We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Physical and Play Quotient
Physical and Play Quotient E-mail
Pengirim: Eva Nur Afiati   
Rabu, 12 September 2007


 Sebuah penelitian untuk mengetahui skor Physical and Play Quotient (PQ) yang melibatkan anak-anak di Indonesia, Thailand, Vietnam dan Jepang menunjukkan bahwa anak-anak Jepang unggul dalam hal kemampuan bermain olah raga. Anak-anak Thailand mendapat skor tertinggi untuk ketrampilan dan gerak sehari-hari. Bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Dibanding tiga negara lain, Indonesia mendapat skor yang terendah untuk kemampuan yang diujikan.


Penelitian itu juga menunjukkan bahwa anak-anak Thailand dan Jepang menghabiskan waktu yang seimbang antara belajar, berolahraga dan santai pada hari kerja dan akhir pekan. Sedangkan anak-anak Indonesia menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar dan kegiatan seperti menonton TV dan bermain game daripada berolahraga.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Chulalangkorn, Thailand itu tak bisa disamaratakan untuk seluruh anak-anak Indonesia. Objek penelitiannya adalah anak-anak di Jakarta dan Surabaya, terutama kalangan menengah ke atas. Meski pun demikian, penelitian ini cukup penting bagi para orang tua untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bermain bagi anak-anak.

Tidak mengherankan jika anak-anak Jepang dan Thailand memperoleh skor PQ yang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian, hal itu merupakan konsekuensi dari kegiatan bermain di luar dan olahraga, juga keterlibatan mereka dalam melakukan tugas di rumah. Orang tua mereka memberikan keleluasaan pada anak untuk melakukan kegiatan itu.

Bila diperhatikan lebih lanjut, keadaan lingkungan di Jepang amat mendukung anak-anak untuk leluasa bermain. Mudah saja bagi kita untuk menemukan taman bermain dengan area yang cukup luas dan nyaman untuk anak-anak bermain. Komplek perumahan umumnya dilengkapi dengan taman bermain dengan perosotan, ayunan dan jungkat jungkit. Tidak sulit pula untuk menemukan lapangan olah raga. Sekolah dasar biasanya dilengkapi dengan fasilitas olahraga seperti lapangan yang luas atau kolam renang.
 
Penelitian yang sama menunjukkan bahwa orang tua berperan penting dalam mengembangkan PQ anak. Tampak bahwa orang tua Indonesia cenderung melarang anak-anaknya bermain, apalagi hingga membuat baju mereka kotor. Tidak seperti orang tua di tiga negara lain, orang tua Indonesia kurang membatasi waktu anak bermain game.

Apakah sebenarnya pengertian physical and play quotient (PQ) itu? Dalam arti yang luas, PQ berarti kemampuan anak untuk bermain dengan cara yang membantunya mencapai potensi fisik, kreatif dan intelektualnya. Pada tes PQ, dilakukan pengujian dengan melihat gerakan fisik. Gerakan fisik tersebut di antaranya adalah kemampuan mengontrol gerakan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan mengontrol gerakan dan bertindak spontan, kemampuan memainkan olah raga permainan dan kemampuan mengontrol ketrampilan motorik umum.

Bermain sesuai pengertian PQ adalah bermain fisik dan merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh indera. Bermain juga harus menyenangkan. Meski pun penting, tidaklah tepat untuk memaksakan anak bermain suatu permainan tertentu. Jika anak tak suka sepak bola, sebaiknya tidak memaksanya untuk bermain sepak bola.

Menurut Dr Mayke, psikolog anak dari Universitas Indonesia, selain manfaat bagi kesehatan, bermain fisik juga memiliki manfaat lain. Permainan yang melibatkan kelompok akan meningkatkan kemampuan anak bersosialisasi. Kemampuan perseptual anak juga terasah. Anak belajar ketajaman melakukan pengamatan visual. Selain itu, anak juga belajar untuk menyelesaikan masalah. Yang tidak kalah penting, bermain juga mengasah kepekaan anak terhadap lingkungan.
 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement