|
 Anak adalah belahan jiwa orang tua. Kehadirannya selalu memberikan inspirasi dalam setiap episode kemanusiaan. Ditangannya, dunia memercayakan masa depan. Tugas kita mengantarkan mereka menuju dunia yang lebih ramah, bersahabat dan bermartabat. Berbekal kesehatan jiwa, raga dan doa yang mengangkasa, orang tua mendampingi perjalanan mereka meniti pelangi dunia untuk berjibaku mengarungi samudera kehidupan.
Dalam benak anak, dunia adalah ruang penuh melodi. Setiap sudutnya selalu bernyayi. Ada pagi yang cerah menyapa ditingkahi nyanyian riang pipit kecil. Ketika siang, semilir angin berembus menggoyang pucuk-pucuk bambu alunkan tembang lembut menentramkan jiwa. Saat sore menjelang, surya pun melangkah perlahann menuju cakrawala bumi iringi nyanyian anak-anak petani pulang ke tepi lembah. Akhirnya bintang-gemintang dan purnama penghias malam mengajak si kecil bermain bersama peri kecil nan lincah dalam buaian dan senandung nina-bobo Ibunda.
Namun, bagaimana bila tiba-tiba saja dunia si kecil tak lagi bernyanyi? Bukan karena dunia tak lagi bernada. Tapi si kecil tak pernah hiraukan indahnya melodi semesta lantaran indera penangkap suaranya mengalami gangguan.
Sebuah fakta yang nyaris membuat dinding pertahanan setiap orang tua jebol. Oleh karena itu sebelum semunya menjadi parah bawalah anak ke ahli sedini mungkin jika kita merasa curiga ada sesuatu yang tak beres. Pernyataan di atas menjadi kata kunci bagi orang tua untuk mewaspadai gelagat yang mencurigakan terkait kesehatan anak, termasuk masalah pendengaran yang ditegaskan oleh ahli THT dari RS Internasional Bintaro, dr.S.Faisa Abiratno M.Sc.
Waspada dan cermati kebiasaan si kecil
Sebagai orangtua, waspadalah pada setiap kelainan, sekecil apa pun. Masalah pendengaran bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele. Sejak bayi, kelainan telinga bisa dideteksi. Sebab itulah kita patut curiga jika bayi kita: • Tidurnya sangat nyenyak. Tidak terganggu oleh suara-suara gaduh di sekitarnya. Jangan percaya omongan orang dengan meletakkan bantal di sekeliling bayi agar tidurnya nyenyak. Bayi yang terbangun karena suara gaduh adalah wajar. Sebaliknya, jika ia anteng-anteng saja, Anda harus curiga. • Jika sudah agak besar, ia bersikap tak acuh saja ketika mendengar suara mainan, bel pintu, atau musik yang dipasang. • Belum bisa mengucapkan kata-kata sederhana, seperti mama, papa, dada, dan sebagainya, di usianya yang ke 12-18 bulan. • Di atas usia 2 tahun, anak cenderung membesarkan suara tape atau televisi. • Baru memberi respon setelah dipanggil berulang-ulang. • Pada waktu bicara, si kecil cenderung melihat gerak bibir kita untuk menangkap apa yang kita utarakan.
Kenali Gangguan Pendengaran pada Balita Orang tua Pada balita, gangguan pendengaran disebabkan berbagai faktor, bisa faktor bawaan (congenital) atau dapatan (acquired). Faktor bawaan bisa lantaran genetik, tetapi bisa juga bukan. Yang genetik bisa diturunkan dari ibu, ayah, atau yang lain. Bisa juga terdapat kelainan anatomi di daerah kepala sejak lahir, seperti celah langit, daun telinga kecil, atau lubang telinga tertutup.
Yang bukan genetik bisa disebabkan karena gangguan berbagai infeksi yang diderita ibu selama kehamilan, seperti toksoplasmosis, rubella, citomegalovirus, atau pengaruh nikotin yang dikonsumsi ibu hamil, obat-obatan, serta usaha-usaha pengguguran kandungan.
Faktor dapatan bisa terjadi selama periode persalinan atau setelah anak lahir. Gangguan yang terjadi selama periode perinatal (persalinan) misalnya bayi prematur, tidak langsung menangis (asfiksia/biru-biru dalam waktu lama), bayi kuning dengan kadar bilirubin tinggi sehingga perlu transfusi. Gangguan pun bisa terjadi setelah anak lahir (postnatal). Akibat sakit yang diderita si anak, semisal meningitis, ensefalitis, virus gondongan. Dapat pula disebabkan infeksi telinga tengah dan infeksi saluran napas bagian atas (pilek kronis).
Kenali Sususan Telinga Telinga, terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Pada telinga luar terdapat daun, liang telinga yang berbentuk huruf S dengan rangkanya tulang rawan, dan kemudian ada pembatas atau membran timpani yang lebih akrab disebut gendang telinga.
Sedangkan telinga tengah terdiri dari rongga telinga tengah (kavum timpani), kemudian tulang mastoid yang ada di bagian belakang, dan tuba eustachius, yaitu saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang tenggorokan (nasofaring). Di telinga tengah ini terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam. Mulai tulang maleus, tulang inkus, hingga tulang sanggurdi (stapes). Selanjutnya gendang telinga sampai tulang pendengaran berfungsi mengantarkan dan memperkuat getaran suara yang datang dari luar ke telinga dalam.
Pada bagian telinga dalam terdapat reseptor pendengaran yang terletak di rumah siput. Di sini getaran suara akan diganti menjadi aksi potensial listrik, kemudian diantarkan melalui syaraf ke pusat pendengaran di otak bagian pelipis atau temporal. Nah, karena proses inilah kita jadi bisa mendengar.
Jenis Gangguan Pendengaran Menurut dr. Indro Soetirto, spesialis THT dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, gangguan pendengaran yang terjadi dapat diketahui jenisnya setelah dilakukan observasi mendalam. Namun demikian gangguan yang terjadi pada pendengaran bisa dibedakan dari jenis dan derajat kerusakannya.
Berdasarkan jenisnya, gangguan dibedakan atas tuli hantar yaitu kerusakan gendang telinga dan telinga tengah akibat infeksi jatuh, tertusuk cotton buds waktu membersihkan telinga, atau karena kelainan anatomi telinga. Kemudian tuli saraf, yaitu kerusakan rumah siput akibat penyakit yang diderita ibu sewaktu hamil, gangguan selama persalinan, atau setelah lahir. Kerusakan pada rumah siput sejak lahir derajat gangguan pendengarannya berat. Selain itu, tuli campur. Umumnya karena infeksi telinga tengah (congek) yang menimbulkan kerusakan berupa gabungan tuli hantar dan tuli saraf.
Mengapa gendang telinga bisa pecah? Bila terjadi pernanahan menyebabkan gendang telinga menjadi lembek lama-kelamaan membran menjadi pecah, inilah yang disebut congekan atau otitis media akut perforata. Hal ini bisa terjadi lantaran beberapa hal. Antara lain karena infeksi telinga yang terlambat diberikan terapi, terapi tidak tepat, virulensi kuman yang tinggi, daya tahan pasien rendah (gizi kurang), atau karena kebersihan telinga yang buruk.
Sedangkan berdasar derajat kerusakan dibedakan atas kehilangan ringan, sedang, berat, dan berat sekali. Ini bisa dilihat dari ukuran satuan kekerasan suara (desibel/db). Yang normal bisa mendengar suara kurang dari 30 db. Kehilangan ringan 30-40 db, sedang 40-70 db, berat 70-80 db, dan kehilangan berat sekali di atas 80 db.
Alat Bantu Dengar Kita tentu tak mungkin membiarkan si kecil hidup dalam dunia yang sunyi. Kalaupun gangguannya amat berat dan tak bisa disembuhkan, baik dengan obat-obatan maupun operasi, masih ada cara lain yang bisa ditempuh, yaitu memakai alat bantu dengar (hearing aid). Yang penting, jangan anggap alat bantu tadi sebagai torang tua kecacatan, melainkan sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga dengan cara ini Orang tua bisa membantu si kecil mengatasi gangguannya.
Untuk gangguan pendengaran yang lebih parah, ada alat yang disebut cochlear implant. Alat ini "ditanam" di belakang telinga lewat cara operasi. Berbeda dengan alat bantu dengar biasa, cochlear implant mempunyai alat pengolah suara yang mengubah suara menjadi kode-kode (speech processor). Kode suara itu dihantarkan lewat kabel ke alat yang ditempelkan di bagian belakang telinga, lalu dihantarkan langsung ke saraf pendengaran, kemudian ke otak. Dengan begitu, si pemakai bisa mendengar suara dengan kualitas yang lebih baik.
Jika Ia Harus Pakai Alat Bantu
Jangan melindungi anak terlalu berlebihan jika ia menggunakan alat bantu dengar. "Ketegaan" orang tua harus menciptakan kemandirian pada si anak. Berikut ada tips praktis untuk orang tua saat menghadapi si kecil yang menggunakan alat bantu dengar: • Beri Kebebasan Biarkan ia bergaul seperti anak normal lainnya. Hanya saja beri perhatian lebih saat berkomunikasi dengannya. Misalnya berbicara berhadapan, juga dengan gerak bibir dan artikulasi yang jelas sehingga anak bisa mendengar dengan baik. • Bagian dari Penampilan Tanamkan pada si kecil bahwa alat bantu dengar ini adalah bagian dari penampilan selain berpakaian, bersepatu, dan asesoris lainnya. Sehingga si anak akan terbiasa dan tidak merasa minder. • Fungsinya Lebih Penting Mungkin anak akan merasa risi memakai alat bantu dengar. Tetapi lama kelamaan ia akan terbiasa asalkan Orang tua menanamkan pengertian bahwa dengan alat tersebut, anak akan mengenal dunia luar jauh lebih banyak dibanding tidak menggunakannya. Misalnya, ia bisa menonton televisi, berbicara dengan ayah, ibu dan anggota keluarga lain. • Meminta Dukungan Jika si anak sudah bersekolah, beri tahu guru tentang alat yang digunakannya. Minta bantuan guru jika ada anak lain yang mengganggunya karena masalah tersebut sehingga si anak tidak akan merasa kecewa dengan keadaan dirinya. • Merawat Alat Jika si kecil sudah lebih besar, ajari ia tentang perawatan alat tersebut. Misalnya, jangan terkena air dan jatuh.
Sumber : beberapa artikel yang diolah penulis dari milis Tabloid Nakita |