|
|
 |
       
|
Beranda Kumpulan Artikel Strategi Mengontrol Astma |

|
Strategi Mengontrol Astma |
|
|
Pengirim: Nieza Graha
|
|
Kamis, 07 Juni 2007 |
Tanggal 1 Mei 2007 adalah Hari Asma Sedunia yang telah ditetapkan oleh the Global Initiative for Asthma (GINA). Tema yang diangkat tahun ini adalah “You Can Control Your Asthma”.
Sesak nafas dialami oleh sesorang yang mengidap astma ketika penyakitnya itu kambuh, mereka mengalami kesulitan dalam proses bernafasnya. Ketika Astma itu menyerang, penderita harus berusaha menghadapi serangannya itu, mereka berjuang menghadapi Astma yang kambuh, tidak sedikit keluarga yang menjadi panik dan bingung menghadapi serangan Astma yang terjadi itu.
Tidak jarang ruang ICU di rumah sakit menjadi pilihan terakhir sebagai tempat penderita Astma bermalam yang aman agar Astma yang kambuh itu dapat segera diatasi dan mereda hingga akhirnya mereka bisa bernafas dengan normal kembali.
Astma memang sebuah penyakit yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat, terutama sekali adalah anak-anak. Penyakit ini sangat berkaitan dengan faktor keturunan. Dimana bila salah satu atau kedua orang tua, maupun kakek atau nenek menderita Astma maka sang anak pun akan menderita Astma. Tetapi banyak juga terjadi ketika kedua orang tua tidak menderita Astma tetapi anaknya Astma.
Selain disebabkan oleh faktor keturunan, faktor lain pun dapat memicu timbulnya Astma seperti faktor Alergi yang dimiliki oleh seseorang dan juga factor lingkungan.
Astma adalah penyakit peradangan pada saluran nafas yang kronik. Biasanya seseorang yang berpenyakit Astma akan mengeluhkan adanya sesak nafas, nafas berbunyi ngik-ngik, batuk, rasa tidak enak di dada. Serangan ini biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh/pagi hari.
Dalam tubuh, pipa saluran nafas jika masuk ke dalam paru-paru akan bercabang-cabang menjadi ribuan pipa-pipa atau saluran nafas yang sangat kecil. Pada penderita Astma saluran inilah yang mengalami penyempitan.
Penyempitan yang terjadi bisa disebabkan oleh mengkerutnya otot- otot yang melingkari saluran nafas, membengkak dan meradangnya jaringan sekitar selaput lendir saluran nafas tersebut dan meningkatnya pula produksi lendir atau dahak yang terjadi dan ini mengganggu ke saluran nafas. Akibatnya aliran udara yang masuk maupun yang keluar dari paru-paru terhambat dan terganggu. Disinilah mulai terasa sesak nafas dan serangan Astma mulai terjadi.
Serangan Astma yang terjadi seringkali mengganggu aktivitas penderitanya dalam kehidupan sehari-hari, membuat panik keluarga. Sebenarnya penyakit Astma ini bukanlah penyakit yang menakutkan. Penyakit Astma dapat dikendalikan, kambuhannya dapat dicegah agar tidak sering timbul dan dapat diatasi dengan cara mengkontrolnya.
Beberapa strategi untuk mengontrol Astma tersebut adalah:
1. Mengetahui dengan jelas tentang penyakit Astma. Seseorang yang mengidap Astma sebaiknya mengenal dengan jelas seluk beluk penyakit yang dideritanya. Mengetahui dengan jelas apa sebenarnya penyakit Astma yang dideritanya itu. Pengenalan tentang Astma ini sebaiknya bukan hanya untuk pasien yang menderita Astma saja, tetapi juga kepada keluarganya. Dengan mengetahui dengan jelas penyakit yang di deritanya akan terbentuk sebuah motivasi positif dalam diri pasien dan keluarga untuk mengatasi Astma yang diderita.
