|
Jangan pernah menyepelekan keluhan kecil. Begitulah kira-kira pesan yang sering kita dengar. Terlebih lagi bila keluhan itu menyangkut masalah kesehatan kita. Karena fakta membuktikan justru keluhan kecil kerap menjadi petunjuk adanya gejala gangguan kesehatan yang serius pada tubuh kita.
Ini terjadi pada Ibu Siska, sebut saja demikian, seorang ibu muda tetangga saya yang terbilang energik. Bakat dan minatnya yang besar pada dunia fashion mengantarkannya terjun ke bisnis garmen. Tak terasa lewat tangan halus dan naluri kewanitaannya yang lembut, bisnis yang dinahkodai di rumahnya itu maju pesat. Predikat work at home mom tak menghalanginya untuk menghasilkan berbagai karya masterpiece. Tak pelak lagi konsentrasi dan perhatian sedemikian tercurah untuk ekspansi dan memperluas lapangan kerja. Namun sayang, kondisi tersebut membuat ibu muda yang cantik itu kurang memperhatian ketahanan tubuhnya. Ia kerap mengabaikan pola makannya yang mulai tak seimbang. Singkat cerita, bisnis tersebut malah mengantarkannya dengan segera ke rumah sakit. Usut punya usut ternyata ditemukan infeksi pada lambungnya. Rupanya, infeksi itu sudah demikian akut yang ditandai dengan pendarahan hebat diantaranya melalui hidung mulut dan telinganya. Setelah diobservasi lebih mendalam betapa mencengangkan karena ia telah mengidap penyakit leukemia stadium terminal(maaf, jenisnya saya lupa). Yang lebih mengejutkan lagi ternyata penyakit ini telah metastase ke oragan pencernaan. Alih-alih maag yang kerap disuarakannya ternyata penyakit maut yang menjemputnya.
Keluhan kecil yang terjadi tak hanya masalah pencernaan. Masih banyak penyakit yang lain. Misalnya saja gusi berdarah (gingivitis). Salah seorang Mom menyampaikan keluhan kecil ini ke rumah diskusi kita yang nyaman ini. Sebuah sikap bijak dalam rangka memberikan tindakan yang tepat.
Bagi mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan gula-gula (permen) sebaiknya rajinlah menyikat gigi. Data statistik telah mencatat bahwa tujuh dari sepuluh orang Indonesia gusinya berdarah (Survei Kesehatan Nasional). Hal ini dikarenakan sisa makanan (plak) yang melekat pada lapisan gigi tidak terangkat saat pembersihan yang kurang teliti. Sisa makanan tersebut mengundang kuman streptococus yang berkembang biak sedemikian rupa hingga menjadi racun pada gigi. Lama-kelamaan ia akan melunakkan email gigi, merusak inti gigi, menembus syaraf gigi hingga gusi berdarah. Gusi yang terserang tampak kemerahan seperti darah mengumpul.
Yang patut kita syukuri gusi berdarah, sangat jarang terjadi pada anak-anak. Kecuali kalau memang ada penyakit lain yang menyertai semisal demam yang sangat tinggi atau kurang gizi bahkan seperti yang dialami seorang pemuda Bangkok. Kisahnya berawal dari sikapnya menyepelekan gusinya yang kerap berdarah. Dua bulan kemudian, ia demam setelah dokter gigi mencabut gigi gerahamnya. Namun, selama tiga hari gusinya terus menerus mengeluarkan darah. Maka, ia pun kembali menemui dokter giginya. Melihat gejala itu, sang dokter kemudian meminta Jirapan, nama pemuda itu untuk melakukan tes darah. Dan alangkah terkejutnya Jirapan ketika melihat hasil tes darah itu. Dari tes darah itu disimpulkan, ia mengidap leukemia atau kanker sel darah jenis Chronic Myeloid Leukaemia (CML). Jadi waspadalah terhadap keluhan kecil!
Meski demikian tulisan ini tidak bermaksud membuat pembaca menjadai paranoid. Akan tetapi mengajak setiap kita untuk bersikap bijak dalam menyikapi setiap keluhan kecil yang menyangkut masalah kesehatan.
Keteladanan adalah salah satu cara terbaik dalam proses asah, asih dan asuh anak. Alangkah baiknya anak dapat mencontoh langsung dari orang tuanya perihal merawat kesehatan mulut, gigi dan gusi ini.
Berikut ini beberapa tips menjaga kesehatan gigi, gusi dan mulut : 1. Jadikan kegiatan menyikat gigi sebagai salah satu kebutuhan yang harus dilakukan minimal dua kali sehari. Berilah anak pengertian tentang manfaat menyikat gigi. Misalnya gigi jadi bersih, tidak berlubang, gigi tidak sakit atau bengkak dan sebagainya. 2. Jangan pernah menyerah bila anak enggan melakukan kebiasaan baik ini. Motivasilah mereka. Lain waktu hadirkan buku cerita atau dongeng yang menguatkan motivasi mereka. 3. Buatlah kegiatan menyikat gigi sebagai acara yang menyenangkan. Misalnya, berikan sikat gigi dengan bentuk, corak dan warna yang menarik.
