We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Kesehatan Kita arrow Hadapi Kemarahan Anda
Hadapi Kemarahan Anda E-mail
Pengirim: Aminah Mustari   
Rabu, 05 September 2007

 Perasaan marah adalah sebuah hal yang pasti terdapat dalam diri manusia. Jika suatu saat kita menjadi marah tandanya kita manusia normal. Seorang anak yang baru belajar berjalan merasa marah ketika ia berkali-kali jatuh. Temper tantrum terjadi pada anak dua tahun saat ibunya mencoba menyelamatkan sebuah vas dari tangannya. Anak usia empat tahun mengamuk saat ibunya menolak untuk membelikannya sebuah permen.


Anak usia sepuluh tahun juga marah ketika ayahnya tidak mengijinkannya menonton film horor. Anak-anak mudah sekali marah saat berpindah fase perkembangan. Kemarahan terjadi saat mereka ingin mencapai sesuatu dan saat mereka tidak dapat meraihnya, rasa frustasi memuncak. Kemarahan bukanlah suatu hal yang buruk. Rasa marah memotivasi anak untuk terus mencoba.

Mengapa Anak Mudah Marah


Sebagian anak memang lebih mudah frustasi. Seorang anak yang memiliki toleransi yang rendah terhadap frustasi terkait dengan temperamen dirinya. Anak-anak yang tidak sering marah adalah anak yang memiliki tingkat toleransi yang cukup tinggi terhadap frustasi. Anak balita dengan tingkat toleransi seperti ini bisa menerima tidak selalu digendong , tidak diberi makan tepat waktu.

Sementara anak-anak yang memiliki keinginan yang tinggi –yang nantinya berkembang menjadi seorang yang berpikiran kuat—memiliki kebutuhan yang tinggi pula. Mereka memiliki gaya emosi yang membuat orang tuanya mendengar apa yang menjadi kebutuhannya. Anak balita yang memiliki keinginan tinggi seperti ini menolak saat Anda mencoba meletakkan dia di kasur. Dan dia akan selalu protes jika Anda tetap meletakkannya.

Kemarahan Orang tua Mempengaruhi Disiplin Anak


Kemarahan yang tidak semestikan menghalangi kemampuan Anda untuk mendidik anak secara tepat. Jika kemarahan meningkat saat bayi Anda menangis kencang, atau tidak mau tidur, atau terus minta digendong, Anda telah membahayakan psikologis anak Anda atau bahkan membahayakan secara fisik. Kemarahan Anda akan menghalangi respon Anda terhadap abak Anda. Ia akan merasakan merasakan kemarahan Anda dan ia akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Atau yang lebih parah lagi, kemarahan akan menyebabkan Anda melakukan kekerasan: memukul, dan semacamnya.

Kemarahan yang diekspresikan secara tidak tepat menghalangi kemampuan Anda untuk mendisiplinkan anak secara bijak. Misalnya, anak Anda yang berusia empat tahun melakukan hal yang menurut Anda bodoh. Ia membaluri kucing Anda dengan saus tomat. Si kucing berlarian ke sekeliling rumah dengan meninggalkan bercak merah tomat di mana-mana; di lantai, di sofa, di karpet. Inilah saatnya Anda marah. Anda memukul si kucing (yang membuatnya berkeliling rumah lebih banyak, dan meninggalkan jejak saus lebih banyak pula); Anda memukul pantat si kecil (yang tetap saja membuat Anda harus membersihkan rumah). Saat semua itu berakhir, semuanya merasa dilukai.

Padahal contoh yang seharusnya Anda lakukan adalah secepatnya pegang si kucing, bawa ke kamar mandi, panggil anak Anda untuk membantu. Anak Anda akan belajar bagaimana Anda menangani krisis dan bagaimana cara membersihkan sesuatu.
Kemarahan memunculkan penghalan antara orang tua dan anak. Ketika orang tua marah, anak akan sedapat mungkin  menghindari orang tua dan kemarahannya. Ia mencoba mendapatkan kedamaian bagi dirinya. Mungkin dengan menginggalkan orang tua, menyendiri di kamar, atau membuat panca inderanya tertutup untuk orang tuanya.

Kemarahan itu sendiri sebenarnya tidak buruk. Marah adalah sebuah ekspresi sepertinya hanya kita senang. Tetapi apa yang kita lakukan saat kita marahlah yang bisa jadi salah atau buruk. Tetap tenang dan menunjukkan wajah yang santai dalam perasaan apa pun ( marah, takut, bahkan cinta) adalah ukuran kematangan emosi seseorang. Andak Anda akan belajar bagaimana menangani rasa marahnya dengan mengamati bagaimana Anda marah. Tujuannya adalah mengkomunikasikan perasaan Anda.

Menangani Kemarahan Anak

Bantulah anak Anda untuk mengenali rasa marahnya, dimulai saat ia usia balita. Jadilah seorang pendengar yang baik. Bantulah anak Anda untuk membicarakan perasaannya. Berikan dia suasana yang menunjukkan empati, bukan penghakiman. Ajak dia berdiskusi tentang hal-hal yang diinginkannya dan jelaskan bila keinginannya itu tidak seharusnya ia lakukan.

Kemarahan Orang  tua

Untuk membantu anak Anda untuk mengatasi kemarahannya, tentu Anda harus bisa memiliki kemampuan untuk mengangani kemarahan Anda sendiri.

Pertama-tama,
kenali masa lalu Anda. Jika masa lalu Anda dipenuhi dengan kemarahan yang tidak terselesaikan. Lakukan cara-cara untuk menyelesaikannya sebelum Anda membahayakan perasaan atau bahkan fisik anak Anda. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki ibu yang sering mengekspresikan rasa marahnya secara tidak tepat, mereka lebih susah untuk didisplinkan. Identifikasi masalah di masa lalu Anda yang dapat memberikan kontribusi terhadap kemarahan Anda sekarang. Apakah dulu anda sering dihukum secara tidak proporsional ketika kecil? Apakah Anda memiliki masalah dalam mengontrol emosi? Juga identifikasi situasi saat ini yang memberi kontribusi terhadap rasa marah Anda, seperti ketidakpuasan dalam pekerjaan, pasangan hidup, diri Anda, atau anak Anda.  Tidak perlu sungkan meminta bantuan ahli jika Anda merasa perlu.

Kedua,
jaga perspektif Anda. Setiap orang memiliki tombol marah. Bagi hal-hal yang bisa membuat Anda marah menjadi dua, pertama hal-hal kecil yang tidak berarti (mengganggu, rewal, dsb) dan kedua hal yang besar (melukai diri dan orang lain, merusak). Kemudian kondisikan diri Anda agar tidak terganggu dengan hal-hal kecil. Bicara pada diri Anda, “ Saya dapat mengontrol diri saya,” “saya marah pada situasi, bukan anak saya.” Latihlah Anda untuk mengatakan, “It’s okay, Mama akan bantu kamu membersihkan,” “ups… berantakan. Kita rapikan, ya.”

Jika kemarahan itu benar-benar muncul, Anda akan lebih terkondisi untuk mengontrol diri Anda. Tarik napas dalam-dalam, menjauh sedikit, tetap tenang, rencanakan strategi Anda, dan kembali ke “tempat kejadian perkara.”

Ketiga
, jadikan kemarahan sebagai sebuah sinyal untuk mengatasi penyebabnya. Jika teriakan anak Anda yang membuat telinga Anda sakit membuat Anda marah, cari penyebab ia berteriak-teriak. Atasi masalah itu.

Keempat,
hati-hati terhadap situasi yang berisiko tinggi. Beberapa akan situasi membuat Anda marah. Apakah Anda berada dalam situasi yang membuat Anda marah? Jika demikian Anda berisiko untuk menimpakan kemarahan Anda pada anak Anda. Kehilangan pekerjaan, atau mengalami hal-hal yang membuat Anda merasa rendah akan membuat Anda marah. Ketika Anda dalam situasi ini, hal-hal kecil akan menjadi besar. Dalam hal ini Anda harus mempersiapkan keluarga Anda. “Ayah minta kalian semua mengerti. Ayah mengalami hari yang buruk. Ayah kehilangan pekerjaan. Ayah sedang mencari pekerjaan dan kita akan baik-baik saja. Tapi kalau Ayah berteriak kepada kalian suatu saat, itu bukan karena Ayah tidak sayang kalian. Ayah mencoba mencari ketenangan.”

Jika Anda marah, tidak ada salahnya minta maaf pada anak Anda. Ini juga membantuk Anda untuk jujur pada diri Anda hingga masalahnya selesai. Selalu saja ada masalah dalam kehidupan Anda yang tidak dapat Anda kontrol. (AminahMustari/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement