|
Pengirim: Nieza Graha
|
|
Kamis, 28 Juni 2007 |
Stay at home mom .... itulah pilihan yang akhirnya aku ambil. Banyak pertanyaan-pertanyaan bermunculan ketika mengambil keputusan ini. Kenapa tidak bekerja lagi? Sayang lho kariernya... susahkan mendapatkannya. Sayang kan sekolah tinggi-tinggi cuma tinggal di rumah.... Sayang kan IP tinggi cuma di rumah saja...
Awalnya aku merasa kata-kata sayang kan.... tinggal di rumah saja itu benar!. Aku merasa bodoh, mengapa mengambil keputusan ini? Padahal tidak ada paksaan dari siapapun. Suami pun tidak memaksa untuk tinggal di rumah. Tapi kehidupan yang nyata di hadapanku yang membuat aku harus memilih.
Hari-hari sebagai Stay at home mom aku lalui. Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Bagaikan menemukan sebuah kehidupan baru dalam diri yang tidak pernah aku temukan sebelumnya. Kesibukan menjadi Stay at home mom benar-benar tiada henti. Mendidik dan mengasuh anak ternyata tidak mudah. Mengasuh anak menjadi suatu hal yang seru dan heboh sekali dalam keseharianku. Bertambah seru saja ketika anak keduaku lahir. Badan ini rasanya hancur lebur menghadapi anak-anak yang menangis, merengek, protes, atau bertengkar.
Aku jadi teringat dengan Mama yang harus mengurus lima orang anak. Waktu aku kecil tidak pernah melihat beliau mengeluh dalam membesarkan anaknya. Beliau kelihatannya enjoy saja. Betapa hebatnya Mama!
Sekarang jarak kami sudah berjauhan dipisahkan ribuan kilometer. Jadinya aku harus cari ilmu mengasuh anak sendiri. Tak heran kalau aku jadi rajin membaca berbagai buku-buku tumbuh kembang dan psikologi anak, majalah-majalah, internet atau kadang mengikuti pula seminar yang berkaitan dengan pendidikan dan cara mendidik anak. Tapi ternyata semua yang aku dapat tidak bisa begitu saja diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ya tetap saja aku ini manusia biasa. Seorang ibu yang bisa merasa capek, penat dan jenuh pula. Apalagi semua harus dikerjakan sendiri, penuh dengan rutinitas yang hampir selalu sama dan membosankan.
Menjadi ibu rumah tangga memang bukan pekerjaan yang sulit, dan bukan pula pekerjaan yang mudah. Unik! Menurutku itulah kata yang tepat. Unik karena secara garis besar, ternyata menjadi ibu rumah tangga itu tidak berbeda jauh dengan pekerjaan Manager di sebuah kantor.
Menjadi seorang stay at home mom membuatku harus jeli mengatur waktu. Aku jadi ingat seperti membuat schedule dalam mengerjakan sebuah proyek di kantor dahulu. Dulu aku berpacu dengan schedule project, sekarang berpacu dengan waktu dan aktivitas-aktivitas rutin dalam keseharian di rumah. Mulai dari pagi bangun tidur dengan persiapan anak ke sekolah dan suami pergi ke kantor, memasak dan membereskan rumah, menjemput anak dari sekolah, mengantar dan menjemput anak beraktivitas lain diluar jam sekolah, mengajar pendidikan agama untuk anak, berbelanja sampai dengan bermain bersama anak di rumah. Kadang kegiatan-kegiatan itu begitu amat membosankan sekaligus menyenangkan. Ya menyenangkan, karena semua berjalan sesuai dengan jadwal yang aku tetapkan.
Setelah menjalani kehidupan menjadi seorang Stay at home mom selama hampir 7 tahun ini di sebuah kota yang jauh sekali dari tanah air, aku semakin menyadari arti pentingnya peranan seorang ibu. Ketakutan-ketakutan yang dahulu menghantuiku yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja tanpa berkarier di kantor mulai memudar. Aku mensyukuri keadaanku sekarang.
Semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu hatiku karena memilih menjadi ibu rumah tangga, kini juga terjawab. Bahwa sebenarnya sekolah tinggi, IP tinggi, karier yang didapatkan di kantor dahulu adalah bekal buatku untuk bisa menjadi seorang ibu yang baik di rumah. Semua itu ternyata berguna mengoptimalkan kemampuan kita di rumah. Semua kemampuan dan pengalaman itu ternyata bisa diimplementasikan. Amazing !(NzG)
Artikel ini di muat di Majalah Golden Child, edisi Feb 2007. |