|
Mempunyai anak laki-laki sering berkonotasi dengan perkelahian. Seperti yang dialami oleh seorang Mommy yang curhat di milis, setelah anak laki-lakinya menangis pulang karena anak tetangga yang bermain basket bersamanya bermain kasar. Selidik punya selidik ternyata anak tetangga yang bermain kasar tersebut sudah seringkali melakukan hal tersebut dan membuat hati anak Mommy menjadi kecut. Mendengar pengakuan sang anak, Mommy terikut emosi dan menasehi anak agar melawan balik bila disakiti. Seminggu telah berlalu, kini Mommy sudah mengendapkan perasaannya. Namun muncul kekhawatiran, benarkah tindakan yang telah diambil dengan menyuruh anak lelakinya berkelahi saja bila disakiti? Jangan-jangan anak jadi berubah temperamen yang tadinya penuh empati dan kasih sayang menjadi gampang memukul/menyakiti orang. Saran-saran yang masuk dari para Mommies:
1. Didiamkan dan segera berlalu. Saran ini masuk dari seorang Mommy yang mengakui kalau anaknya termasuk anak yang suka memukul. Karena kecenderungan anaknya yang agresif, Mommy selalu menyarankan agar anaknya jangan menyakiti anak lain. Namun belakangan anak Mommy malah mengeluh dirinya yang dipukul oleh anak lain di sekolah. Karena khawatir agresifitas anak akan berkembang bila disarankan untuk membalas, Mommy selalu menyarankan kepada anaknya untukmendiamkan saja dan tak membalas, sedapat mungkin menghindari jangan sampai dipukul atau disakiti.
Mommy mengakui kadangkala Mommy memukul anak bila sedang emosi atau sedang marah kepada anak. 2. Cek langsung ke lapangan, apa kejadian sebenarnya. Mommy yang punya pengalaman serupa dengan Mommy yang curhat, ikut sharing cerita ternyata cerita anak tidak bisa langsung kita telan bulat-bulat, harus kita perjelas duduk persoalannya. Seperti yang terjadi saat anak Mommy menangis pulang dan mengatakan bahwa teman bermainnya menyakitinya. Anak Mommy bahkan meminta Mommy untuk ‘membalaskan sakitnya’ dengan istilah yang ‘mengejutkan’ Mommy, karena ia meminta Mommynya untuk memarahi, memukul dan melakukan tindakan kearah kekerasan lainnya kepada anak yang menyakiti. Usut punya usut ternyata kejadiannya tak disengaja, dan dapat diatasi kesalahpahaman ini. Timbul pertanyaan Mommy juga bagaimana mengatasi agar anak tak mendendam? 3. Balas sekali saja, tapi lebih baik kamu maafkan. Demikian saran Mommy kepada anak-anak lelakinya. Menurut Mommy, anak-anak kan masih kecil, jadi karakter dan kepribadiannya masih berkembang. Karena itu lebih baik menyelusuri kejadian yang sebenarnya. Kemudian buka komunikasi yang akrab dengan anak sambil mengingatkan bahwa menyakiti anak lain itu bukan perbuatan yang baik. Membalas adalah tindakan terakhir, namun lebih baik bila memaafkan. Ini terbukti kepada anak Mommy yang tadinya disakiti oleh temannya di TK, ternyata setelah masuk SD perangai anak ‘nakal’ tersebut berubah menjadi baik dan malah menjadi teman karib anaknya. 4. Sesuaikan dengan sifat dan pribadi anak. Mommy yang urun saran menyampaikan pengalaman keluarga/orang tuanya di dalam mendidik anak. Mommy mempunyai dua saudara lakilaki yang berbeda sifat dan perangai. Kakak yang pertama orangnya terbuka dan akan langsung melawan bila disakiti, sementara kakak nomor dua sifatnya tertutup dan akan diam saja bila disakiti. Orang tua Mommy memberikan saran yang berbeda kepada kedua anak lelakinya: - Kepada anak yang tak takut membalas, disarankan untuk bersabar, tak melawan dan memaafkan. - Kepada anak yang diam saja bila disakiti, disarankan untuk membalas dan tak takut kepada orang yang menyakitinya. Dengan menyeimbangkan karakter dan sifat anak, terbukti anak yang cenderung agresif bisa mempunyai kontrol diri untuk tak melampiaskan keberaniannya pada tindakan kekerasan. Sebaliknya dengan membangkitkan rasa percaya diri anak yang cenderung diam dan tak membalas bila disakiti, anak tumbuh besar menjadi tak penakut lagi. (HI/WRM)
|