|
Sebenarnya cerita ini adalah sharing pengalaman pribadi yang aku alami sendiri. Ada dilema dalam diri sendiri ketika ingin menuliskan pengalaman ini dan membaginya kepada pihak lain, tapi aku kembali melihat sisi positif bahwa mungkin cerita ini bisa membawa pencerahan bagi pihak lain yang sedang mengalami atau sedang memikirkan tentang perceraian dalam keluarganya.
Beberapa tahun belakangan ini masalah perceraian rasanya terdengar sangat familiar ditelinga kita, ditambah lagi berbagai media selalu mengungkapkan secara gamblang masalah-masalah perceraian para selebriti tanpa memikirkan efek-efek samping dibalik pemberitaan tersebut. Bisakah anda membayangkan perasaan anak-anak dan keluarga mereka?
Aku terlahir sebagai anak sulung. Memiliki dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Karena kesibukan papa yang saat itu bertugas disebuah bank pemerintah, beliau memutuskan kami anak-anaknya untuk belajar di Jakarta, sedangkan beliau tugas berpindah-pindah dari satu kota kekota lain diwilayah Indonesia. Mama bolak balik ikut papa, menemaninya dari satu kota kekota lain sambil sesekali ke Jakarta menengok kami yang tinggal di Jakarta sambil diawasi oleh nenek, orang tua dari mama.
Tak ada keributan atau pertengkaran heboh yang terjadi antara mama dan papa saat itu. Yang kuingat, keluarga kami berkumpul, keluarga papa dari Bandung juga berkumpul dan tiba-tiba kami bertiga yang saat ini masih kecil-kecil dihadapkan pada kenyataan mereka telah bercerai. Saat itu aku berusia sekitar 12 tahun. Adikku yang kedua berusia 10 tahun dan yang ketiga 5 tahun.
Jaman itu beda dengan sekarang dimana saat itu perceraian masih dianggap tabu dan memalukan. Mendadak aku menjadi anak yang minderan, nggak mau bergaul dan menutup diri. Aku mulai mengerti yang namanya bercerai, tapi nggak 'ngeh' 100% karena toh mama dan papa sering hidup terpisah karena tugas papa yang mengharuskannya pindah-pindah kota. Tapi perceraian tersebut cukup membuatku terpukul dan menarik diri dari pergaulan juga teman-teman.
Nggak lama kemudian mama menikah lagi, juga papa. Diusiaku yang menginjak 16 tahun aku memiliki seorang adik laki-laki yang lucu dari mama, kami sangat menyayanginya. Kupikir setelah mama menikah lagi dan kami memiliki seorang adik baru kehidupan kami membaik, tapi ternyata salah. Keributan demi keributan terjadi, disaat adik bungsuku masih bayi. Sikap kasar ayah tiriku membuat hidup kami begitu tertekan. Suatu saat sepulang sekolah aku menemukan box bayi adikku hancur berantakan, karena ayahku mengamuk dan mereka bertengkar hebat.
Berkali-kali mereka berbaikan kembali tapi akhirnya keributan tersebut sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Bahkan nenek pun menjadi luar biasa stress dan diusia tuanya dia bahkan sering memaki-maki dan menyumpah ayah tiriku karena sikapnya yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Sedikit demi sedikit harta peninggalan papa habis untuk biaya hidup kami sehari-hari. Mama seringkali kudapati menangis karena nggak tahu harus makan apa, nggak ada uang untuk beli beras.
Kasian sekali mamaku. Tahun demi tahun berjalan. Adik bungsuku mulai besar. Biaya hidup pun makin membengkak. Beruntung aku dan adik-adikku masih bisa menyelesaikan kuliah. Aku saat itu bekerja sambil kuliah. Ayah tiriku kadang pulang kadang tidak pulang, nggak jelas keberadaannya. Yang pasti dia pun dikejar tanggung jawab oleh keluarganya karena meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil dan banyak.
Singkat cerita, puncak kesabaranku sudah habis. Hampir 20 tahun aku bertahan hidup dengan mereka hanya karena memikirkan sebagai anak sulung aku memiliki 3 orang adik, juga masih memiliki mama yang harus kujaga. Suatu siang mama menangis keras dan menyampaikan ketakutannya pada kami. Dia menemukan benda tajam tersimpan dibawah tempat tidurnya. Masya Allah, ada apa ini? Jantungku mau copot rasanya.
Aku sudah membulatkan tekat. Saat itu juga aku menyampaikan kepada ayah tiriku bahwa dia harus keluar dari rumah kami. Beliau menolak karena menurut dia yang membayar kontrak rumah adalah dia. Tapi kami sudah tidak bisa berkompromi lagi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saat itu juga aku memintanya untuk angkat kaki dari rumah. Beberapa kali dia masih berusaha menghubungi mama tapi kami tegas-tegas menyatakan bahwa kami sudah tidak bisa hidup serumah lagi.
Saat ini mama hidup bersama adik-adikku. Dengan segala kekurangan kami secara finansial kami berusaha untuk mengontrak rumah sendiri untuk menghidar dari ayah tiri kami. Saat itu memang berat sekali, tapi Tuhan selalu memberikan jalan untuk kami. Alhamdulillah beliau sekarang jauh lebih tenang.
Apa yang ingin aku sampaikan sebenarnya bukan cerita keluarga kami, tapi dampak yang ditimbulkan dari perceraian itu sendiri. Aku sebagai anak perempuan, sulung dari 3 orang adik sempat trauma dengan yang namanya pernikahan. Mungkin adik-adikku mengalami hal yang sama walaupun tidak terlihat. Tapi yang pasti, kami tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang kaya akan pengalaman konflik dalam rumah tangga.
Sisi negatifnya? Aku pribadi menjadi apatis dengan yang namanya kehidupan rumah tangga, saat itu aku memutuskan untuk tidak mau menikah karena lelah melihat kehidupan pernikahan orang tuaku sendiri, lelah menyelesaikan masalah mereka dan lelah harus menghadapi konflik yang tidak ada akhirnya. Bisa anda bayangkan hidup didalam rumah yang penuh konflik dari usia 12 tahun hingga 32 tahun? Aku sudah tidak bisa lagi merasakan stress karena buatku keributan sudah menjadi hal yang biasa, santapan aku sehari-hari. Banyak sekali hal-hal negatif yang tertanam didalam diriku karena hidup didalam konflik selama 20 tahun. Ingin keluar dari rumah? Tentu, tapi kembali aku memikirkan adik-adikku dan nggak rela mereka menghadapi ini semua tanpa aku.
Alhamdulillah aku diberikan kekuatan untuk membimbing adik-adikku sehingga mereka tidak ada satu pun yang terjerumus narkoba dan kehidupan bebas yang jahat. Mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang normal, tapi rasa benci dan sakit hati yang tertanam dihati mereka tidak bisa hilang begitu saja. Adik bungsuku mentah-mentah menolak bertemu dengan ayah kandungnya sendiri. Aku berusaha tetap berada ditengah dan mengatakan seburuk apapun dia, orang tua kita tetap harus dihormati.
Kami telah membuang jauh-jauh rasa sakit hati dan benci yang telah begitu lama tertanam, yang berlalu ya biarlah berlalu. Dengan kejadian tersebut kami berempat menjadi kakak beradik yang sangat solid, kompak dan saling mendukung. Setiap ada kesulitan kami selalu membantu. Kami bersyukur, dengan support dari berbagai pihak akhirnya adik bungsuku lulus dari SMA tahun lalu. Dia saat ini sedang bekerja sambilan sambil menabung untuk membiayai kuliahnya nanti. Kami sangat bangga padanya.
Adikku yang ketiga menikah lebih dahulu dan telah memiliki seorang anak. Rupanya Tuhan menentukan jalan lain untukku. Pada saat aku membuat resolusi untuk hidup sendiri di tahun 2004 yang lalu, Tuhan mempertemukan aku dengan sahabat yang akhirnya menjadi suamiku, kami sekarang memiliki seorang putri lucu berusia 20 bulan. Mudah-mudahan pengalaman hidupku dapat membantuku menjadi seorang istri dan ibu yang lebih baik.
Jalan hidup memang tidak pernah bisa kita prediksi, tapi bagi anda yang saat ini sedang memikirkan untuk bercerai atau sedang memiliki masalah rumah tangga, berpikirlah dua kali sebelum memikirkan perceraian sebagai sebuah jalan keluar. Jangan-jangan perceraian tersebut merupakan jalan masuk kesebuah masalah yang jauh lebih besar. Apalagi jika anda telah memiliki putra atau putri, pikirkan lah nasib dan perasaan mereka. Aku dan adik-adikku adalah saksi hidup dari apa yang namanya perceraian. Sebuah kata yang begitu umum untuk didengarkan saat ini. Terlalu panjang kalau mau ditulis bagaimana luka dan sakitnya kami. Aku sendiri sudah tidak sanggup kalau harus mengingat kenapa kami bisa bertahan hidup dalam suasana yang sangat membuat kami tertekan selama 20 tahun.
Mudah-mudahan cerita ini bisa membawa pencerahan bagi siapa saja yang membacanya. Aku berharap dapat membantu anak-anak yang lahir atau besar dengan konflik keluarga seperti yang kami alami. Mudah-mudahan pengalaman kami menghadapi keadaan itu bisa membuat mereka lebih kuat menghadapi cobaan tanpa harus jatuh kedalam belitan narkoba. Semoga.
Cheers,
Titien |