We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Mengapa Si Kecil Tidak Diajak?
Mengapa Si Kecil Tidak Diajak? E-mail
Pengirim: Lita Mariana   
Selasa, 20 Maret 2007

Setelah anak kedua saya berusia satu tahun dan tidak lagi tergantung penuh pada ASI, saya mulai dapat bepergian tanpa mengajaknya. Memenuhi undangan teman, ikut acara kumpul bareng teman sekolah dulu, datang ke acara temu blogger, atau yang paling sederhana: belanja.

Seringkali, ketika saya datang ke acara-acara tersebut dan tidak membawa serta satupun anak, teman-teman bertanya, "Anakmu mana? Kok nggak dibawa, sih?". Bahkan ketika saya katakan bahwa saya tidak mengajak mereka demi kepentingan bersama, teman-teman biasanya bilang, "Ajak aja, lagi! Kan seru! Anakmu kan lucu! Bisa main sama kita di sini".

Demi anda semua, mari saya wakili para ibu untuk mengatakan kebenaran. Para orangtua yang beruntung dikaruniai anak bertipe malaikat (angelic baby) bisa jadi senyum-senyum saja menyimak cerita ini. Tapi entah bagaimana saya yakin akan lebih banyak orangtua yang manggut-manggut setuju.

Saya mau menikmati waktu bersama kalian, bukan babysitting

Sebagian orang -terutama yang telah menjadi orangtua- boleh saja berkomentar sinis, bahwa saya adalah orangtua yang tidak mau repot (astaga, kalau tidak mau repot saya tidak akan punya anak!). Boleh saja. Dan tanyakan kepada setiap orangtua -utamakan yang full-time mom dan tidak memiliki asisten/babysitter- apakah mereka menikmati setiap detik yang berlalu tanpa cela, tanpa sedikitpun pernah merasa capek dan ingin istirahat sejenak.

Ketika saya katakan saya ingin menikmati waktu, saya bersungguh-sungguh. Tipe anak koleris tidak akan mau duduk diam dan hanya menonton orang-orang dewasa mengobrol. Sungguh pekerjaan paling membosankan di dunia (bagi anak): menonton orang (atau barang) lain melakukan sesuatu.

Dan yang terjadi jika anak batita tipe ini diajak menghadiri reuni adalah anda akan jauh lebih sibuk mengikuti dia ke sana ke mari dan melarangnya untuk memanjat meja makanan ketimbang menyimak berita terkini tentang teman-teman anda yang kini berada di antah berantah.

Sementara teman-teman akan terkesan pada betapa ganteng, lucu, dan pintarnya anak anda hanya di menit-menit pertama, mereka tidak akan repot-repot membantu anda menurunkan si pendaki mahir yang ternyata sudah nangkring di tepian patung es hiasan itu.

Ganteng tidak berarti anteng. Lucu tidak berarti dia tidak dapat berteriak sekeras-kerasnya dan mengalihkan perhatian dari acara utama. Dan pintar tidak berarti penurut. Coba saja anda minta teman anda yang bilang anak anda lucu untuk menghentikan anak anda dari menarik taplak meja yang di atasnya ada kue berhias (yang terlalu menarik untuk tidak dipegang). Jika berhasil, dia boleh meminta anda untuk mengajak kembali anak anda di acaranya.

Menikmati waktu sendiri dengan melewatkannya bersama teman-teman tidak berarti seorang ibu menyalahi kodratnya. Menikmati waktu sendiri memang tampak egois. Tapi bandingkan dengan jumlah hari dalam sebulan ketika ibu bersiaga 24 jam bagi keluarga. Bahkan bersisir saja sering kelupaan. Ups. (makanya saya potong rambut, walau ini tidak berarti saya benar-benar siaga 24 jam)

Kalian tidak tahu jenis keamanan mana yang saya maksud

Ketika saya bilang bahwa saya tidak mengajak anak demi kepentingan empunya rumah, seringkali mereka tidak mengerti. Mana mungkin kelucuan dan kepintaran anak ada hubungannya dengan keamanan? Ini yang sering disalah mengerti oleh mereka yang belum memiliki anak (atau paling tidak si istri sedang hamil anak pertama).

Penghuni rumah yang tidak menyediakan eh… memiliki anak kecil akan memiliki kehidupan biasa, ketika meja bersudut persegi, bufet kaca, pajangan keramik, hiasan kristal, koleksi miniatur pesawat terbang, figurine, dan senjata tajam kebanggaan -untuk berburu- dapat dipamerkan dengan layak tanpa rasa was-was.

