|
Juara Favorit Lomba Puisi: Cerminku Cerminmu |
|
|
Pengirim: We R Mommies
|
|
Rabu, 28 Maret 2007 |
Kamu datang bukan dengan mengetuk pintu, tetapi dengan mencairkan sore yang beku yang jemu,
yang terperangkap di tumpukan kertas kerjaku. Senyum lebar di bibirku, menyambutmu, lupa akan sifat pemaluku. Apa kabarmu, sapamu. Kutahu basa-basi itu tak perlu, namun dengan apa lagi kujamu kamu?
Tak ada kue kering di sini, juga teh beraroma melati. Bahkan endapan kopiku sudah basi,
membusuk oleh penat di ruangan ini. Jadi tak apa kan, kalau kujalin basa-basi, sekadar untuk menghangatkan hari?
Lucu. Bukankah aku tak kenal suaramu? Lembut aroma parfummu cuma kulukis di benakku. Aku tak sungguh-sungguh mengenalmu. Namun mengapa canda, keluh, dan cerita-cerita lucu tumpah-ruah tanpa ragu?
Sini, kubagi denganmu cermin ini, tak secantik cermin hias yang kamu tatap setiap hari. Tetapi aku janji, kesetiaannya mengungguli harum teh melati.
Karena, ia hanya menyimpan hari ini. Masa lalumu tak abadi, mimpi burukmu tak berjejak di sini. Tak ada yang kutawarkan, kecuali... kujaga bayanganmu di cermin ini.
Bukan, siapa bilang kamu maya? Bagiku kamu lebih nyata, dari semua mimpi yang pernah kupunya. Cerminmu setia, tak meminta apa-apa. Meski tak kutampilkan diriku seutuhnya. Meski tak kutemui kamu dengan etika. (Seandainya kau lihat daster kumal-bernoda yang kupakai seenaknya).
Bukankah kita hanya ingin tertawa? Menautkan cermin-cermin kita, menatap bayangan kita di sana; keluh kesah, air mata, cerita-cerita sederhana. Aneh, betapa sama!
Maka, maukah kamu tetap di sana? Biar berjarak, tak apa. Asal terjaga, cermin-cermin kita.
(Sofie Dewayani, 29 Januari 2007) |