|
|
 |
       
|
Beranda Kumpulan Artikel Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja? |

|
Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja? |
|
|
Pengirim: Aminah Mustari
|
|
Kamis, 21 Juni 2007 |
Para ibu banyak yang mengalami dilema dalam peran yang mereka mainkan. Satu sisi mereka menginginkan untuk mengasuh anak-anak sepernuhnya, di sisi lain mereka tetap ingin berkarya dan membantu perekonomian keluarga.
Kedua pilihan ini sering begitu sulit diputuskan. Akhirnya seringkali ada ketidaksesuaian antara keinginan dengan kenyataan yang dijalani para ibu. Seorang ibu rumah tangga mungkin memendam kecewa karena tidak dapat mengaktualisasikan diri sebagai pribadi yang utuh, tidak hanya sebagai seorang ibu. Dan kebalikkannya, seorang ibu pekerja bisa jadi menjalani hari dengan rasa bersalah karena meninggalkan anak-anak di rumah dalam pengasuhan orang lain.
Ibu Rumah Tangga
Menjadi seorang stay at home mother adalah bentuk ideal peran seorang ibu. Dengan segala rasa, karakter, dan kelembutan yang dimiliki seorang perempuan, anak-anak akan tumbuh dengan kepekaan dan perasaan sebagai seorang manusia. Bukan berarti seorang ayah tidak dapat membesarkan putra-putrinya, tetapi ada kesan yang tidak dapat diberikan oleh seorang laki-laki.
Namun sayang, menjadi seorang stay at home mother tidak jarang melahirkan perasaan kurang puas. Hal ini wajar karena seorang ibu adalah juga seorang wanita dewasa yang punya keinginan dan cita-cita sendiri. Tapi tidak menutup kemungkinan seorang ibu menjalani perannya menjadi ibu sepenuhnya dengan semangat dan keceriaan. Ia menjadikan mengasuh anak hingga dewasa adalah cita-citanya sendiri.
Meski demikian, perlu ada kesempatan bagi para ibu rumah tangga penuh ini bagi dirinya sendiri. Harus ada tempat untuk aktualisasi dirinya. Karena tidak dapat disangkal, setiap manusia membutuhkan eksistensi. Menurut Abraham Maslow (1960), manusia mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri dan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang dijalaninya. Kebutuhan ini dapat direalisasikan dalam kegiatan-kegiatan dan forum-forum informal sedapat mungkin diikuti oleh seorang ibu rumah tangga. Di dalamnya sang ibu diharapkan dapat berkarya, berkreasi, mencipta, mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, berbagi ilmu dan pengalaman.
Sebenarnya, pekerjaan seorang stay at home mom tidak kalah rumitnya dengan apa yang dikerjakan seorang manager. Ia harus merancang konsep pendidikan yang sifatnya global dan jangka panjang, hingga pada program-program kegiatan yang akan dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Pekerjaan ini bisa sangat menyenangkan bila ditekuni. Anda tidak kalah dengan wanita bekerja. Malah Anda punya sebuah nilai luar biasa yang tidak didapatkan oleh ibu bekerja, yakni waktu dan kesempatan Anda bersama anak-anak. Banyak ibu- bekerja yang sangat mendambakan apa yang Anda miliki saat ini.
Lakukan kegiatan bersama anak secara menyenangkan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Untungnya Anda punya banyak waktu untuk memikirkan variasi dan melakukan kegiatan itu sendiri.
Ibu Pekerja
Seorang ibu yang menjalani peran ganda tidak dapat dipungkiri harus membagi waktunya antara pekerjaan dan keluarganya. Menjadi bagian dari people of 9 to 5 setiap hari membuatnya harus kehilangan waktu bersama keluarganya, terutama anak.
Dra. Agustine Sukarlan Basri, M.Si, staf pengajar di Fakultas Psikologi UI menyatakan bahwa kecenderungan ibu bekerja bukan semata karena mereka senang bekerja, tetapi kebanyakan karena ingin ikut berperan dalam mendukung ekonomi keluarga. Namun beragam alasan melatari keputusan seorang ibu untuk bekerja atau tidak. Apa pun alasannya tidak dapat dipungkiri bahwa seorang ibu tidak dapat menghindari perasaan bersalah meninggalkan anak di rumah untuk bekerja. Beberapa di antara mereka berusaha mengurangi perasaan bersalahnya dengan membuat berbagai kompensasi. Misalnya dengan membelikan banyak mainan.
Meski tidak sepenuhnya menghadapi anak-anak yang sering memusingkan, seorang ibu bekerja tidak kalah rumit persoalannya dengan ibu rumah tangga. Selain ia sering harus menanggung rasa bersalah, ia juga harus menghadapi permasalahan di kantor. Ini dapat memicu ketegangan dan stress yang berat bagi ibu bekerja.
Namun demikian, banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh ibu bekerja. Antara lain, mendukung ekonomi rumah tangga, meningkatnya harga diri dan pemantapan identitas, relasi yang sehat dan positif, pemenuhan kebutuhan sosial, serta peningkatan skill dan kompetensi.
Bekerja Separuh Waktu Untuk Ibu
Bagi ibu yang tetap ingin menjalani perannya sebagai ibu, tetapi tidak ingin kehilangan kesempatan untuk aktualisasi diri atau bahkan membantu perekonomian keluarga, dapat mencari kesempatan bekerja paruh waktu. Artinya pekerjaan yang tidak menyita seluruh waktu aktivitas kita. Bisa jadi pekerjaan yang hanya beberapa jam setiap hari, atau beberapa hari saja dalam seminggu. Jenis pekerjaan ini misalnya penulis, editor, illustrator, guru, dosen, dll.
Memang tidak banyak bidang kerja yang dapat dilakukan dengan sistem paruh waktu ini. Seringkali bentuk pekerjaan mother friendly ini terbentur pada system kebanyakan yang berlaku pada perusahaan. Pada umumnya perusahaan-perusahaan masih terfokus pada time quantity daripada output quality. Selain itu juga jenis pekerjaan ini tidak terlalu menjanjikan dari segi ekononomis. Pun bila kita ingin target yang cukup tinggi, kita harus berusaha lebih keras sebagai self-employee untuk mencapai target itu. Tetapi lagi-lagi Anda akan terbentur dengan waktu dan kesanggupan fisik. Bagi seorang ibu yang mengutamakan keluarga, tidak perlu karir dan pendapatan yang tinggi bukan? Asalkan ia bisa berkarya, mengaktualisasikan diri sudah cukup baginya.
Selain jenis pekerjaan paruh waktu di atas, pekerjaan yang tepat juga bagi para ibu adalah membuka usaha (bisnis) sendiri. Mungkin pekerjaan ini lebih sulit dan menyibukkan, tetapi setidaknya sang ibu bisa tetap memiliki kebersamaan penuh dengan keluarganya karena tidak ada pembatasan waktu baginya. Yang dibutuhkan hanya pengaturan waktu saja, bila sang ibu menghendaki memiliki waktu khusus saat “bekerja”.
Beberapa Kiat untuk Para Ibu 1. Managemen diri. Kenali diri Anda. Seberapa tinggi tingkat toleransi Anda terhadap stress dan apa yang membuat Anda stress. Hindari tindakan yang memiliki peluang untuk menambah persoalan dan tekanan. Ubah cara berpikir negative. Jika Anda sudah mulai stress karena tekanan atau kelelahan, istirahat sejenak. Lakukan aktivitas yang Anda sukai. Rileks dan berpikirlah positif. Canda dapat melepaskan kejenuhan, ketegangan, dan kebosanan.
2. Managemen waktu. Tentukan dan tetapkan tujuan Anda. Buat prioritas. Anda dapat menetapkan jadwal kegiatan sambil memberi fokus pada hal-hal tertentu. Susun agenda agar lebih sistematis dan efisien. 3. Managemen keluarga dan pekerjaan. Untuk mendapatkan quality time bersama, Anda perlu bersikap lebih efisien dan produktif dalam pekerjaan (bila Anda working mom). Semakin cepat Anda menyelesaikan pekerjaan dengan baik, semakin minim masalah yang muncul. Semua anggota keluarga (termasuk suami) dapat ikut berperan dalam agenda tugas dan kegiatan yang Anda susun. Buka komunikasi dan jadikan diri Anda motivator dalam keluarga. Jangan ragu untuk mendelegasikan tugas bila memang diperlukan. Tidak ada salahnya untuk membayar seorang assistant jika terlampau banyak yang Anda kerjakan. Tugas yang tidak strategis dapat didelegasikan kepadanya. Ingat, Anda adalah manager rumah tangga, bukan pembantu!
4. Dukungan sosial. Pelihara dukungan dengan semua orang di sekitar Anda, termasuk rekan kerja dan atasan (jika Anda ibu bekerja). Dukungan dari mereka semua dapat membuat Anda lebih bersemangat. Keberadaan mereka juga dapat membantu Anda saat menghadapi masalah baik secara fisik maupun emosinal.*
Aminah Mustari, tebarkebaika at yahoo.com |
|
|
Ke Atas  |
|
 |
|
|