|
Di sebuah rumah, tinggallah seorang anak perempuan yang bernama Klen. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Rambutnya suka dikuncir dua dan ia gemar mengenakan atasan kaus lengan pendek, rok mini dan kaus kaki biru kesayangannya.
Pada suatu hari, Klen pergi ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Oh ya, Klen sering dipanggil Happy Girl, karena ia selalu senang. Dia berjalan kaki cukup jauh…..sampai melihat sebuah pondok kecil terbuat hanya dari jerami. Penasaran dan penuh rasa ingin tahu, dengan berhati-hati Klen masuk ke pondok itu.
“Ada orang di dalam?” tanyanya. “Hi…hi…,” muncullah seorang anak perempuan berambut panjang dan mengenakan rok. “Siapa kau?” tanya si anak perempuan dengan ramah. Aku Klen, atau Happy Girl. Kamu siapa?” “Namaku Waryn. Aku anak seorang profesor. Ayah dan ibuku sudah tiada. Saat mereka masih hidup, aku diajarkan beberapa percobaan ramu-ramuan yang menarik. Pondok ini adalah rumahku, aku sendiri yang buat. Aku biasa hidup sendiri dan tak perlu siapapun. Dengan buku-buku peninggalan orangtuaku, setiap hari kerjaku berlatih atau menciptakan ramuan. Sekarang aku sedang mempelajari sebuah ramuan baru untuk pergi ke masa depan. “Wow! Benarkah? Sungguh?” tanya Klen takjub. “Benar. Aku jujur kok. Maukah kau berteman denganku Klen?” “Tentu mau. Ayo cepat!” “Ayo apa?” “Ayo kita buat ramuan untuk masa depan itu..” ajak Happy Girl penuh semangat. Waryn mengangguk setuju. Ia langsung mengambil sebuah buku tebal dari rak kayu dan mencari-cari lembar halaman yang tepat. “Hmmm…menurut buku ini, kita membutuhkan…serbuk bintang..” ucap Waryn. “Apakah kau punya?” tanya Klen. Waryn langsung mengangguk. Dengan cepat ia mengambil sebuah botol berisi serbuk bintang. “Sebaiknya kau yang baca saja, aku yang akan mengambil bahan-bahan kebutuhannya. Setuju tidak?” usul Waryn. “OK, setuju.”
Klen mulai membaca buku tebal itu. “Bahan kedua, kita butuh air putih yang dicampur buah. Buah apa ya? Tidak ditulis nih di sini…” “Iya, maksudnya semua buah yang ada di dunia. Aku punya kok! Tenang saja. Tak usah panik..” “Wah rasanya apa?” tany Klen membayangkan. “Pastinya tidak enak..” sahut Waryn sambil mengambil sebuah mangkuk biru berisi air putih yang telah dicampur oleh sari buah sedunia.
“Menurut buku ini, yang ketiga, kita membutuhkan…mmmm….jam tangan? Wah, kok aneh ya?” Klen menggaruk-garuk kepalanya, bingung. Waryn tertawa kecil. Ia mengambil jam tangan di dalam sebuah laci kecil. “Selanjutnya adalah tiga liter air panas.” “Sepertinya aku belum memasak air. Aku tidak punya air panas.” “Benarkah? Kau tidak punya?” tanya Klen tak percaya. “Ya benar. Aku tak punya air panas.” “Kalau begitu, biar aku yang akan mencarinya. Kau tunggu saja di sini ya!” Klen langsung pulang ke rumahnya untuk meminta air panas kepada orangtuanya.
“Terimakasih,” ujar Klen sesudah mendapatkan botol dari ibunya yang berisi tiga liter air panas. Ia lalu berjalan lagi menuju pondok Waryn. Saat masuk ke dalam, lho, apa yang ia lihat? Waryn terbaring pingsan di lantai! “Waryn….Waryn…. apa yang telah terjadi? Kenapa kau pingsan? Warynnn…………” tanya Klen panik.
Ingin tahu lanjutannya? Bacalah cerpen yang berjudul ‘Ramuan Ajaib (2). Jika kalian sudah mengumpulkan semua cerita lengkap dari seri ‘Ramuan Ajaib’, baca ulang lagi ya ceritanya! Seru lho!!
Ramya Sukardi Tgl lahir: 19 Mei 1998
|