|
Pengirim: Nila LG
|
|
Jumat, 27 Juli 2007 |
Body Basal Temperature adalah temperatur tubuh kita yang diukur sesaat setelah kita terbangun dari tidur dan belum melakukan aktivitas apapun. Body Basal Temperature atau biasa disingkat BBT merupakan salah satu media penunjang bagi pasutri yang menginginkan buah hati. Dengan menggunakan BBT Chart maka kita bisa memprediksikan kapan masa ovulasi atau masa gamanh bagi yang menghindari terjadinya pembuahan.
Mungkin bagi yang belum mengenal BBT Chart, hal ini akan terasa menyulitkan untuk dilakukan, sebenarnya tidak menyulitkan, hanya membutuhkan kedisiplinan dan ketelatenan untuk mencatat temperatur saja. Demi mendapatkan buah hati, apapun akan kita lakukan tentunya.
Pengukuran BBT ini memerlukan alat penunjang yaitu: 1. Termometer (lebih baik termometer digital yang memiliki 2 angka dibelakang koma) 2. BBT Chart (bisa di-download dari internet atau bisa anda buat sendiri)
Syarat dan Cara Pengukuran BBT: 1. Diukur sesaat setelah terbangun dari tidur pagi, dengan lama tidur minimal 5 jam 2. Lakukan sebelum beraktivitas apapun juga, untuk itu siapkan termometer disamping bantal atau tempat yang mudah dijangkau 3. Tempat untuk meletakkan termometer ada 3, yaitu bawah lidah, vagina dan dubur, paling mudah mengukur dibawah lidah 4. Usahakan mengukur pada jam dan tempat yang sama setiap harinya, kalau perlu gunakan alarm sebagai pengingat 5. Lalu tulis/gambar temperatur yang anda dapat pada buku ovulasi atau chart anda
Dengan mengamati pola yang tergambar di BBT Chart maka kita akan bisa membaca dan mempunyai rekaman medik tentang siklus menstruasi kita.
# Satu kali periode pengukuran dimulai dari hari pertama menstruasi dan berakhir sebelum siklus berikutnya dimulai. Setiap satu siklus selesai maka untuk siklus selanjutnya menggunakan chart baru, begitu seterusnya
# Dalam satu siklus mentruasi akan kita temukan beberapa fase temperatur, yaitu: * Fase temperatur rendah (fase follicular), yaitu fase yang terjadi sebelum ovulasi dimana suhu tubuh kita berada dibawah suhu rata-rata setelah ovulasi. Kalau diamati dalam chart akan tampak pada sisi kiri. Misalnya rata-rata berkisar antara 36,3 derajat C ? 36,5 derajat C * Fase ovulasi, yaitu dimana biasanya suhu tubuh kita akan lebih rendah dari suhu rata-rata fase temperatur rendah. Misalnya berkisar antara 36 derajat C ? 36,2 derajat C * Fase temperatur tinggi (fase Luteal), yaitu fase yang terjadi setelah ovulasi, dimana jika kita amati dalam chart akan tampak rata-rata berkisar antara 36,7 derajat C sampai dengan 37 derajat C
# Rutin mencatat dan mengamati perubahan temperature badan kita, maka akan memudahkan untuk memperkirakan masa ovulasi dan kapan kita akan mendapatkan menstruasi berikutnya.
# Jangan lupa untuk menambahkan catatan tersendiri yang digunakan untuk mencatat saat kita sakit atau lupa mengukur suhu tubuh, karena akan berguna untuk mengetahui jika ada perubahan yang janggal pada siklus kita.
# Dengan memiliki BBT Chart setidaknya 3 siklus, maka kita bisa mengetahui pola siklus kita dan menentukan kapan saat yang tepat untuk melakukan sexual intercourse dengan harapan terjadi pembuahan, perlu diketahui sperma bisa bertahan hidup selama 3-4 hari sedangkan sel telur hanya bisa bertahan hidup berkisar antara 12-48 jam saja.
# Saat yang baik untuk hubungan suami istri adalah sehari atau 2 hari menjelang ovulasi dan diulangi lagi saat terjadi ovulasi.
# Jika temperatur tubuh tetap tinggi minimal selama 18 hari setelah ovulasi, maka dianjurkan untuk menggunakan test kehamilan.
Jika menemukan kejanggalan pada siklus bulanan anda, jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter. Ada baiknya juga jika anda berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan BBT sehingga anda akan mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap dan terperinci. (Nila LG)
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi. |