2. Mengenal faktor-faktor yang memicu kambuhnya serangan Astma. Serangan Astma biasanya diawali oleh faktor-faktor pemicu yang membuat penyakit ini kambuh. Dengan mengetahui, mempelajari serta memahami faktor-faktor pemicu timbulnya serangan Astma yang terjadi, penderita dapat mengkontrol agar Astmanya tidak sering kambuh.
Faktor-faktor pemicu serangan Astma pada setiap penderita Astma tidaklah sama. Faktor pemicunya dapat berupa alergi, perubahan udara, infeksi, makanan, kelelahan, obat-obatan maupun asap rokok.
Sebagian besar serangan Astma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya tersebut. Dengan mempunyai kesadaran yang penuh dari penderita Astma untuk mengontrol faktor pemicunya kambuhan yang sering terjadi dan membahayakan penderita tersebut dapat dihindari.
3. Pengobatan Astma Pengobatan tidak hanya dilakukan ketika serangan Astma terjadi, tetapi juga saat tidak terjadi serangan. Pasien perlu memahami obat yang harus digunakan pada waktu serangan dan di luar serangan. Pada prinsipnya pengobatan Astma disesuaikan dengan berat penyakitnya.
Obat Astma dibagi dalam 2 kelompok, yaitu obat rutin dan obat emergency.
Obat rutin adalah obat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan Astma. Obat ini dipakai secara terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, tergantung pada berat ringannya penyakit Astma yang diderita. Obat rutin ini harus digunakan setiap hari untuk mencegah terjadinya kambuhan serangan dan bertambah beratnya penyakit Astma itu.
Obat emergency adalah obat yang harus segera digunakan ketika serangan Astma datang. Obat ini berfungsi untuk meredakan serangan atas Astma yang sedang terjadi. Penggunaan obat ini dapat mencegah timbulnya serangan asma yang berat. Bila serangan sudah dapat diatasi maka obat emergency ini tidak digunakan lagi.
4. Latihan olahraga yang teratur Banyak orang yang mengatakan bahwa penderita Astma tidak boleh berolahraga karena akan memicu timbulnya serangan Astma. Pendapat ini sebenarnya tidak benar. Penderita Astma sebaiknya justru melakukan olahraga yang teratur.
Penderita Astma sering mengalami sesak nafas, sehingga perlu adanya latihan olahraga pada tubuhnya agar otot-otot yang ada dalam tubuh dapat bekerja secara teratur, terutama untuk otot-otot pada fungsi pernafasan.
Sebelum melakukan olahraga sebaiknya penderita Astma melakukan latihan pemanasan terlebih dahulu, dan jika perlu menggunakan obat sebagai pencegahan sebelum melakukan aktivitas olahraga.
5. Secara teratur mengkontrol Astma ke dokter Penderita Astma sebaiknya melakukan kontrol secara teratur ke dokter. Dengan melakukan kontrol secara teratur ini penderita Astma dapat mengetahui dengan jelas bagaimana perkembangan dari penyakit yang dideritanya, dan mungkin pula dilakukan penyesuaian atas obat-obat yang dipergunakannya sesuai dengan kondisi tubuhnya.
Ketika melakukan kontrol ke dokter itu perlu adanya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien dan juga keluarganya. Pasien jangan malu untuk banyak menanyakan perkembangan penyakitnya dan dokter pun jangan pelit untuk memberikan penjelasan agar pasien mengerti dan memahami penyakitnya.
Dengan disiplin dan kontinyu mengontrol Astma yang dideritanya, para penderita Astma dapat hidup secara normal dan wajar. Mengurangi serangan yang akan terjadi dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari yang dilakukan. Hidup dengan Astma tidak lagi bermasalah dengan disiplin anda untuk mengontrolnya (NzG)
Artikel ini dimuat di gatra.com/artikel.php?id=104296
Munich, April 2007 Nieza Graha
|
|
|
Ke Atas  |
|
 |
|
|