Sebelum mengundang teman -dan anaknya yang masih balita itu- untuk datang ke rumah, pastikan anda bersedia untuk:

  • Melapisi setiap sudut (terutama meja) yang tajam dengan busa atau pengaman khusus.
  • Memastikan lemari pajangannya tidak akan rubuh jika dipanjat.
  • Menyimpan keramik, kristal, dan segala koleksi lain yang dapat diraih tangan mungil anak teman anda (dengan atau tanpa perlu memanjat benda lain) di tempat yang tidak dapat dilihat atau diakses olehnya. Gudang atau loteng, misalnya. Itupun kalau dia tidak menemukan jalan ke sana sementara anda dan teman anda asyik mengobrol.
  • Mengamankan TV flat-and-LCD anda di tempat yang tidak terjangkau. Anak kecil seringkali tidak dapat memperkirakan kekuatannya sendiri. Anda pasti tak mau televisi anda buyar hanya gara-gara seorang anak kecil tak sengaja mendorongnya ketika akan meraih benda di sebelahnya. Atau hanya gara-gara tertarik melihat gambar ikan yang sedang tayang di Discovery Channel.
  • Mengandangkan sementara peliharaan berambut atau berbulu panjang yang mengundang anak teman anda untuk menariknya.
  • Pastikan mangkuk akuarium kesayangan anda tidak teraih oleh si lincah anak teman anda. 

Bagi ibu dari anak batita, pergi dua jam atau dua hari itu nyaris sama

Soal bawaan dan kerepotan, dengan mengecualikan frekuensi naik-turun kendaraan, dua jam dan dua hari tidak memiliki perbedaan berarti. Sama-sama membawa baju (dan celana/pakaian dalam) ganti, popok (bahkan jika telah lulus toilet training), handuk kecil, sabun atau cairan pembersih lain, saputangan, susu, makanan kecil, tisyu, kantung plastik (untuk menampung sampah apa saja), obat/plester luka, dan buku kesehatan si kecil (selalu siap untuk keadaan darurat).

Anda boleh katakan bahwa saya cukup paranoid. Tapi jika anda pernah merasakan bepergian dengan kereta-api yang terlambat 5 jam, ketika anak anda harus merasakan tidur, sarapan, buang air (kecil dan besar), serta rutinitas jalan-jalan di dalamnya, anda pasti betul-betul mengerti maksud saya.

Sebelum berangkat, ibu saya berkomentar tentang betapa tidak perlunya saya membawa bubur instan, mangkuk, sendok, dan gelas si bungsu. Dan ketika keterlambatan itu terjadi, betapa bersyukurnya saya telah bersedia repot. Serta di saat yang sama agak iba pada ibu lain yang paranoidnya tidak separah saya. Itulah kali saya benar-benar merasakan Only paranoids survive'.

Selain ibu, anak juga merasakan kerepotan lho. Ketika tangan ibu tidak lagi hanya memegang tangan anak, dan ia harus turut membantu dengan mengalungi sendiri botol minumnya. Boleh dong sesekali bawaan saya hanya tas cangklong kecil, yang isinya hanya dompet, telepon genggam, tisyu, cairan pembersih, uang receh dan… catatan medis saya.

Keadaan ternyata tidak seperti yang teman anda bayangkan

Ketika ia -yang tidak memiliki anak atau anaknya sudah lepas usia sekolah dasar- harus rela perbincangannya terputus karena anak anda minta anda ikut menyebutkan nama benda yang ia tunjuk di buku ceritanya yang khusus anda bawa dari rumah.

Ketika anak anda punya sifat ingin tahu yang begitu besar serta begitu menyukai sentuhan, sedemikian rupa sehingga ia tak tahan untuk tak memegang koleksi teman anda yang tertata rapi di rak kaca.

Ketika perbincangan terhenti saat anda berkali-kali menyiapkan susu, mengelap tumpahan susu, mengantar anak ke kamar mandi, menggantikan baju, menyiapkan makanan kecil, mengejar anak dari berlari ke luar pagar, mengelap kotoran yang menempel di tangan dan muka anak, menjawab telepon dari suami yang menanyakan kabar anda berdua (dan reaksi teman anda saat melihat anak anda), meredakan tangisnya setelah dicakar kucing peliharaan teman anda yang sebelumnya ditarik buntutnya, lalu menyiapkan susu lagi (dan berulanglah siklusnya dengan urutan yang dapat anda tukar-tukar). Neraka kecil.

Ketika teman anda dengan percaya diri berkata bahwa ia akan menyediakan segala yang diperlukan si kecil namun ternyata ia tidak memperhitungkan ketersediaan air panas, susu cair dingin, pispot (atau penyangga khusus untuk kloset), yogurt, buah potong, dan sari buah.

Ia bahkan melewatkan usaha 'pengamanan' dengan menutup stop kontak -yang entah kenapa di rumahnya berjumlah begitu banyak. Anda harus memastikan secara rinci apa yang anak anda mungkin butuhkan, agar teman anda tahu persis bahwa ia mungkin akan menyesal telah mengatakan, "Jangan kuatir, gue sediain semua yang Nano perluin, deh!".

Waktu egois, kemurahan hati keluarga

Amatlah sangat beruntung saya, memiliki suami yang sangat mengerti kebutuhan dan keinginan (walau keinginan bisa jadi kebutuhan). Saya dapat hadir di pertemuan yang saya kehendaki, seorang diri. Diantar, jika perlu. Anak dalam asuhannya, saya tidak khawatir.

Bahkan saya belum pernah ditelepon untuk ditanya, "Pulang jam berapa?". Biasanya memang waktu pergi dan pulang ini sudah dibicarakan jauh hari sebelumnya, supaya bisa dicarikan waktu alternatif apabila ternyata suami mendapat jatah mengajar kursus.

Bagi kami, waktu egois saya adalah investasi, demi menjaga kewarasan. Kebutuhan untuk bersosialisasi, kebutuhan untuk mendapat ide segar dari kegiatan di luar rumah, kebutuhan untuk mengurusi dan menyegarkan diri sendiri (yang sebagian ibu suka manfaatkan dengan creambath di salon, belanja di mal, atau dalam kasus saya; jalan-jalan sendirian dan baca buku yang sebelumnya dipinjam dari rumah buku yang dikelilingi kebun bibit), lahir ataupun batin.

Tidak mudah menjadi full-time mother, seperti tidak mudah juga untuk menjadi part-time working-at-home mom. Di saat ide dan gairah menulis sedang memeluk diri dengan senang hati, saya tetap harus memikirkan keluarga. Setidaknya saya tahu ada masih ada makanan beku yang siap dipanaskan di kulkas. Ouch.

Pastinya tidak semua perempuan seperti saya. Tidak semua ibu memiliki kebutuhan yang serupa. Jika anda tidak menginginkan waktu luang sebanyak saya, anda tidak perlu menganggap saya sinting dan gila kebebasan. Dan jika saya menjalani rutinitas harian dengan dibantu suami dan asisten, saya tidak akan menganggap ibu yang sanggup sebagai perempuan lemah tertindas yang tak sanggup untuk sekadar meminta bantuan. Biasanya, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Sedikit iri-iri pada ibu lain itu jamak.

Tidak apa-apa, moms. Nikmati kesendirian yang tersedia. Waktu 24 jam nyaris selalu terasa kurang. Dan akan lebih terasa kurang apabila kita lewati tanpa meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap kebutuhan diri sendiri.

I'm not where I am when you see me

Seperti halnya jangan menghakimi ibu bekerja, jangan pula menuding sinis pada ibu yang ingin menikmati waktu sendirinya dengan 'lepas' dari urusan keluarga. Tentu saja selama waktu egois berimbang dengan waktu pengabdian pada keluarga.

Berimbang pun tidak berarti sama, satu banding satu. Berimbang yang saya maksud adalah setimbang. Sesuai, pas, adil. Untuk banyak full-time mom (dan sebenarnya part-time mom atau full-time working mom juga), kesempatan dua jam tidur siang saja sudah berkah berharga, lho! (emangnya ada berkah yang ngga berharga?)

Siapa tahu ibu-ibu yang tampak kurang kerjaan ngerumpi di salon itu sedang menikmati satu-satunya waktu luang dalam seminggu (kalau tidak sebulan). Siapa tahu anaknya baru saja sembuh dari sakit, yang sebelumnya terus-terusan dipangku dan digendong, sehingga ibu itu merasa perlu untuk memanjakan otot-ototnya di spa, meluruskan urat yang terasa keriting.

Tak setiap kita hadir dalam keseharian setiap orang. Walaupun menilai buku dari sampulnya itu bisa, tapi lebih bijak jika kita tidak menghargai 'nilai pengabdian' seorang ibu dari di mana ia berada di suatu sore. Manusia tidak hidup dengan satu sisi saja. Tidak ada yang selalu jahat atau selalu bertindak jadi 'malaikat'. Itu hanya ada di sinetron. Not true colors.


Jadi, sapalah sahabat anda, tetangga, bahkan saya, dengan prasangka terbaik anda ketika anda jumpai kami sedang ngikik bareng teman-teman kami, di mana saja.

 
< Sebelumnya

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement