kepadaku untuk mengurus ladang ini,” jelas Lysa panjang lebar. “Oh begitu rupanya,” kata Nana. “Boleh kucicipi setangkai jagungnya?” tanya Klara yang ternyata kelaparan. Lysa tersenyum dan membuka sebuah box kecil di sampingnya. Ia lalu mengeluarkan….jagung rebus!! Hmmm…Sedap benar….!! “Ini untuk kalian. Makanlah.” Disodorkannya dua tangkai jagung rebus. “Terimakasih.” Nana dan Klara segera berpamitan dan duduk di atas sebuah batu besar sambil menikmati jagung rebus yang manis. “Dik, dulu kakak pernah sendirian berpetualang di Lorong Waktu. Aku pernah juga datang ke tempat ini. Gadis kecil yang diceritakan oleh Lysa itu adalah aku waktu kecil dulu,” jelas Nana pada adiknya. “Oh ya? Pantas saja kakak tahu semua.” Belum habis jagung mereka nikmati, tiba-tiba mereka sudah berada lagi di dalam Lorong Waktu dan jagung rebus di tangan mereka seketika lenyap! “Wah benar-benar seru! Yuk….” ajak Klara penuh semangat. “Tidak. Kita pulang saja,” putus kakaknya. Dengan menggandeng tangan adiknya, ia menuju ke pintu keluar dan melihat lorong. “Hah? Kok lorong lagi? Bukannya tangga?” “Hi…hi…Aku tadi masuk ke Lorong Waktunya memang benar lewat jalan sini kak. Keluar dari lorong ini,” terang adiknya. “Dulu aku tidak begini. Dulu kakak disuruh duduk menunggu di kamar cucian. Karena bosan kakak pergi berjalan-jalan sampai menemukan sebuah tangga di mana di ujungnya ada pintu. Di balik pintu itulah kakak masuk ke Lorong Waktu.” “Hmm…mungkin memang ada dua jalan masuk,” pikir Klara penasaran. Mereka berdua segera menutup pintu dan berjalan pelan-pelan menjauhinya. Ternyata benar! Di sisi yang berhadapan dengan pintu Lorong, terlihat sebuah pintu lain! “Yuk, kita coba. Mungkin ini pintu yang kakak maksud.” Nana menggelengkan kepalanya. “Klara, kakak pergi ke Paris dulu ya?” pamitnya. Klara mengangguk sambil meneteskan airmata. Sedih. “Tidak apa-apa. Kau sudah besar. Aku bangga padamu karena kau pemberani, persis seperti aku dulu. Kalau kau kangen padaku, minta izinlah pada ibu untuk diantarkan ke rumah nenek. Masuklah ke Lorong Waktu rahasia kita berdua ini, mungkin…ya, siapa tahu Lorong ini tahu isi hatimu dan berbaik hati membawamu ke sekolahku.” Mereka berpelukan erat. “Sampai jumpa kak,” bisik Klara sedih sambil menutup pintu. Ia cepat berlari melewati lorong kedua yang berujung di dalam kamarnya. Hebat! Saat ia menoleh ke belakang, lorong tersembunyi segera menutup kembali secara otomatis. “Klara…..,” tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggil. “Ibu………….” teriak Klara terkejut campur senang. Mereka berpelukan. “Ibu tidak jadi ke Bogor nak, karena di sana semua hotel penuh. Jadi ibu hanya belanja di mini market saja. Yuk, kita pulang. Pamitan dulu sama nenek.” Mau tahu cerita selanjutnya? Ikuti terus petualangan Klara dan Nana dalam cerita Lorong Waktu 3! Ramya Sukardi 9 November 2006 Tgl lahir 19 Mei 1998 |