We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Bersambung arrow Melepas Mimpi Remaja (Bag. 4)
Melepas Mimpi Remaja (Bag. 4) E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Kamis, 10 Mei 2007

BAGIAN KEEMPAT:

Anya menghempaskan tubuhnya ke kursi malas. Tas kerjanya masih terbiar begitu saja di lantai. Saat pikirannya melayang pada sms Jo tadi, penat tubuhnya terasa kian mendera.

Dentang jarum jam di ruang tengah membuat degup jantungnya berlompatan. Satu jam lagi Jo akan datang. Kalau saja laki-laki itu menanyakan langsung padanya, tentu Anya sudah menolak kedatangannya dengan berbagai alasan. Namun Mama sudah mengundang laki-laki itu.

Akankah kehadiran Jo membantunya keluar dari jerat masa lalu? Ataukah ketakutan dan keraguan akan kembali memenangkan hatinya, seperti yang selama ini berlaku?

Huh! Entah mengapa dia begitu sulit melepaskan diri dari jeratan kenangan pada laki-laki jangkung itu. Bukan hanya wajah tampannya saja yang menyihir Anya hingga terpesona dan  tak berdaya, tapi juga gayanya, cara bicaranya dan kesantunannya. Laki-laki itu demikian sempurna gambarannya dalam kenangan. Padahal bersama kenangan itu selalu ada perih mengiris. Kubangan luka mengnga-nga yang ditinggalkan laki-laki di hatinya.

Berkali-kali Anya berusaha bangkit dari kubangan luka itu. Namun berkali-kali pula dia kembali terjerembab didalamnya. Ada sudut hatinya yang seakan tak rela melepas kenangan itu pergi. Ada sudut hatinya yang tak henti bertanya, menggugat kenyataan yang sampai kini masih sulit dia terima.

Benarkah pertemuan-pertemuan mereka tak meninggalkan kesan apapun di hati laki-laki itu? Lantas mengapa dia yakin sekali, bahwa hati mereka berdua melantunkan melodi yang sama di setiap pertemuan itu? Angannya sajakah yang melambungkan harapan itu?

Tidak! Tidak! Dia yakin sekali lelaki itu ikut membangun menara angan di hatinya lewat baris-baris kalimat yang dia ucapkan. Dia juga yakin sekali mereka memimpikan negeri pelangi yang sama! Tapi mengapa dia kemudian menghempaskan mimpi Anya dari ketinggian menara itu? Bahkan dia tak menyisakan penjelasan apapun untuk Anya!

Aroma masakan yang tercium dari arah dapur membiarkan tanya hatinya terbiar dalam kenangan. Anya memaksa kakinya melangkah  ke dapur.

“Loh, belum mandi, Nya? Sebentar lagi temanmu datang kan?” tanya Mama menyambut langkahnya di pintu dapur.
 
Anya tidak menjawab. Kedua alisnya bertaut melihat kesibukan mamanya.

“Mama ajak temanmu makan malam sekalian, biar ngobrolnya lebih santai.” Mama menjelaskan.

“Jo itu bukan temannya Anya, tapi teman Bang Fajar, Ma. Mama aja yang main undang nggak tanya-tanya dulu sama Anya.” Cepat Anya meluruskan kalimat Mamanya. Dia tak ingin Mamanya membangun harapan apapun pada Jo. Terlebih dia sendiri tak yakin pada hatinya.

“Ada yang menelpon dan bertanya dengan santun boleh bersilaturrahim ke rumah kita, kan nggak enak kalau ditolak, Nya. Menolak tamu menolak rejeki lho. Sudah, mandi sana. Mama sebentar lagi udah siap kok.” Lembut mama mendorong tubuhnya, ketika Anya bergerak hendak membantunya.

Sebenarnya Anya berpura-pura tidak tahu maksud Mamanya mengundang Jo malam ini. Di lubuk hati perempuan yang melahirkannya itu, pastilah terbersit keinginan yang demikian besar untuk menyaksikan pernikahannya. Sayang Anya belum mampu mewujudkannya.

Dengan langkah berat Anya meninggalkan Mamanya dengan kesibukannya di dapur. Berharap dinginnya guyuran air di tubuhnya mampu meredakan sedikit kelelahannya.

Selesai mandi, Papa dan Mama sudah menunggunya shalat Maghrib di ruang tengah. Laki-laki separuh baya itu tidak banyak bertanya. Tapi Anya dapat menangkap binar harap di matanya. Kerlip yang persis sama seperti binar mata Mamanya.

Duh, Tuhan! Tentu saja tidak ada yang salah dengan harapan di hati keduanya. Anya saja yang masih terpenjara masa lalu. Dia begitu takut dan ragu untuk membangun harapan baru. Akankah Jo menepis ketakutan di hatinya itu? Bukankah belakangan ini kerap kali ada sesuatu yang indah menyusupi batinnya setiap kali menyebut nama itu?

Deru kendaraan memasuki halaman membuatnya bergegas ke arah pintu. Sedetik kemudian, Anya betul-betul tak mampu mempercayai pandangannya.

“Kak Anyaaaaa!” teriakan Ika yang berlari turun dari mobil membuatnya berdiri mematung.

“Aku adalah orang paling beruntung dan paling bahagia malam iniiiiii!” Ika memeluknya erat, mencium kedua pipinya.

“Assalamu’alaikum.” Jo tampak berdiri di belakangnya sambil tersenyum lebar.

“Wa’alaikumsalam” Anya menjawab kaku. Suaranya terdengar demikian asing di telinganya sendiri.

“Aku betul-betul nggak nyangka kalau cewek yang ditaksir Bang Juanda itu ternyata Kak Anya! Kak Anya nggak cerita sih! Ternyata betul ya Kak, kalau jodoh nggak akan kemana! Tuhan memang Maha Pemurah!” sederetan kalimat tak henti meluncur dari mulut  Ika. Gadis mungil itu terus berceloteh, hingga tidak menaruh perhatian pada Anya yang terpaku dan tak mampu berkata-kata.
“Aku juga tidak tahu kalau kalian ternyata sahabat dekat di kantor, yang sellau dia promosikan di rumah. Ika nyaris membuatku mendapat serangan jantung karena teriakannya, waktu aku membelokkan mobil ke rumah ini. Kalau tau begitu, sudah kuiyakan sejak pertama.” Jo tertawa tanpa suara. Penjelasannya membuat Anya menarik nafas dalam-dalam, meredakan debaran hatinya yang tak menentu.

Sulit sekali mempercayai pemandangan yang tiba-tiba terjadi dihadapannya ini. Bagaimana mungkin Juanda dan Jo itu ternyata adalah orang yang sama? Rasanya sosok yang diceritakan Ika sungguh tak sama dengan sosok yang dikenalnya sebulan belakangan ini.

“Nya, tamunya nggak disuruh masuk?” suara Mama  terdengar dari ruang tamu.

“Maaf, sampai lupa. Ayo, silahkan masuk.” Tergeragap, Anya mempersilahkan Ika dan Jo masuk.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar Tante?” Ika yang sudah sering berkunjung ke rumah mereka, mencium kedua pipi Mama.

“Tamunya Ika toh. Kak Anya ngakunya baru kenal.” Mama memeluk gadis mungil itu.

“Saya Juanda, Om, Tante.” Jo menyalami kedua orang tuanya bergantian.

“Nggak disangka ya Tante. Ika juga kaget. Ini abang Ika. Tadinya Ika memang ingin memperkenalkan mereka berdua.” Ika kembali berceloteh, menjelaskan apa yang terjadi pada Mama dan Papa.

Tawa Mama dan Papa mengakhiri penjelasan Ika. Rasanya sudah lama sekali Anya tak pernah melihat Papa tertawa sampai bahunya berguncang sekeras itu.

“Ayo, Nya…siapin mejanya biar kita ngobrol sambil makan.”
Anya melangkah ke ruang tengah. Ika mengikutinya. Begitu bayangan Jo tidak kelihatan, Anya langsung membeliakkan matanya pada gadis itu.
 
“Kenapa nggak bilang, kalau abangmu itu panggilannya Jo?” serunya setengah berbisik.

“Mana aku ingat kalau dia dipanggil Jo sama teman-temannya! Kami selalu memanggilnya Juanda. Tau nggak, Aku sendiri baru tersadar kalo gadis taksirannya Abang itu Kak Anya,  saat mobil ini berbelok ke rumah ini. Makanya aku teriak-teriak tadi. Aku juga kaget! Rahasia jodoh barangkali ya?” Ika berkedip menggodanya.

Sepanjang makan malam Anya tak mampu berkata. Untung Papa, Mama dan Ika bergantian membicarakan berbagai hal. Begitu juga Jo. Ketika mereka pindah minum teh dan makan cake coklat buatan Mama di teras samping, Jo malah asik berdiskusi dengan Papa.

Papa dan Mama sepertinya terkesan dengan kedatangan Jo. Sepanjang akhir pekan itu, Jo adalah topik obrolan mereka berdua. Anya sendiri memilih diam di kamarnya, mencoba memenangkan pertarungan batinnya.

Melihat binar mata kedua orang tuanya, Anya seakan menemukan kekuatan baru untuk memberanikan diri membuka hatinya pada Jo. Sepertinya inilah kesempatan bagi dirinya untuk kembali menghadirkan senyum bahagia orang tuanya.

Akankah Jo mewujudkan ingin di hatinya? Sms yang seharian masuk ke telepon genggamnya mungkin adalah jawabannya. Haruskah Anya mempercayai baris-baris kalimat yang tertulis disitu? Tidakkah dulu seorang laki-laki pernah mengucapkan sederet kalimat yang sama, kemudian meninggalkannya begitu saja?

Tak satupun tanya hatinya menemukan jawaban sampai akhir pekan itu berlalu.

“Keliatannya langit cerah sekali hari ini ya Nya.” Bang Fajar menggodanya di kantor.
“Sampai hati, Abang nggak kasih tau kalo Jo itu abangnya Ika!” Anya menatapnya cemberut.

“Loh Anya kan yang nggak pernah tanya. Selalu acuh kalo aku cerita tentang Jo. Aku malah  yakin kalau nggak ada ceritaku tentang Jo yang menarik.”

Anya terdiam. Ucapan Bang Fajar memang tidak salah. Dia sebenarnya yang selama ini berpura-pura acuh terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan Jo. Walaupun dia membalas sms dan email laki-laki itu, berdiskusi panjang lebar dengannya, tapi hatinya terlalu takut untuk mengenal laki-laki itu lebih dekat.

“Kalo Anya perlu cuti untuk siap-siap, Ika udah bisa kok gantiin sementara. Sebulan cukup kan? Honey moon-nya nggak usah lama-lama. Jo juga sedang sibuk ama proyek barunya kan?” Bang Fajar kembali menggodanya saat dia meninggalkan ruangan kerja sepupu sekaligus atasannya itu.

Sepanjang pagi Anya mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya. Namun pikirannya sulit sekali diajak kompromi. Apalagi saat telepon genggamnya berbunyi dan Jo menyapanya. Konsentrasinya seakan menguap ke udara.

“Perlu tanda tangan Kakak ipar.” Ditengah gelisahnya, Ika malah muncul dengan senyum menggoda. Bukan hanya Ika, yang lain juga bersikap sama.

Kejadian Jum’at malam lalu rupanya seperti virus mematikan. Sekejab sudah menyebar cepat di kantor mereka. Anya sampai memutuskan untuk makan siang di luar kantor. Lumayan, satu jam menghindar dari mereka.

Tak dipungkiri, hatinya bersenandung saat mereka mencandainya. Tapi tetap saja, jerat takut dan bimbang masih membekap erat hatinya. Dia tak siap untuk kembali terluka!

“Anya?” sesosok tubuh jangkung berkemeja biru langit menghampiri mejanya.
Anya merasakan sekujur tubuhnya mengeras. Ya Tuhan, kejutan apa lagi ini? Mengapa aku harus bertemu lagi dengan mahluk ciptaanMu yang satu ini?

“Sendirian?”

Anya hanya mampu mengangguk kaku.

“Boleh aku duduk? Sebuah kebetulan yang menyenangkan ya!” Laki-laki itu menarik kursi di hadapan Anya. Sesaat kemudian sosok jangkung itu sudah duduk manis di hadapannya.

“Apa kabar? Tak terasa, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya. Anya sama sekali tidak berubah. Masih secantik dulu, hanya jauh lebih dewasa.”

Aliran panas menjalari pipinya, ditatap sedemikian lekat oleh laki-laki itu. Anya menyumpahi dirinya yang masih punya debar sama untuk laki-laki yang sudah menghancurkan impian remajanya itu.

“Kabar Anya biasa aja.  Bang Ihsan sendiri apa kabar? Saya dengar sedang di Jepang, kok udah disini?” Upppsss, terlambat! Kalimat itu begitu saja meluncur dair bibirnya. Ingin sekali Anya menampar mulutnya sendiri.

“Kok Anya tahu saya ke Jepang?”

“Bang Ihsan sekeluarga kan selebriti. Ada terus dalam kabar-kabari media lokal.” Sekenanya Anya menjawab.

Laki-laki itu tersenyum. Memperlihatkan sederet giginya yang teratur rapi. Senyum yang dulu membuat degup jantung Anya berkejaran. Bahkan kini pun masih begitu juga! Anya kembali menyumpahi dirinya.
Tuhan, mengapa dia selalu membuatku merasa tak berdaya begini? Senyumnya seakan membuat tujuh tahun perihnya luka, lenyap begitu saja. Seperti raibnya setetes air yang jatuh di hamparan padang pasir.

“Sudah pesan?”

Anya mengangguk. Dilihatnya laki-laki itu melambaikan tangan pada pelayan restoran.

“Masih suka udang tempura sama jus mangga?” Laki-laki itu kembali bertanya, seraya menuliskan pesanannya.

Anya lagi-lagi hanya mengangguk. Entah mengapa, ada yang berdentang indah di hatinya ketika laki-laki itu masih ingat makanan kesukaannya.

Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang melangkah menghampiri mereka.

“Jo?” Anya mengerjab tak percaya.


*** Bersambung ***

 
Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement