We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow LINDUNGI ANAK KITA DARI KEKERASAN : Belajar dari Amerika
LINDUNGI ANAK KITA DARI KEKERASAN : Belajar dari Amerika E-mail
Pengirim: Hani Iskadarwati   
Senin, 14 Desember 2009

 Salah satu dampak dari pola hidup individualisme di negara maju seperti Amerika Serikat adalah kompetisi kehidupan yang sangat tinggi, dan tuntutan akan kemandirian seseorang di dalam bermasyarakat. Seringkali ini berbuntut dengan tingkat stress yang tinggi pula, dan tak jarang berakhir dengan depresi dan gangguan mental kejiwaan. Siapa lagi yang sering berbenturan dengan masalah kekerasan kalau bukan perempuan dan anak-anak?
 
Di Indonesia, berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak, selama 2003 terdapat 481 kasus kekerasan. Jumlah ini meningkat menjadi 547 kasus tahun 2004, dimana 221 kasus merupakan kekerasan seksual, 140 kekerasan fisik, 80 kekerasan psikis, dan 106 permasalahan lainnya.

Mari kita bandingkan dengan kondisi di Amerika Serikat. Dari laporan kantor-kantor perlindungan anak yang tersebar di seluruh Amerika, setiap minggunya masuk sekitar 50 000 laporan akan kekerasan dan penelantaran anak. Pada tahun 2002, ada 2,6 juta laporan mengenai masalah kesejahteraan dari sekitar 4,5 juta anak. 67% dari laporan ini memiliki data lengkapuntuk dapat diteruskan penyelidikannya. Hasilnya, 896 000 anak terbukti menjadi korban kekerasan dan penelantaran anak, dengan rata-rata 2 450 anak setiap hari menjadi korbannya.
 
Kriteria apa saja yang termasuk di dalam kekerasan dan penelantaran anak yang terjadi?
 
Lebih dari 60 % mengalami penelantaran, dalam artian orang tua atau orang yang merawatnya gagal memenuhi kebutuhan dasar anak. Lebih dari 20 % mengalami kekerasan fisik, 10 % mengalami kekerasan seksual, 7 % mengalami kekerasan emosional termasuk di dalamnya selalu dimarahi, dicemooh, dikritik, ditolak kehadirannya, dan ditolak untuk dirawat dan dipelihara. Rata-rata ada 4 anak per hari meninggal akibat kekerasan dan penelantaran ini, menghasilkan jumlah total 1200 anak meninggal dalam tahun 2002.
 
Anak laki-laki maupun anak perempuan memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi korban. Dari seluruh populasi penduduk yang ada, 54 persen berkulit putih, 26 persen adalah keturunan Afrika-Amerika, 11 persen adalah keturunan Hispanik, 2 persen keturunan Indian-Amerika, dan 1 % keturunan Asia-Amerika.
 
Semakin muda usia anak, semakin besar kemungkinan mengalami kekerasan dan penelantaran. Anak di bawah usia 1 tahun mencapai 41  % dari semua korban meninggal yang dilaporkan di tahun 2002, 76 % yang meninggal berusia di bawah 4 tahun.
 
Mereka yang melaporkan adanya tindak kekerasan tersebut 16 % adalah guru, 16 %petugas di bidang hukum, 13 % petugas sosial, dan 8 % petugas medis. Namun yang terbanyak, 44 % adalah orang yangberada di sekitar anak, yaitu, orang tua, keluarga, teman, dan tetangga. Laporan anonim mencapai 10 % dari keseluruhan laporan yang masuk.
 
Data-data di atas hanyalah data kekerasan yang dilakukan di rumah oleh orang tua, bukan data kekerasan dari orang di luar rumah dan orang asing.
 
Mengingat arus globalisasi yang juga merambah ke Indonesia, perlulah kita sebagai orang tua untuk semakin waspada dan mengenali tanda-tanda kekerasan pada anak ini. Mencegah adalah jauh lebih baik daripada menanggulangi bila sudah terjadi.
 
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui tanda-tanda anak yang menjadi korban kekerasan dan penelantaran.
 
Mengenali Kekerasan Pada Anak
 
Pada Anak
Menunjukkan perubahan pada tingkah laku dan kemampuan belajar di sekolah.
Tidak memperoleh bantuan untuk masalah fisik dan masalah kesehatan yang menjadi perhatian orang tua.
Memiliki gangguan belajar atau sulit berkonsentrasi, yang bukan merupakan akibat dari masalah fisik atau psikologis tertentu.
Selalu curiga dan siaga, seolaholah bersiap-siap untuk terjadinya hal yang buruk.
Kurangnya pengarahan orang dewasa.
Selalu mengeluh, pasif atau menghindar.
Datang ke sekolah atau tempat aktifitas selalu lebih awal dan pulang terakhir, bahkan seringtak mau pulang ke rumah.
 
Orang Tua:
Tak ada perhatian pada anak.
Menyangkal adanya masalah pada anak baik di rumah maupun sekolah, dan menyalahkan anak untuk semua masalahnya.
Meminta guru untuk memberikan hukuman berat dan menerapkan disiplin pada anak.
Mengaggap anak sebagai anak yang bandel, tak berharga, dan  susah diatur.
Menuntut tingkat kemampuan fisik danakademik yang tak terjangkau oleh anak.
Hanya memperlakukan anak sebagai pemenuhan kepuasan akan kebutuhan emosional untuk mendapatkan perhatian dan perawatan.

Orang Tua dan Anak
Jarang bersentuhan fisik dan bertatap mata.
Hubungan di antara keduanya sangat negatif.
Pernyataan bahwa keduanya mtak suka/membenci satu sama lain.
 
Tipe Kekerasan
Kekerasan terbagi atas: kekerasan fisik, penelantaran, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional. Penting untuk diingat bahwa kekerasan antara satu dengan lainnya saling berhubungan. Anak yang menderita kekerasan fisik, pada saat yang bersamaan juga menderita kekerasan emosional. Sementara yang menderita kekerasan seksual juga mengalami penelantaran.
 
Tanda Kekerasan Fisik:
Bila anak mengalami tanda-tanda lebih dari satu, berikan perhatian lebih teliti.
Mengalami luka bakar, gigitan, lebam, patah tulang, mata bengkak menghitam tanpa sebab.
Memiliki bekas lebam, atau bekas luka lain yang masih terlihat setelah absen sekolah.
Kelihatan sangat takut kepada orang tuanya, dan menangis atau berteriak saat waktu untuk pulang.
Ketakutan saat didatangi/didekati orang dewasa.
Ada laporan terluka karena kecelakaan oleh orang tua atau orangyang mengasuhnya.
 
Orang tua dan pengasuhnya:
Tak dapat menjelaskan, memberikan penjelasan yang tak masuk akal atau penjelasan yang berganti-ganti terhadap luka yang diderita anak.
Menggambarkan anak sebagai sulit diatur atau gambaran lain yang sangatnegatif.
Menggunakan kekerasan dalam menerapkan disiplin kepada anak.
Mempunyai sejarah sebagai korban kekerasan di masa kecilnya.
 
Tanda Penelantaran:
 
Pada Anak
Sering absen sekolah.
Tak terpenuhi kebutuhan medis, perawatan gigi maupun perawatan matanya/kacamata.
Meminta-minta/mencuri uang dan makanan.
Sering dalam keadaan kotor dan berbau.
Tak berpakaian yang sewajarnya/secukupnya sesuai musim.
Mengkonsumsi alkohol dan menggunakan obat terlarang.
Menyatakan bahwa tak ada seorangpun di rumah yang merawatnya.

Pada Orang Tua

Orang tua tak acuh pada anak.
Menunjukkan sikap apatis dan depresi.
Tingkah laku tak rasional dan berlebihan.
Penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang.
 
Tanda Kekerasan Seksual:

 
Pada Anak

Kesulitan saat duduk dan berjalan.
Tiba-tiba menolak untuk ganti baju di gym dan kegiatan lainnya.
Mengompol dan bermimpi buruk.
Perubahan selera makan/kehilangan selera makan.
Menunjukkan pengetahuan dan tingkah laku yang berbau seksual yang tak sewajarnya dan tak sesuai dengan usianya.
Menjadi hamil, atau mengidap penyakit seksual terutama di bawah usia 14 tahun.
Lari dari rumah.
Melaporkan kekerasan seksual dari salah satu orang tua atau pengasuh orang dewasa.
 
Pada Orang Tua atau Pengasuh:

 
Over protektif terhadap anak, atau membatasi kontak anak dengan anak lain yang berlainan jenis kelamin.
Sembunyi-sembunyi dan mengasingkan diri.
Iri hati dan menguasai anggota keluarga yang lain.
 
Tanda Kekerasan Emosional:
 
Pada Anak
Menunjukkan tingkah laku yang ekstrim, terlalu menuntut, terlalu mencela, terlalu pasif atau terlalu agresif.
Terlalu bersikap dewasa (mengasuh anak lain), atau terlalu kekanakan (membenturkan kepala ke tembok dsb)
Terlambat perkembangan fisik dan emosionalnya.
Mencoba bunuh diri.
Kurangnya kedekatan dengan orang tua.
 
Pada Orang Tua atau Pengasuh

Selalu menyalahkan, mencemooh, atau memarahi anak.
Tak memperhatikan anak dan tak mau membantu anak mengatasi persoalannya.
Menolak anak secara terang-terangan.

Semakin hari semakin sering kita mendengar adanya kasus kekerasan dan penelantaran anak yang terjadi di sekitar kita. Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan anak lahir batin, marilah kita belajar dari apa yang telah terjadi di negara-negara maju.
 
Saran bagi Orang Tua:

1.  Untuk bersikap lebih peka terhadap kondisi fisik dan mental anak.
2.  Untuk mengenali lebih dekat siapa-siapa saja yang berada di sekitar anak saat anak berada di dalam dan luar rumah.
3.  Untuk  bersatu dengan para orang tua di sekitar, maupun orang tua di sekolah yang sama dengan anak dalam mencegah terjadinya kekerasa dan penelantaran terhadap anak.
4.  Khusus untuk mencegah terjadinya kekerasan dan penelantaran oleh orang di sekitar anak, baik dikenal maupun tak dikenal, perlulah dibuat network antara
pihak yang terkait. Penyuluhan, penjelasan dan penanaman kesiagaan baik pada anak, orang tua, guru dan pihak berwajib untuk mencegah terjadinya hal ini.
5.  Untuk menciptakan hubungan orangtua anak yang sehat, penuh kasih sayang dan terbuka.
6.  Menanamkan keterbukaan pada anak untuk selalu berbagi cerita atas kegiatannya sehari-hari.
7.  Menggalang neighborhood-watching/kesiagaan dan pengamatan sekitar untuk mencegah terjadinya kekerasan dan penelantaran anak.
8.  Menanamkan kepada anak untuk bertindak tepat (berteriak, lari, melawan, tidak sendirian) saat ada orang yang berusaha melakukan kekerasan kepadanya.
9.  Bekerja sama dengan guru dan pihak berwajib, dan segera melaporkan saat terjadi tindak kekerasan terhadap anak.
10. Menjadi orang tua yang penyayang dan melindungi anak-anak, serta menjamin kesejahteraannya.
 
Di saat kebutuhan ekonomi semakin mendesak, kompetisi dan tuntutan kehidupan semakin tinggi, tingkat stress semakin naik, mendekatkan diri kepada Tuhan dan memepererat rasa kekeluargaan adalah salah satu cara menghindarkan diri dari depresi yang dapat berpengaruh pada terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak.
 
Banyak orang tua dan pengasuh yang menjadi mata gelap saat tertimpa kekalutan masalah ekonomi, kehilangan pekerjaan, terlilit hutang maupun berbagai problema kehidupan lainnya. Seorang ayah atau ibu yang tadinya pengasih bisa berubah menjadi "monster" yang menakutkan saat tertimpa depresi atau gangguan kejiwaan lainnya.
 
Bila salah satu anggota keluarga terkena stress yang hebat maupun depresi, carilah bantuan sesegera mungkin, jangan sampai anak-anak yang menjadi korban karena depresi yang tak tertangani atau terlambat ditangani.
 
Siapapun rentan untuk menjadi korban, akibat depresi. Terlebih dari itu, anak-anak kitapun rentan untuk menjadi korban kekerasan dari orang di luar rumah dan orang asing.
Bagaimana menjelaskan kepada anak akan pentingnya mengetahui 'bahaya-bahaya' yang mengancam mereka baik di rumah maupun di luar rumah?
 
Kiranya kita memerlukan pendidikan dan informasi untuk menangani masalah ini. Jangan sampai kita terlambat mengatasi hingga masalah kekerasaan anak mencapai tingkat yang serius baru kita tangani bersama.
 
Lebih baik mencegah daripada menanggulanginya.
 
*************************

Sumber:
 
Komisi Perlindungan Anak Indonesia
http://www.kpai.go.id/

http://pediatrics.about.com/od/childabuse/a/05_abuse_stats.htm
Source: U.S. Department of Health and Human Services, Administration for Children and Families, Children's Bureau. (2004). Child Maltreatment 2002. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
Available online at http://www.acf.hhs.gov/programs/cb/pubs/cm02/index.htm or by calling the National Clearinghouse on Child Abuse and Neglect Information at (800) 394-3366. Statistics in Child Maltreatment 2002 refer to cases of harm to a child caused by parents or other caretakers; they do not include harm caused by other people, such as acquaintances or strangers.
 
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement