|
Pengirim: Wiwit Wijayanti
|
|
Rabu, 12 September 2007 |
|
Seringkali saya mendapatkan pertanyaan dari orang-orang yang mendengar putri kami berbicara “Kok putri-nya baru 2 tahun bicaranya sudah lancar? kosakata-nya juga banyak. Bagaimana mengajari-nya?” Penyebab utamanya tentu karena kebetulan putri kami diberi kemampuan verbal yang baik oleh Tuhan. Bukankah setiap anak mempunyai keistimewaan masing-masing?
Sedangkan cara yang kami lakukan untuk mendukung kemampuannya itu adalah sebagai berikut :
1.Mengajak Berbicara
Sejak putri kami lahir, kami selalu berusaha mengajaknya berbicara tentang apa saja yang kami lakukan bersama. Saat makan kami bercerita tentang apa yang dia makan, alat apa yang digunakan dan tentang bagaimana pentingnya makan. Saat berbelanja kami tunjukkan nama-nama sayuran dan buah yang kami beli. Saat mandi kami beri tahu dia nama-nama organ tubuhnya. Kami tidak pernah berpikir “Ah..nanti kalau dia diajak bicara ini juga dia belum paham…” justru dengan diajak berbicara itulah anak akan mengerti banyak hal. Dan jangan lupa, berbicara lah dengan cara yang sebenarnya, jangan dibuat cadel dengan alasan “Kan anak-anak bicaranya seperti itu” Karena dengan kita berbicara cadel anak tidak tahu bagaimana seharusnya kata-kata itu diucapkan dengan benar
2.Anak Bercerita
Setiap kali setelah beraktifitas, kami selalu meminta putri kami bercerita tentang apa yang dia lakukan dan apa yang dia rasakan. Sebisa-bisanya dia akan bercerita dan kami berusaha mendengarkan dengan baik. Kemudian memancingnya bercerita lebih banyak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan sembari mengucapkan kembali dengan benar kata-kata yang tadi dia ucapkan dengan belum sempurna/tidak benar. Dulu, kerap kali kami juga tidak paham dengan apa yang diceritakannya, tapi tak apa, itu adalah proses yang wajar.
3.Membaca dan Bercerita
Dengan banyak membaca (dibacakan) buku, kosakata anak akan bertambah banyak dan mereka akan belajar merangkai kata menjadi kalimat yang baik. Kami selalu mengusahakan minimal setiap kali putri kami akan tidur kami bacakan buku. Kebetulan kami termasuk orang tua yang cukup kreatif dalam bercerita/mendongeng, sehingga kami menggunakan bantuan buku sebagai sumber cerita. Selain juga mempergunakan bantuan gambar-gambar di buku itu untuk menjelaskan isi ceritanya.
4. Memilih Tontonan
Kami cukup selektif dalam memilih tontonan bagi putri kami. Kami menghindari cerita dengan tokoh-tokoh yang berbicara dengan tidak jelas seperti Donald Bebek yang bicaranya hanya ber-kwek-kwek saja. Film dengan bahasa dan pilihan kata yang kurang bagus seperti Sponge Bob Square Pants juga kami hindari. Kami lebih suka menyuguhkan Dora The Explorer, Strawberry Shortcake atau Backyardigans sebagai tontonan putri kami karena pilihan bahasanya bagus dan pengucapannya jelas.
Semoga tips sederhana ini bermanfaat. (Wiwit Wijayanti) |