What's the definition of mixed emotions? Watching your mother-in-law back off a cliff in your new Mercedes. (The joke)
Pentheraphobia is fear of mother-in-law. The symptoms: breathlessness, excessive sweating, nausea, dry mouth, shaking, heart palpitations, inability to speak or think clearly, a fear of dying, becoming mad or losing control, a sensation of detachment from reality or a full blown anxiety attack. (The Joke)
Menikah memang ternyata bukan hanya masalah istri dan suami, tetapi juga bertemunya dua keluarga dengan latar belakang yang mungkin jauh berbeda. Anda tidak hanya perlu beradaptasi dan memahami pasangan, tetapi juga harus menghadapi baik-buruknya keluarga pasangan Anda.
Bagi sebagian pasangan, permasalahan hubungan antara menantu dengan mertua seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik suami dengan istri atau sebaliknya. Karena latar belakang mertua yang berbeda, perbedaan pengetahuan, usia, zaman, sudah pasti cara berpikirnya tidak akan sama dengan sang menantu. Perbedaan karakter saja dapat menyulut konflik yang tidak sedikit, apatah lagi segala macam perbedaan itu hadir dalam dua karakter yang mau tidak mau harus bertemu.
Simak saja keluhan seorang ibu di Bandung tentang mertuanya. “Saya hampir putus asa menghadapi ibu mertua saya. Mungkin di matanya saya selalu salah. Apa saja yang saya lakukan atau kenakan selalu dianggap tidak benar. Pakaian saya selalu disebut kuno, tidak modis, seperti orang tua. Dandanan saya terlalu sederhana. Nanti kalah sama sekertaris suami atau bahkan pembantu. Masakan saya tidak enak, kalau merebus kurang matang, bikin kopi kurang manis. Tertawa saya aneh, dll. Dalam hati saya marah. Saya betul-betul sudah jenuh. Kalau begini terus saya bisa gila.”
Pertarungan Dua Perempuan
Mengapa yang disorot hanya “perang” antara dua perempuan yang tiba-tiba harus menjadi anak dan orang tua ini? Karena kasus yang sering muncul adalah perselisihan antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Seperti yang Anda tahu dari John Gray dalam Men Are from Mars, Women are from Venus, perbedaan tersebut antara lain karena kebutuhan utama perempuan adalah diayomi, diperhatikan secara lembut, dimengerti, dihormati, penghiburan. Dan perempuan cenderung lebih berorientasi pada hubungan. Kemampuan multi-tasking perempuan juga mungkin berpengaruh pada peluang terbukanya konflik, sehingga perempuan begitu menjadikan detail-detail adalah hal yang penting baginya.
Permasalah yang terjadi seringkali cukukp sulit diatasi. Bagi mereka yang terlalu larut dalam masalah ini, hubungan mereka dengan suami bisa menjadi rusak dan tidak lagi mesra. Apalagi jika suami tidak bisa menjadi pendamai karena merasa terjepit di tengah-tengah istri dan orang tua. Karena itu penting bagi Anda untuk mengkondisikan suami tentang masalah ini. Pisah rumah dengan orang tua atau mertua ternyata belum tentu menjadi solusi ampuh untuk menyelesaikan permasalahan ini. Mungkin dalam jangka pendek masalah akan selesai, tetapi suatu saat akan muncul lagi permasalahan yang sama. Masalah itu hanya terpendam untuk satu masa karena terbatasi oleh waktu dan tempat, namun akan bangkit kembali jika pemicunya ada. Sikap cuek dengan mengeyahkan perasaan kesal dan tidak mengambil pusing semua yang dikatakan atau dilakukan oleh mertua –meski dalam hati tidak terima—akan berhasil hanya dalam waktu yang singkat. Jika tidak disadari dan diambil tindakan solutif yang nyata, tentu akan memberikan akibat yang tidak menyenangkan bagi kedua belah pihak. Terlebih lagi hal ini dapat memecah belah keluarga besar pasangan suami istri.
Jika hal ini terjadi, pertama yang harus diingat adalah bahwa jangan sampai emosi menguasai Anda. Lakukan pertolongan pertama. Jika amarah menguasai Anda, alihkan kepada hal yang positif. Anda bisa lakukan relaksasi dengan berbicara dengan diri Anda, “tenang, take it easy. It’s not a big deal.” Tenangkan diri Anda dengan menarik napas. Perbanyak supply oksigen ke dalam tubuh Anda agar lebih rileks. Humor sedikit banyak membantu mencairkan suasana dan membuat kita riang.
Beberapa masalah sering dipicu karena adanya gap dalam berkomunikasi. Gap tersebut mnyebabkan perbedaan persepsi antar pihak satu dengan pihak yang lain. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gap tersebut:
1. Bersikap asertif. Asertif adalah bagaiman Anda memperhitungkan keberadaan orang lain tanpa sedikitpun mengurangi perhitungan terhadap keberadaan Anda dengan cara yang konstruktif dan fair. Jika Anda ingin mengatakan A, sementara mertua Anda telah berkata B, katakan dengan pilihan kata yang baik, intonasi, dan nada suara yang biasa, jelas, dan lugas, tanpa pretensi apa pun. Lakukan ini setiap kali Anda merasa tidak setuju. Anda akan merasa lebih baik, dan mertua Anda juga mungkin bingung akan berkomentar apa karena Anda mengatakannya dengan baik dan full senyum.
2. Jangan lupa empati. Anda perlu menyelami wilayah rasa yang dirasakan oleh orang lain tetapi Anda tidak melarutkan diri di dalamnya. Jika mertua Anda mengatakan sesuatu yang salah menurut Anda dan terkesan mencampuri atau menggurui, Anda perlu menyelami perasaannya, bahwa dia lebih banyak pengalaman dari Anda, dia ingin Anda belajar darinya, dll.
3. Bekerjasamalah. Tindakan kooperatif akhirnya lebih menguntungkan daripada tindakan konfrontatif saat konflik muncul. Cara konfrontatif memang lebih mudah dan cepat, tetapi ia akan menjadi sebuah pertarungan egoisme semata, bukan jalan untuk mencapai tujuan. Tindakan kooperatif yang memang sedikit lebih susah ini akan membuat Anda mencapai tujuan. Misalnya saat Anda dan mertua memperdebatkan apakah si kecil harus digendong atau tidak saat menangis. Mertua Anda ngotot untuk mendiamkan saja, sementara Anda ngotot untuk menggendong, mengapa tidak mengatakan dengan nada riang dan sedikit bercanda, “Sekali-kali didiamkan, tapi sekali-sekali digendong boleh ya Ma. Mama nggak boleh marah, nanti tambah tua lho.” Hanya ada 2 cara yang dapat kita tempuh saat menghadapi masalah: konfrontatif dan kooperatif, silakan Anda pilih.
Pada akhirnya, segala masalah kuncinya ada pada diri kita sendiri. Jika kita selalu berharap orang mau menyesaikan sebuah masalah yang terkait dengan kita, mungkin kita akan mangkel setengah mati menunggu masalah selesai.
Bagi Anda yang terlibat masalah dengan mertua, baik juga disimak beberapa hal berikut ini.
1. Munculkan Suasana Nyaman Mulaikan berdamai dengan diri Anda sendiri. Ciptakan pikiran-pikiran dan energi positif dalam setiap gerak tubuh Anda. Buang semua pikiran negative yang muncul. Jika perlu mengambil jarak dengan sumber masalah, Anda dapat juga melakukan itu. Menjauh atau mengurangi pertemuan boleh-boleh saja dilakukan untuk sementara waktu. Alihkan pikiran Anda pada hal-hal yang positif. Lakukan hobi dan kegiatan yang Anda sukai.
2. Introspeksi Jika pikiran mulai tenang dan jernih, mulailah mengukur diri mengapa masalah ini terjadi. Lakukan pengecekan secara objektif sejauh mana Anda berkontribusi terhadap malasah yang timbul. Sebagai individu yang memiliki kekurangan hal itu tentu tidak serta merta harus dilihat sebagai sebuah ancaman, melainkan sebuah hal yang wajar. Karena itu penting melihat sebuah masalahan secara objektif.
Apakah selama ini Anda malah selalu mencari pembenaran, bukannya bersikap objektif? Anda dapat membuat daftar kesalahan Anda yang mungkin berkontribusi terhadap masalah yang terjadi. Coba cari cara mengurangi kesalahan itu. Belajarlah untuk tidak menghakimi orang lain dengan nilai-nilai yang ada dalam diri Anda. Jika tidak, akan sulit bagi Anda untuk memulai berinisiatif untuk menyelesaikan masalah. “If you judge people, you don’t have time to love them.” (Mother Theresa)
Setiap keluarga memiliki budayanya sendiri. Aturan, didikan, kebiasaan, nilai-nilai yang berlaku dalam suatu keluarga pasti berbeda. Pahami itu. Meski setelah menikah menantu tidaklah termasuk dalam anggota “penumpang kapal” tetapi kita juga harus pahami bahwa ada hal-hal yang harus dijaga oleh pihak menantu dalam berinteraksi dengan mertua dan sebaliknya. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk saling memahami.
Pikirkan hal-hal yang pernah Anda dan mertua lakukan bersama-sama. Anda juga dapat membuat daftarnya dan rancangan kegiatan atau hal-hal yang dapat meminimalisir kemungkinan memicu perdebatan dan mengeratkan hubungan Anda.
3. Jangan Terpancing Gosip Jika kita mendengar hal-hal yang tidak baik tentang mertua dari pihak ketiga, jangan terpancing. Besar kemungkinan ada maksud yang hilang dan mungkin bertambah, sehingga melenceng dari tujuan orang pertama. Konfirmasi setiap informasi yang kita terima kepada orang yang bersangkutan langsung.
4. Curhat pada Orang Terpercaya JIka Anda membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhan Anda, jangan sampai Anda memilih orang yang tidak tepat. Selidiki dulu apakah orang itu dapat dipastikan tidak akan menyebar berita yang sangat mungkin malah melenceng dari perkataan kita dan memperkeruh suasana. Jika perlu, bicaralah dengan ahlinya: konselor, psikolog, ataupun psikiater.* (Aminah Mustari/ WRM) |