|
Sewaktu kecil saya sering berpikir, betapa berutungnya jadi anak pertama. Bagaimana tidak, saat anak pertama lahir, seluruh perhatian tertuju padanya, tidak ada saingan.
Saat orangtua belanja, yang dibeli khusus untuk dirinya. Saat keluar rumah, yang dirindu hanya anak tersebut. Focus hanya kepada anak tersebut. Belum ada adik yang minta digantikan diaper, disusui, disuapi. Bukan cuma perhatian dan kasih sayang saja yang jadi miliknya penuh, tetapi juga mainan yang tidak perlu berbagi. Saya pernah bertanya pada orangtua saya, mengapa kakak saya mendapatkan lebih dari saya. Jawaban orangtua saya karena dia lebih besar, kebutuhannya lebih banyak. Kamu masih kecil. Jawaban tersebut membuat saya ingin cepat-cepat besar seperti kakak saya. Tetapi setelah saya berada diusia yang sama, saya tidak mendapatkan apa yang pernah kakak saya dapatkan. Dan jawaban orangtua saya adalah karena dia sudah remaja, kebutuhannya lebih banyak. Begitu seterusnya. Sehingga saya tidak pernah bisa mendapatkan keistimewaan tersebut. Karena saya tidak bisa mendahului usia kakak saya. Setelah saya melahirkan putri pertama, begitu banyak waktu saya tercurah untuk putri saya. Setiap detik perkembangannya menjadi perhatian saya. Setiap kemajuan tumbuh kembangnya saya rekam, seakan tidak ingin ada momen yang terlewatkan dari mata saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk dirinya. Saya catat semua yang masuk dan keluar dari tubuhnya. Saya hitung kandungan nutrisi yang masuk, jam tidurnya, jam mainnya, semuanya! Saya ingin memberikan yang optimal bagi pertumbuhannya. Pengetahuan saya asah dengan banyak membaca buku, dengan segala teori tumbuh kembang anak. Setelah usia putri saya 3 tahun , saya hamil lagi. Kehamilan bagi saya bukan hal yang mudah. Saya harus banyak beristirahat, agar dapat mempertahankan kehamilan tersebut. Tetapi hal tersebut tidak mungkin saya lakukan. Karena saya tetap ingin memberikan perhatian yang penuh kepada putri saya. Saya tidak ingin putri saya merasa tersaingin oleh adiknya. Walaupun berat rasanya, saya tetap bermain dan mengurus segala kebutuhan dan keperluan putri saya, hingga kelahiran putra saya. Setelah kelahiran putra saya, perhatian saya terbagi dua. Antara mengurus bayi dan balita. Saya berusaha kedekatan saya dengan putri saya tetap terjaga, seperti sebelum kelahiran putra saya. Walaupun itu tidak mudah, saya harus terjaga disaat seharusnya saya beristirahat. Waktu bertambah, putra saya bertambah usia. Saya merasakan perbedaan antara keduanya. Saya berusaha memberikan pengertian kepada putri saya, bahwa kini sudah ada adik yang harus saya perhatikan. Waktu, perhatian dan kasih sayang saya tidak hanya tertuju pada putri saya. Saya berusaha untuk tetap memberikan waktu khusus kepada putri saya. Bermain dan bercanda hanya berdua saja. Perlahan-lahan saya mulai merasa bersikap tidak adil kepada putra saya. Apalagi melihat kenyataan, hampir tidak ada video yang merekam moment penting dalam hidupnya. Photo-photo pun hanya ala kadarnya. Saya merasa bersalah pada putra saya, dan kenangan masa lalu, saat masa kecil seakan bermain dalam benak saya. Menyadari hal tersebut, saya pun berusaha mengisi waktu lebih banyak dengan putra saya. Apalagi putri saya sudah mulai sekolah. Tinggallah setiap hari saya dengan putra saya. Kami mengisi hari bersama-sama. Bahkan tidur pun saya dengan putra saya. Sama seperti kakaknya, saat berusia balita, putra saya tidak bisa tidur tanpa saya disisinya. Setiap hari saya peluk dan cium dia, seakan boneka yang saya miliki. Saya hujani dia dengan kalimat I love you. Rupanya putri saya mulai merasa tersaingi, setiap hari dia mulai protes kenapa dia harus sekolah. Kenapa tidak bisa tinggal di rumah bersama saya dan bermain bersama. Bahkan dia mulai menghitung berapakali saya mengucapkan I love you ke putra saya. Dia juga menghitung mainan bahkan pakaian yang saya belikan. Saya berusaha memberikan penjelasan. Demikian juga kenapa adiknya harus tinggal di rumah dengan saya setiap harinya. Saya pun berusaha untuk bersikap adil kepada keduanya. Setiap kali saya cium adiknya saya akan cium putri saya. Demikian juga dalam hal membaca buku, ataupun bermain. Tetapi putri saya merasa adiknya tetap mendapat perhatian lebih. Walaupun saya sudah katakan bahwa dulu saat dia bayi juga perlakukan demikian pula. Bahkan betapa beruntungnya dia pernah menerima cinta saya sepenuhnya tanpa harus berbagi. Sedangkan adiknya harus berbagi kasih sayang dengan kakaknya. Tetapi dia tetap tidak bisa menerima, karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti dan tidak bisa mengingat kejadian masa balitanya. Baginya keadilan apa yang dilihat dan dirasa saat ini, bukan kemarin ataupun masa depan. (MD) |