|
Kurikulum HighScope Baguskah? |
|
|
Pengirim: We R Mommies
|
|
Rabu, 15 Agustus 2007 |
"Anak aku (21 bulan) akan join holiday program yang diadakan oleh HighScope selama 2-3 minggu. Nah rencananya kalau anak aku suka, aku akan sekolahin di HighScope saja. Adakah yang punya pengalaman dengan HighScope dibandingkan dengan sekolah yang lain."
Salah satu anggota yang anaknya bersekolah di HighScope membagikan pengalamannya.
" Anakku mulai join di Highscope Kuningan sejak 18 bulan. Menurut pengamatan aku & ayahnya selama 6 bulan ini, program di Highscope bagus dalam mengarahkan anak karena mereka tidak membentuk anak dengan pukul rata tetapi sesuai dengan karakter & minat anak tsb.
Kurikulumnya based on planning-do-review. Waktu kita trial aku sempet beberapa hari ikut di dalam kelasnya, tiap akan mulai aktifitas, anak-anak berkumpul lalu ditanya punya rencana apa hari ini (planning), lalu mereka akan mengerjakan rencana itu (do) dengan fasilitatornya adalah gurunya. Setelah selesai, masing-masing anak ditanya (review) kegiatan mereka hari itu. Dalam kegiatannya ada small group time & big group time, jadi disitu anak akan belajar sharing dengan teman-temannya & juga bekerja/bermain sendiri.
Selain itu mereka juga jadi mandiri karena di sekolah anak-anak ga perlu ditungguin oleh pengasuh. Jadi mereka harus belajar komunikasi dengan orang dewasa/guru, belajar mandiri (beberes mainan setelah main, makan sendiri, dll), belajar leadership (gantian jadi planner of the day -- bantuin guru sekarag lagi kegiatan apa), belajar berani (ada children assembly dimana anak-ank naik panggung ditonton teman-teman & orangtua). Selain itu anak-anak jadi kreatif karena untuk art project mereka pakai barang-barang bekas yang pasti ada di sekitar rumah.
Tiap 4 bulan ada parents conference. Itu seperti "bagi raport" tapi disini bentuknya lebih berupa diskusi antara ortu & guru mengenai kegiatan, perkembangan & achievement si anak berdasarkan daily recording yang disebut COR (Child Observation Record). Jadi bukan dibandingkan dengan anak yang lain tapi lebih ke perkembangan anak day-to-day. Kita jadi tau anak kita menonjol dibidang apa & apa yg hrs diperhatikan & gimana caranya (supaya cara di rumah & cara disekolah sama). Selain itu ada forum ortu-sekolah di acara afternoon tea.
Selain itu fasilitas pendukungnya cukup lengkap ada playground, multi-purpose room, library & swimming pool, dll. Kegiatannya juga bagus ada cooking project, music day, sports day, field trip dll.
Kenapa tidak pilih Tumble Tot? Saat trial TT, anakku bosan. Lalu TT lebih berguna untuk fungsi sosialisasi & motorik kasar, tapi untuk pengarahan lebih lanjut rasanya kurang.
Kenapa tidak Montessori? Kalau soal kurikulumnya menurut aku bagus juga karena mengembangkan bakat anak. Tetapi tidak pilih ini lebih karena faktor keamanan sekolah & beberapa kurikulum lokal sekolah tersebut yang rasanya tidak perlu aku terapin di rumah. Tetapi ini bisa bisa berbeda pendapat untuk orang lain dan juga untuk sekolah Montessori lainnya."
Lain halnya salah satu anggota yang mengingatkan anggota lainnya, akan email yang beredar beberapa waktu lalu. Pada email tersebut dijelaskan bahwa sekolah HighScope managemennya bermasalah.
Anggota lain juga berpedapat bahwa "harus diingat baik buruknya anak tidak sepenuhnya tanggung jawab sekolah, lebih penting lagi bagaimana orangtua & keluarganya mendidiknya di rumah." (MD)
|