4. Gunakan sikat gigi yang sesuai dengan bentuk mulut dan gigi. 5. Untuk bentuk mulut yang kecil, gunakan sikat gigi yang kecil pula dengan ujung atau kepala sikat yang mengecil. Begitu pun bagi mereka yang gigi gerahamnya menjorok ke dalam dan jumlahnya lebih banyak daripada umurnya. 6. Mereka yang memunyai gigi tak rata, banyak yang gingsul, bertumpuk, atau selang-seling, dianjurkan menggunakan sikat gigi yang mempunyai bulu sikat zigzag karena bisa mempermudah membersihkan setiap gigi dan celah gigi yang tidak beraturan.. Pilih sikat gigi yang berbulu lembut dengan pegangan yang mantap dan tidak licin.
8. Pasta gigi sebenarnya hanya untuk membatu kenyamanan dan memberikan rasa saat kita menyikat gigi atau lidah. Menurut penelitian, dengan atau tanpa pasta gigi, sepanjang menyikat gigi dilakukan secara benar, baik, dan sempurna, maka hasilnya sama saja. Pasta gigi untuk anak balita sebaiknya tidak menggunakan pasta gigi terlebih dahulu karena sering tertelan atau ditelan. Kalaupun mau menggunakan pasta gigi, gunakan yang benar-benar bebas flour. Kelebihan flour dalam tubuh justru bisa menyebabkan gigi rusak. 10. Sikatlah gigi dengan cara yang benar, yaitu : - Lakukan gerakan menyikat dari bagian merah ke putih (dari gusi ke gigi) untuk bagian penampang gigi (depan dan samping). Ingat, arahnya tidak boleh bolak balik karena bisa mencederai gusi dan kotoran tidak keluar dari gigi. - Jika melakukan gerakan seperti itu pada gigi anak dirasa sulit, disarankan untuk melakukan gerakan memutar searah jarum jam. Hal ini dilakukan sekaligus untuk melakukan massage pada gusi anak. - Untuk menyikat permukaan kunyah, lakukan gerakan horizontal satu arah dari dalam ke luar. Cara ini berlaku untuk gigi atas dan bawah, bagian luar maupun dalam. - Jangan terburu-buru. Saat menyikat gigi, lakukan dengan santai dan relaks. Lakukan pembersihan setiap dua gigi dengan kekuatan sedang hingga semua gigi tersikat dengan baik.
11. Bila kita konsisten menjaga kesehatan gigi, sebenarnya kita telah mengajarkan anak untuk menjaga kesehatan gusi. Meskipun demikian ada beberapa masalah serius pada gusi seperti gusi bengkak, gusi naik dari celah gigi, atau gusi kotor. Namun untuk maslah tersebut dokterlah yang dapat mengatasinya. Di samping itu yang perlu diketahui, penyakit gusi juga bisa disebabkan faktor genetik. Itulah mengapa, tak sedikit orang muda usia tanpa sebab apa-apa giginya tanggal atau goyang sendiri. Perubahan hormonal pada anak yang tengah menjalani masa puber dan ibu hamil, misal, juga bisa menyebabkan penyakit gusi seperti gusi berdarah. Begitu pula bila anak atau orang dewasa yang sedang menjalani terapi obat jangka panjang, gusinya mudah sekali bengkak dan berdarah.
12. Gunakan obat kumur seperlunya. Penggunaan setiap hari tidaklah baik karena obat kumur juga membunuh bakteri baik yang berada dalam mulut selain bakteri jahat. 13. Jangan lupa untuk memperhatikan kebersihan sikat gigi. Caranya, setiap habis digunakan, bersihkan sikat gigi dengan air, lalu ketuk-ketukkan sebelum dimasukkan ke dalam flipper yang punya banyak lubang untuk sirkulasi dan mengeluarkan air pada bagian bawahnya. Selain itu, lebih baik lagi jika satu minggu sekali, sikat gigi tersebut kita rendam dan cuci menggunakan air panas. Tak lupa, lekas ganti sikat gigi jika sudah rusak, sekalipun baru beberapa saja bulu sikatnya yang tanggal atau merekah. 14. Merawat kebersihan lidah tak serumit menyikat gigi, cukup gunakan alat pembersih lidah, lakukan gerakan menarik dari arah dalam ke luar. Supaya lebih enak dan nyaman, bisa juga kita gunakan pasta gigi. Untuk anak, apalagi balita, biasanya orang tua akan kesulitan melakukan hal ini. Terlebih lagi masih agak sulit menemukan alat pembersih lidah untuk anak. Sebagai gantinya, gunakan saja sikat gigi anak sebagai alat pembersih lidahnya dengan sedikit pasta gigi. Cara membersihkanya sama, tarik sikat gigi pada permukaan lidah searah dari bagian dalam ke luar.
15. Ajaklah anak ke doker gigi. Cukup penting membiasakan anak kontrol ke dokter gigi sejak dini. Tujuannya selain gigi terawat dan ia tidak takut menjalani pemeriksaan rutin maupun pengobatan bila ada masalah seperti plak, karies, atau lainnya. Anjuran dokter, ajaklah anak ke dokter gigi sejak gigi pertamanya tanggal.
Disarikan dari berbagai sumber dan pengalaman penulis. (Herlina Sugeha/WRM)
|