We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Si Kecil Susah BAB, Bunda Pun Gelisah
Si Kecil Susah BAB, Bunda Pun Gelisah E-mail
Pengirim: Herlina Sugeha   
Kamis, 28 Juni 2007

 Sungguh menyenangkan dapat mengamati setiap detik pertumbuhan dan perkembangan bayi kita. Paling tidak itulah yang saya alami sebagai ibu dari seorang batita berusia 8,5 bulan. Ada saja tingkah pola yang membuat lisan dan hati ini bersyukur kala melihatnya tumbuh dengan sehat.

Tapi sebaliknya rasa gundah, gelisah dan khawatir kerap menggumpal di dada manakala melihatnya sakit. Untuk itu alangkah baiknya setiap ibu atau pengasuhnya (bisa Ibu kita atau baby sitter) mengenali pola aktifitas si kecil, mulai dari makan hinga si kecil beranjak tidur. Salah satu aktifitas yang perlu kita cermati adalah pola buang air kecil atau besarnya. Kalau dalam artikel sebelumnya saya telah berbagi info tentang pola jagoan kecil kita saat buang air kecil. Kali ini saya coba berbagi info tentang pola buang air besar pada bayi kita.

Suatu hari, seperti biasa suami saya menjemput saya di kantor untuk pulang bersama. Tapi karena masih ada sedikit pekerjaan yang masuk tenggat deadline, maka kami harus putar haluan kembali. Kebetulan kantor kami memang dekat. Saya manfaatkan kesempatan itu untuk bersilaturahmi dengan teman-temannya. Dalam kehangatan dan keramahan itu, tiba-tiba Bu Tita, sebut saja demikian, menggamit tangan saya ke ruang kerjanya. Rupanya ia ingin sedikit curhat tentang buah hatinya yang selisih 1,5 bulan dengan buah hati saya. Yang cukup membuat saya iri padanya adalah Bu Tita masih memberikan ASI ekslusif pada buah hatinya. Aktifitas ini tak lagi dikenal buah hati saya sejak ia berusia 4 bulan. Singkat cerita Bu Tita curhat tentang kebiasaan si kecil saat buang air besar yang seminggu sekali itu.

Saat itu saya memang tidak langsung memberinya saran pamungkas yaitu mengunjungi dokter anak. Tapi saya sedikit membagi info padanya. Berdasarkan literatur yang pernah saya dapatkan, bahwa bayi berusia di bawah satu tahun memang belum menemukan pola buang air yang teratur. Hal ini dikarenakan bayi juga sedang beradaptasi menggunakan semua organ tubuhnya secara mandiri.

Namun demikian, ada baiknya kita mengenali seperti apakah buang air besar yang normal itu bagi bayi. Pertama, frekwensi yang sering bukan berarti ada masalah dengan pencernaan si kecil. Terbilang masih normal bila bayi buang air besar beberapa kali sehari kira-kira 2-4 kali atau sampai hanya beberapa hari sekali (misalnya 3 hari sekali).

Ciri kedua yang perlu kita kenali adalah jika ada perubahan pola, bentuk dan warna feses bayi. Perubahan tersebut dapat berarti adanya pengaruh dari minuman dan makanan yang dikonsumsinya atau bisa juga karena kelainan pencernaan.

Bagi bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif di bawah usia 6 bulan, biasanya bentuk fesesnya konsisten seperti bubur atau lebih padat tapi bukan keras. Sementara bayi yang mendapatkan kombinasi keduanya yang hanya mendapatkan susu formula saja atau yang kerap berganti susu formula dapat memiliki permasalahan tersendiri.

Ciri ketiga yang tak kalah penting untuk kita ketahui adalah dengan mengenali warna tinjanya (feses). Pengalaman ini saya dapatkan saat membawa si kecil ke sebuah klinik tumbuh kembang anak, dokter menyarankan saya memperbaiki penatalaksanaan ASI karena saat itu feses di kecil berwarna hijau.

Berikut penjelasannya :
"X Kuning, dicatat sebagai feses yang normal. Bahkan tanda ini juga menjadi ciri feses orang dewasa. Biasanya bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif fesesnya berwarna kuning cerah.
"X Hijau, dicatat bahwa feses ini juga terbilang normal. Meskipun demikian, warna ini tidak boleh terus-menerus muncul. Penatalaksanaan ASI yang kurang tepat membuat bayi lebih dulu mendapatkan ASI depan (foremilk) yang banyak mengandung gula-laktosa dan sedikit lemak yang membuat bayi cepat lapar. Sedangkan ASI belakang (hindmilk) lebih banyak mengandung lemak yang membuat feses bayi menjadi kuning. Selain itu bagi bayi yang telah mendapatkan kombinasi susu formula juga memiliki ciri feses berwarna kuning tua dengan gradasinya hingga kecoklatan dan hijau tua.
"X Merah, sudah barang tentu kita bisa langsung mengasumsikan bahwa ada darah yang melekat bersama fesesnya. Sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk memastikannya sebelum terlambat.
"X Putih keabu-abuan, dicatat sebagai feses yang positif mengalami gangguan pencernaan. Seberapa besar derajatnya, lagi-lagi hasil observasi lab dan analisa dokterlah yang dapat menjawabnya.

Biasanya bayi yang mengalami masalah buang air (sembelit atau mencret) cenderung terlihat lebih rewel. Tak jarang bagian anusnya terdapat ruam kemerahan akibat iritasi. Selain itu yang perlu juga diwaspadai adalah jika perut bayi terlihat kembung, membesar dan kerap mengalami sembelit diiringi demam. Keluhan ini amat serius. Bisa dipastikan si kecil mengalami hirschsprung ( http://www.wrm-indonesia.org/kumpulan-artikel/kesehatan-kita/sembelit-atau-hirschsprung.html ) Kelainan ini adalah bawaan lahir, sehingga dapat diketahui di awal usia bayi.

Sebagai ibu yang bijak, tentu kita tak akan membiarkan kegundahan dan kekhawatiran mencengkram hati kita. Setelah memastikan penyebab keluhan si kecil saat buang air besar, ada baiknya tips berikut ini kita lakukan,
1. Pastikan penatalaksanaan ASI telah tepat dan benar.
2. Bila bayi mencret sementara hanya ASI yang diberikan, jangan berpikir untuk menghentikannya. Pastikan bayi tidak kembung dan tetaplah memberinya ASI. Mencret menunjukkan bahwa bayi masih dalam tahap adaptasi.
3. Bila bayi sudah mengenal PASI, tambahkan makanan berserat pada menunya (sayur dan buah). Pemberian air putih juga cukup membantu.
4. Jangan abaikan masalah hieginitas perlengkapan makan bayi. Rebus alat makan dan minumnya dengan air atau rendam selama kurang lebih 3menit dengan air mendidih.
5. Lakukan olahraga ringan pada bayi dengan menekuk tungkai bawahnya perlahan-lahan hingga menyentuh perutnya. Gerakan ini membantu bayi buang air besar.

Bila semua hal di atas bisa kita cermati, insya Allah sedini mungkin kita telah membantu si kecil melewati hari-harinya dengan nyaman. Alangkah baiknya anggota keluarga kita ikut memahami masalah ini.

Disadur dari berbagai sumber dan pengalaman penulis
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement