|
Ditemani sinar sang surya yang masih nampak malu memunculkan warna keemasannya, tanah Echterdingen kami tinggalkan. Walau keberangkatan ini harus mengalami keterlambatan beberapa menit, ada rasa lega di hati karena akhirnya rencana kami terlaksana.
Trayek Stuttgart - Fiumicino via Zuerich akan kami tempuh dengan jasa Swiss Air yang memiliki lambang dominasi merah putih sebagai pengenalnya. Kudapan coklat mungil, muffin dan teh hangat dari maskapai penerbangan cukup menjadi pengganjal perut yang tak sempat diisi, saat harus mengejar waktu di pagi buta untuk segera pergi menuju bandara. Rasa manis di makanan ringan tersebut ternyata sangat bermanfaat di kondisi kami saat itu. Sedikit sumbangan energi hasil pemecahan glukosa si kudapan langsung diuji manfaatnya, mengingat kami harus berlari layaknya pelari marathon saat mengetahui tinggal tersisa sepuluh menit lagi agar kami tak tertinggal oleh penerbangan selanjutnya ke Ital, Aeroporto internazionale Leonardo da Vinci.
Sebagai penumpang terakhir yang masuk pesawat, ada rasa tak nyaman menyusup di hati. Siapa pula yang ingin berlari lari dengan bawaan ransel menyamai tinggi kepala seperti tadi? hibur hati saya. Ah, biarkan saja beberapa tatapan mata yang tak menyenangkan itu. Keterlambatan di Echterdingen bukan karena kesalahan saya. Setelah berusaha menenangkan nafas yang masih terengah-engah, kami berusaha memejamkan mata untuk menikmati aroma dan rasa suguhan aneka coklat dan kue kue manis. Keramahan sang pramugari yang sopan bercakap dengan bahasa setempat pada kami cukup membantu menghilangkan ketidaknyamanan akibat keterlambatan tadi.
Berbekal tips menyimpan rapih dompet dan barang-barang berharga, sesampai di Leonardo da Vinci, kami susuri bandara untuk mencari stasiun kereta. Layaknya berada di kota Jakarta, tak sulit nyatanya. Kereta ekspress dengan karcis seharga 11 euro tak lama pun tiba. Perjalanan 35 menit menggunakan Leonardo Express ternyata benar-benar membuyarkan bayangan masa kecil saya tentang kota Rom yang katanya menawan. Warna dominan terakota, cat bangunan-bangunan yang bercampur dengan debu terlihat kusam keabu-abuan. Bangunan-bangunan kuno yang dibiarkan seperti keadaan aslinya semakin terlihat lusuh. Kesemerawutanlah yang hanya tampak dari pandangan mata saya yang terbatas dari balik kaca kereta cepat berdebu cukup tebal. Kereta tersebut nyatanya tak secepat yang saya bayangkan. Tak menarik, itulah kesimpulan yang saya ambil tentang kota ini.
Setengah jam berlalu, Termini Stazione akhirnya dapat dicapai. Semerawut, tak teratur, kesan itu yang pertama kali tertangkap. Terlebih bila sedikit melirik kondisi Ferrovia Regionale (FR 1), kereta hibah dari Jepang yang jauh dari modern. Kereta langganan di Depok rasanya lebih dapat dianggap layak.
Bermodal peta gratisan dari bandara, kami mencoba mencari beberapa alamat penting yang harus ditemukan. Berjalan dari Via Domenichino hingga Viale delle Terme di Caracalla, makin membuat saya bertanya tanya, sudut manakah yang dapat mewakili impian masa kecil saya akan keindahan dan keromantisan di kota Rom? Entah mungkin jiwa saya yang tak romantis dan kurang dapat menikmati suatu estetika, unsur-unsur itu minimalis sekali saya temukan di kota ini.
Saat menelusuri waktu-waktu tersisa saat matahari bersinar keemasan di Rom bersama sahabat lebih terasa indah buat saya. Atau ketika mendengar suara kekasih hati nun jauh disana, terasa lebih romantis di hati saya.
Jadi, adakah yang cukup menarik di sini? Ternyata ada, sejarah! Ya, beberapa sejarah masa lalu yang dimilik Rom, akhirnya cukup menarik perhatian saya. Empat kali pulang pergi Via Domenichino- Viale delle Terme di Caracalla mau tak mau menarik saya ke alam masa lalu. Tak bisa disangkal, saat saya memandang Colloseum, Roman Forum dan Fori Imperiali, merinding saya membayangkan saat bangunan bangunan tinggi tersebut didirikan. Berapa banyak jiwa dan tenaga yang dipaksa untuk bekerja atas nama kejayaan dan kemegahan. Tak terbayangkan, betapa gemuruhnya Colloseum saat Gladiator-gladiator (dipaksa) menunjukkan aksinya yang dapat berbuntut hilangnya hati dan jiwa manusia. Saya merinding membayangkan semua itu. Betapa kadang diri lupa akan kesementaraan kita di alam fana ini. Berlaku semena saja pada alam semesta dan manusia lainnya. Padahal semuanya satu saat akan bersatu dengan bumi. Terasa tusukan di hati. Sejarah itu ternyata kadang tak membuat diri saya belajar. Rom memang dihiasi dengan banyak bukti-bukti sejarah masa silam. Sejarah yang buat saya, terlihat sedikit kelabu.
Hubungan pedagang kaki lima dan polisi juga cukup menarik buat saya. Di tempat tempat strategis seperti jalan-jalan raya di sekitar Termini ataupun menuju Vatikan, pedagang kaki lima berkulit coklat asia dan hitam lah yang mendominasi. Papan tipis dagangan yang didesain sedemikian rupa agar dapat dijadikan meja yang siap diapit saat polisi datang, membuat sejumput senyum saya muncul. Lebih membuat saya tersenyum, saat polisi datang untuk melakukan aksi razia, unsur manusiawi ternyata juga bermain di sana.
Aturan tak tertulis untuk hanya merazia pedagang yang tetap nekat menggelar dagangannya saat polisi menghampiri, diterapkan. Minimal, ini yang terlihat di jalan sekitar Vatikan. Karenanya bagi pedagang kaki lima, aksi bersembunyi di balik mobil ataupun berdiri diam sambil mengapit papan dagangannya menjadi bentuk tas datar lebar sambil berpura pura tak melihat polisi, cukup membuat pak polisi tak melakukan aksi razianya.
Padahal saya yakin, polisi itu pun mengetahui keberadaan sang pedagang. Pun bila ada keadaan tertentu dimana ia harus merazia, perlakuan sang polisi pun masih manusiawi dan tidak semena mena. Tak ada penghancuran barang, apalagi pemukulan. Ya, bagaimanapun pedagang tersebut manusia. Bila saya menjadi pedagang kaki lima, saya tentu ingin diperlakukan sebagai manusia. Mereka pun tentu juga, pun saat mereka berbuat salah :(. Saat itu, teringat pula saat Pak Zeller berkata, kemiskinan sebenarnya diciptakan oleh pelakon panggung politik ataupun markets dan institusi, bukan sepenuhnya kesalahan orang orang miskin itu sendiri...
Uebrigens,
Jadi.., apa yang menarik dilakukan selama 5 x 24 jam di sana? Ternyata, tak sepenuhnya kesimpulan yang saya tarik diawal kedatangan terbukti. Tetap ada hal yang menarik di kota ini. Walau tak dapat disangkal, rindu dan kangen dengan "rumah" dapat berperan menjadi sedikit tabir penutup kemampuan untuk menikmati suasana.
Perjumpaan dengan teman saya sekeluarga, seharian menyimak suara dari atas podium, temu kangen dengan Prof. Soekirman dan rekan. Makan bersama, bertemu dengan teman lama yang diselingi dengan perberbincangan sejenak, menyimak diskusi sengit F75-F100-PlumpyNut ternyata juga dapat membuat waktu 5 x 24 jam saya terasa berharga. Bahkan, mengenal Rom dari banyak sudut, dapat menjadi kaca baru buat saya untuk mengambil waktu untuk kembali bercermin.
Tak terasa, Leonardo Express kembali membawa kami ke Fiumicino. Bagasi yang tidak ditimbang membuat saya lega. Lega, mengingat saya tak bisa membuat lagi prioritas lembar-lembar dan buku- buku mana yang harus saya tinggal.
Bergantinya ruang tunggu tanpa pemberitahuan berulang, terlambatnya keberangkatan sang pesawat hingga tertahan berjam jam di Zuerich sebenarnya cukup membuat badan yang terasa penat semakin menjadi remuk. Namun rasa rindu akan aroma dan suasana rumah yang dihiasi "kicauan-kicauan" kekasih hati seakan menjadi sumber energi malam hari yang mampu membuat kelopak mata terbuka kembali.
Mual akibat getaran pesawat karena cuaca yang tidak bersahabat di wilayah udara Baden Wuerttemberg sirna saat lambaian kekasih hati terlihat dari kejauhan. Bahkan ia hilang sempurna, kala memandang tiga pasang mata yang telah terlelap tidur karena terlalu lama menunggu kedatangan sang bunda.
Terimakasih Rom. Ternyata kau tambahkan juga volume cinta dan sayang pada kekasih-kekasih hati saat sekembali ragaku dari sana. (@DaI) |