We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Info Tempat arrow Mengajak Si Kecil berlatih BAK-BAB dengan Toilet Training
Mengajak Si Kecil berlatih BAK-BAB dengan Toilet Training E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 29 Agustus 2007

Sebagian besar orang tua tentu sangat gemas sekaligus cemas melihat buah hatinya masih buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) sembarangan. Padahal usianya sudah menginjak tahun kedua.

Kecemasan itu bukan sebatas gemas melihat sprei yang baru saja diganti ternyata harus masuk ke dalam keranjang pakaian kotor yang sudah menggunung. Bukan pula lantaran lantai sudah bersih kembali kotor oleh ompol atau tinja yang menyengat indera penciuman kita. Sungguh yang membuat kita khawatir adalah masalah kebersihan rumah dari najis yang tidak ‘terdeteksi’. Padahal kebersihan dari najis (hadats kecil) dan hadats besar adalah prasyarat agar ibadah yang kita jalankan—seperti shalat misalnya—diterima Allah swt.. Sudah barang tentu kita tidak perlu menambah kesulitan yang ada dengan energi yang terbuang percuma hanya untuk memarahi si kecil.

Kesadaran sebagai orang tua yang menyayangi dan mencintainya harus dapat diekspresikan dalam tutur dan laku yang baik. Justru saat si kecil melakukan kekeliruan dan dikoreksi dengan tetap menjaga harga dirinya, ia akan lebih mudah untuk menerima koreksian tersebut. Apalagi kita memahami bahwa kondisi tersebut bukan sepenuhnya kesalah si kecil. Hal ini lebih mudah dimaklumi lantaran ia belum memiliki kemampuang mengontrol kandung kemih atau istilah kerennya Toilet Training. Lalu, bagaimanakah orang tua mempersiap anak untuk dapat mandiri memenuhi ‘hajat’ alaminya ke kamar mandi?

Usia yang wajar
Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun.

Kendati demikian hasil ini tidak dapat dijadikan argumen bagi orang tua untuk menunda mengajarkan anak belajar bagaimana cara yang benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat. Hal ini penting saat si kecil akan masuk bangku sekolah. Pada masa sekolah ini si kecil dituntut untuk tidak lagi membuang ’hajatnya’ sembarangan.

Mengenalkan konsep Toilet Training
Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol ‘hajatnya’, apakah itu saat ia ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB). Selain itu, anak diharapkan mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan.

Hal lain yang juga menjadi bagian dari keberhasilan program toilet training ini adalah mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiridan memakai celananya kembali. Konsep ini melatih anak terampil dalam mengkoordinasikan motoriknya. Secara menyeluruh metode ini melatih anak untuk percaya pada kemampuan dirinya sekaligus menumbuhkan kemandiriannya. Demikian menurut Siti Mufattahah, S.Psi; Psikolog dan staf pengajar dari Jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, Depok.

Saatnya untuk memulai
Meski bukan pekerjaan mudah dan sederhana untuk mengajarkan toilet training pada anak namun, sebagai orangtua tetap harus melatihnya sedini mungkin. Konsep ini dapat diperkenalkan pada si kecil sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan baik secara fisik maupun psikis.

Jadi si kecil dapat memulai latihan ini sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah pola yang telah menjadi perilaku. Selain itu, bisa dibilang bahwa si kecil mengalami kemunduran dan bisa jadi ia akan menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

Anak usia 4 tahun yang belum mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

Perbedaan jenis kelamin tidak membuat perbadaan dalam membentuk kemandirian anak enerapkan toilet training ini.

Cermati sinyal kesiapan si kecil
Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:
1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, minimal 3 sampai 4jam.
2. Ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun
3. Tahu waktu untuk buang air kecil dan besar dengan menggunakan kata ’pipis’ atau ’pup’.
4. Sudah mampu memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
5. Bisa memegang alat kelamin atau minta ke kamar kecil sebagai ’alarm’ bahwa keinginan BAK atau BAB memanggil
6. Bisa memakai dan melepas celana sendiri
7. Memperlihatkan ekspresi fisik misalnya wajah yang meringis, merah atau jongkok seperti saat ia buang air
8. Tertarik dengan kebiasaan masuk k€e dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
9. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

Tahapan Toilet Training

Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:
• Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC.
• Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. Saat ia sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Penjelasan ini membantu si kecil mengusir ketakutannya saat berada di toilet. Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.
• Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.
• Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang Anda inginkan
Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari.


Diolah dari berbagai sumber
Ummu Qhania
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement