Akhir-akhir ini percakapan tentang anak Indigo sering kali mengemuka di berbagai diskusi, kalangan, dan milis. Di berbagai media juga mulai dibahas tentang fenomena anak-anak indigo ini. Apa sih sebenarnya indigo itu? Dan bagaimana menghadapinya secara tepat?
Asal Indigo
Istilah Indigo berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi warna biru dan ungu.Warna tersebut diidentifikasi lewat cakra tubuh (bisa dibaca dengan menggunakan aura video station).
Meskipun demikian, keindigoan seseorang tidak hanya ditunjukkan oleh warna indigo dari cakra. Karena itu, penggalian informasi oleh para psikolog maupun psikiater lewat wawancara tetap perlu dilakukan. Melalui perbincangan dan tanya jawab, akan diketahui tipe serta pola pikir anak itu.
Hal ini karena jenis dan kemampuan anak Indigo bermacam-macam. Meski memiliki kepekaan yang kuat, kepekaan untuk mendengar dan melihat sesuatu yang tidak didengar serta dilihat orang kebanyakan, gradasinya berbeda-beda.
Dalam bukunya, The Indigo Children, Lee Caroll dan Jan Tobe (www.indigochild.com) mengemukakan 10 karakteristik anak indigo, yaitu: 1. Mereka datang ke dunia dengan perasaan serta perilaku yang menyiratkan kebesaran. 2. Mereka mempunyai perasaan patut atau layak untuk berada di sini dan heran jika orang lain tidak merasakannya. 3. Penghargaan terhadap diri sendiri bukan merupakan masalah besar. Mereka justru menyampaikan kepada orangtua,” siapa mereka sebenarnya”. 4. Mereka punya kesulitan dengan kekuasaan absolut, terlebih kekuasaan tanpa penjelasan atau pilihan. 5. Mereka terkadang tidak mau melakukan beberapa hal, seperti mengantre. Itu merupakan sesuatu yang sulit bagi mereka. 6. Mereka kerap merasa frustrasi dengan sistem yang berorientasi ritual dan tidak membutuhkan pemikiran kreatif 7. Mereka kerap melihat sesuatu atau mengerjakan sesuatu dengan cara yang lebih baik, di rumah maupun di sekolah 8. Mereka sepertinya terlihat antisosial, kecuali dalam kalangan sendiri. Sekolah bahkan terkadang sulit untuk sosialisasi mereka 9. Mereka tidak merespons pada disiplin yang kaku 10. Mereka tidak malu untuk membiarkan orang mengetahui apa yang mereka butuhkan.
Selain itu, dalam buku tersebut, Doreen Virtue PhD (penulis beberapa buku tentang indigo) juga menyebutkan beberapa karakteristik untuk mengidentifikasi anak-anak “berbakat khusus”, yaitu:
- Sangat sensitif - Energinya berlebihan - Mudah bosan - Perlu orang dengan kondisi emosi yang lebih stabil dan nyaman untuk berada di sekelilingnya - Mempunya pilihan sendiri untuk belajar, terutama untuk membaca dan matematika - Mudah frustrasi. Sebab, umumnya mereka mempunya banyak ide, namun kurang sumber daya atau orang-orang yang dapat membantu mereka - Belajar lewat eksplorasi - Tidak bisa diam kecuali mereka menyatu dalam sesuatu hal yang sesuai dengan minatnya - Mempunyai ketakutan, seperti kehilangan atau ditinggal meninggal oleh orang yang dicintainya - Jika pengalaman pertamanya gagal, mereka kemungkinan akan menyerah dan membuat blok pembelajaran secara permanen.
Menghadapi anak indigo
Fenomena anak indigo terjadi secara global, terutama sejak awal millennium spiritual sekitar tahun 2000 yang disebut The New Age.
Ada beberapa pandangan dalam “menghadapi” anak indigo: Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog dari Universitas Padjajaran, Bandung, menyarankan kepada para orangtua untuk “menormalkan” anak-anak berkemampuan khusus ini. Sawitri menyarankan untuk “menumpulkan” kemampuan si anak. Caranya dengan memberi pengertian bahwa apa yang diketahui si anak itu semata-mata faktor kebetulan.
Selain khawatir si anak tersiksa dengan kelebihannya, Sawitri beralasan kemampuan itu akan membuat anak menjadi malas dan tidak realistis. Hal itu karena jika anak indigo berkonsentrasi dengan memusatkan energi, mereka bisa membayangkan soal-soal yang akan keluar dalam ujian. Hal itulah yang dikhawatirkan akan membuat anak-anak malas.
Prof Dr Soewardi, spesialis penyakit jiwa di RS Sardjito, Yogyakarta, mewanti-wanti, anak indigo harus disikapi secara hati-hati, terutama oleh lingkungan sosial dan keluarganya. Menurut dia, “keajaiban” anak indigo terjadi karena ada kesalahan dalam kinerja otaknya. Karena itu, anak indigo jangan diistimewakan dan lebih baik diperlakukan secara wajar supaya perkembangan jiwanya tidak terganggu.
Pandangan berbeda datang dari Dr Erwin Kusuma, psikiater anak yang mendalami bidang kesehatan mental dan spiritual. Menurut dia, anak indigo adalah anugerah Ilahi. Dalam pandangannya, anak-anak indigo pada dasarnya seumur hidup akan terus indigo. Di usia anak-anak, mereka kerap “berontak”. Tapi saat dewasa, saat bisa menyesuaikan diri, hal itu akan berkurang. Artinya, pendampingan terhadap anak indigo sangat diutamakan agar mereka bisa tumbuh wajar.
Terlepas dari pandangan yang berbeda itu, pada dasarnya anak indigo mempunyai cita-cita berbuat baik dalam menjalankan kehidupan di masyarakat. Mereka mempunyai indra keenam, IQ di atas rata-rata, dan bijaksana. Saat ini, di negara Barat mulai banyak sekolah untuk anak indigo.
Moms, sebenarnya sih, bukan penting enggaknya anak kita itu indigo atau bukan. Tapi bagaimana kita menghadapi dan mendampinginya. Yang penting anak kita bisa tumbuh dengan baik, dengan pendampingan yang baik. Akan lebih baik lagi kalau kita mengerti dan memahami apa kebutuhan anak kita itu.
Tetaplah bersikap biasa, jangan pernah menjadikan anak sebagai komoditas (menunjukkan ke mana-mana bahwa anak kita punya kemampuan begini atau begitu). Biarkan mereka tetap tumbuh dan berkembang selayaknya anak-anak.
Sumber: majalah GATRA, Kompas, indigochild.com, googling |