We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow "Ngeteh", Bagian Gaya Hidup
"Ngeteh", Bagian Gaya Hidup E-mail
Pengirim: Retmawati   
Rabu, 02 Mei 2007

Sample ImageKalau kedai kopi, rasanya sudah banyak bertebaran di seantero Jakarta. Dari merek internasional sampai lokal. Tapi kalau teh? Hm... rasanya asyik juga. Iya, sekarang, "ngeteh" juga jadi bagian dari gaya hidup. Di Jawa, teh merupakan minuman yang hampir tak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pagi, siang, sore, malam, teh hampir tiap saat hadir. Bahkan dalam acara resmi, misalnya resepsi pernikahan, teh juga muncul. Nasgitel, begitu orang biasa bilang saat memesan teh di warung, singkatan dari panas, legi (manis), kentel (kental).

Sebenarnya, dari mana asal teh?

Asal teh

Pada 3000 tahun silam, di China daratan hidup seorang kaisar, Shen Nung. Pada masa itu, kaisar yang juga ahli herbal itu percaya jika minum air matang akan menyebabkan tubuh lebih sehat. Nah, suatu hari, saat Sang Kaisar sedang meminum air hangat, ada selembar daun yang melayang dan jatuh di cawan milik Sang Kaisar. Saat itu, Kaisar terkejut ketika sadar bahwa air itu menjadi lebih segar dan membuat dirinya bahagia. Bahkan, belakangan Kaisar tahu bahwa daun itu mempunyai efek menyembuhkan. Daun itu adalah Camelia Sinensis atau daun teh.

Ribuan tahun kemudian, teh jadi bagian kehidupan tak terpisahkan di China dan menyebar ke penjuru dunia.

Di Jepang, tradisi minum teh mulai berkembang sekitar tahun 1500. Awalnya, budaya minum teh hanya ada di kuil-kuil Buddha. Namun, kemudian berkembang di kalangan samurai dan bangsawan. Pada perkembangannya, tradisi minum teh di Jepang dan China berbeda. Di Jepang, tradisi ini jadi seni yang luar biasa dengan tata cara yang unik dan penuh konsentrasi. Di Indonesia juga terdapat perkumpulan upacara minum teh Jepang, yaitu Urasenke Indonesia.

Jenis Teh

- Teh putih (white tea)

Teh jenis ini dibuat dari daun teh yang paling muda, daun terbaik dari tiap pohon. Jarang ditemui di toko-toko biasa. Antioksidan teh jenis ini lebih kuat daripada teh hijau.

- Teh Hijau

Nah, teh ini paling terkenal di Jepang karena biasa dipakai untuk upacara minum teh. Manfaat teh ini cukup banyak, di antaranya menghambat pertumbuhan sel kanker dan menurunkan kadar kolesterol. Di AS, teh ini mulai populer setelah ada penelitian ilmiah yang mengaitkannya dengan penurunan risiko terhadap kanker.

- Teh Oolong

Teh ini pembuatannya agak rumit dan biasanya diproduksi secara eksklusif di China, India, dan Taiwan. Teh ini antara lain berkhasiat untuk mengobati sakit kepala, membantu pencernaan, dan juga membantu menurunkan kadar gula pada penderita diabetes.

- Teh Hitam

Ini jenis yang paling terkenal di Indonesia. Hampir semua warung makan di Indonesia menyediakan teh jenis ini. Khasiat teh ini juga bisa disejajarkan dengan teh hijau. Penelitian yang ada menyebutkan, mengonsumsi teh hitam dalam jangka panjang dapat menurunkan risiko terkena stroke. Segelas teh manis saat pagi atau sore hari, siapa yang bakal menolak?

- Teh Pu-er

Teh berbentuk mirip konde yang harganya paling mahal. Makin lama disimpan, makin mahal harganya (tentu dengan cara menyimpan yang tepat). Khasiatnya? Moms, kalau ingin langsing, minumlah teh jenis ini.

- Teh herbal

Kalau kita di Indonesia, pasti saat berpikir tentang teh, kita akan terbayang daun teh. Tapi, jangan bayangkan itu saat menyebut teh herbal. Teh ini bisa juga disebut teh imitasi. Sebab, biasanya minuman ini dibuat dari bunga kering, biji, daun, atau akar berbagai jenis tanaman, kemudian diseduh seperti teh.

Gaya Hidup

Zaman dulu, kakek saya suka sekali minum teh dari poci tanah liat. Biasanya teh itu diletakkan di poci dengan gelas-gelas kecil di sekelilingnya. Poci dan gelasnya terbuat dari tanah liat. Rasanya khas dan enak sekali. Kuncinya, jangan pernah mencuci bagian dalam poci itu (kecuali saat pertama kali pakai). Cukup buang seduhan tehnya, dan biarkan keraknya. Kerak itu yang membuat rasa teh jadi makin nikmat. Itu cara meminum teh di beberapa daerah di Jateng.

Sekarang?

Coba sekali-kali jalan di pusat perbelanjaan yang tersebar di Jakarta. Bisa jadi, di salah satu sudutnya, Anda akan menemukan sebuah kedai yang penuh dengan jejeran stoples. Ya, bisa jadi itu adalah kedai teh.

Di kedai itu, Moms, akan ditemukan berbagai macam teh dengan berbagai macam rasa. Dari rasa jeruk, stroberi, hingga vanila. Tempatnya pun nyaman, tak kalah dengan kedai kopi yang lebih dulu tersebar di mana-mana. Jika bingung mau pesan teh jenis apa (karena bisa jadi teh yang disediakan ada ratusan jenis), biasanya pemilik atau karyawan kedai teh akan menerangkan jenis dan khasiatnya kepada kita.

Nah, Moms, mau sekali-kali hang out bareng suami di kedai teh? Gak ada salahnya kok.

Beberapa kedai Teh di Jakarta:

- Tea Gallery, La Piazza, Kelapa Gading; Senayan City

- Tea Addict, Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan

- Siang Ming Tea Shop, Mal Mangga Dua Square

- Tea n Tea, Pondok Indah Mall

Sumber: Dari berbagai sumber

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement