|
Duduklah saja Sayang, katamu dini hari tadi Kubuatkan hadiah spesial di hari jadimu ini Bukankah tadi perut hanya kita isi dengan roti Dan kau pun beraksi persis seperti koki Cemplung sana cemplung sini Potong sana potong sini Dan tarraaa! Hadiah untukku pun tersaji!
Semangkuk Indomie pada pukul satu pagi Sungguh, ini kado yang paling membuatku geli! Tapi bukan hanya geli, aku juga happy Meja makan kita sesesak tumpukan jerami Mangkuk-mangkuk kita tak kebagian posisi Tapi kau tak pernah mengambil hati Ah Cinta, kau ini selalu membuatku bertanya lagi Terbuat dari apa sesungguhnya hatimu ini?
Belum lagi bila kulirik tumpukan lain di ruang dapur Ugh, rasanya ingin kugembok saja pintu dapur itu seumur-umur Belakangan ini dapurku kerap ngebul Pamali nolak rejeki, begitu kan kata orang Padahal deadline pekerjaan mengejar-ngejar Padahal amanah lain baru saja kuemban Dan anak-anakku, mereka pun butuh belaian Duh Tuhan, aku memang senang Tapi ritme hidupku lagi-lagi seperti komedi putar
Kau ingat kan masa-masa sulit itu Dalam hitungan hari baru saja ia berlalu Isak ku kembali kau dengar Amarah pun kembali ku umbar Anak-anakku, entah apa kabar Istri macam apa aku ini, kau butuh istri baru barangkali Begitu ucapku, lantaran PMS, depresi, feeling guilty, dan entah apa lagi Kau seperti dejavu bukan?
Aku lihat lelahmu yang hampir meremukkan sendi-sendimu Aku lihat kesalmu yang dengan penuh juang kau perangi Aku dengar degup jantungmu ketika tahun terakhir studi membayangimu Aku dengar desah nafasmu ketika timbunan deadline seolah akan menerkammu
Tapi mengapa, ketika dejavu itu bukan lagi dejavu ketika ia nyata membentang di depan matamu Kau masih saja bisa memberikan bahumu untukku Kau masih saja bisa meniadakan dirimu Kau masih saja bisa menjelma peri penolongku Ah Cinta, terbuat dari apa sesungguhnya hatimu?
Hiks…maafkan aku Cinta, tanganku hanya dua, dan aku selalu kalah melawan pembagian waktu Tapi kau sangat tahu kan Cinta, Aku bisa gila kalau hidupku hanya kuisi dengan termangu saja Dan kau juga tahu kan Cinta, Ide-ide yang menari di kepalaku lebih membuat hidupku berseri lebih menarik ketimbang tarian piring dan bumbu dapur warna-warni Maafkan aku, aku bukan istri sholehah ya Cinta?
Dan jawabmu seringkali membuatku tergugu Memasak, menyetrika dan mencuci itu bukan kewajiban istri Semua itu bisa kita bagi, ucapmu Ah Cinta, itu katamu, tapi apa kata dunia, kesahku Mengapa tak kau didik saja aku menjadi istri sholehah itu Cinta? Aku tak ingin mendidik, aku hanya ingin menggali potensimu, jawabmu Tapi Cinta, lihat akibatnya, komedi putar itu bergerak kencang lagi Ripple, itu namanya, sungguh wajar untuk sebuah perubahan, jawabmu lagi Ah Cinta… aku hanya bisa termangu dan kembali tergugu
Andai kau tahu betapa sempurna engkau mengajari aku Dengan caramu, dengan kasihmu, dengan ucapmu, dengan hatimu Hadiah itu, semangkuk indomie pada pukul satu pagi itu Menjadi begitu bermakna, tak tergantikan dengan emas permata Semangkuk indomie pada pukul satu pagi Kado yang membuatku geli, tapi juga membuatku menangis lagi Terimakasihku tak kan pernah cukup Cinta…
Buat Cintaku seorang…
Groningen 19 Maret 2007
Saat musim semi bersalju |