We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Bersambung arrow Melepas Mimpi Remaja (Bag.3)
Melepas Mimpi Remaja (Bag.3) E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Rabu, 07 Maret 2007

Staf yang lain sudah sejak tadi meninggalkan ruangan kerja Pak Bos. Tinggal Anya yang masih sibuk mencocokkan beberapa penyesuaian rancangan biaya dengan Pak Bos, sesuai dengan hasil diskusi mereka tadi.

"Abang kemarin ketemu Jo waktu diskusi di kantor World Bank. Kelihatannya dia betul-betul tertarik sama Anya. Dia banyak tanya-tanya tentang Anya lho." Bang Fajar menyerahkan berkas terakhir yang sudah ditandatanganinya.

"Trus?"

"Ya abang bilang terus terang, asal kuat aja Jo! Anya itu lulusan master dengan prestasi cemerlang, aktifis perempuan, dan sangat feminis. Maklum didikan barat!"

Tangan Anya bergerak meninju bahu sepupunya. Bang Fajar tertawa lepas sampai bahunya berguncang. Tinju mungil Anya tentu tak berarti apa-apa bagi seorang simpai seperti dirinya.

"Abang serius nih! Jo dan Anya sepertinya cocok. Sama-sama masih sendiri dan punya karir bagus yang bisa saling mendukung. Dia juga lulusan Amerika dan sangat open-minded. Jadi nggak bakal menjajah ama istri-lah. Abang kenal baik sejak di Surabaya. Dia dua tahun di bawah Abang. Anaknya aktif dan baik. Agamanya juga …."

"Jreeeeng, iklan nomer berapa nih Bang? Dapat komisi nggak dari Jo? Udah ah, jam makan siang udah habis nih Pak Bos, jangan sampai korupsi waktu kerja gara-gara ngurusin jodoh adik lho!" Anya tertawa lebar, meninggalkan ruangan kerja Bang Fajar.

Keluar dari ruangan Pak Bos, masalah baru sudah menunggunya di ruang kerja. Ika sudah duduk dengan manis di depan meja kerjanya. Dari sikap dan ekspresi wajahnya, Anya sudah bisa menebak maksud hati gadis itu. Pasti soal abangnya lagi.

"Ada yang perlu kusampaikan pada Kak Anya. Sepulang kantor nanti boleh ya? Kalo aku ngobrol sekarang, pasti diusir deh! Abis jam makan siang udah lewat."

"Tau gitu lo…" Anya tersenyum. Dalam hati dia bersyukur, tidak harus kembali duduk mendengar cerita Ika yang topiknya tidak akan jauh berbeda dengan cerita Bang Fajar dir uang kerjanya tadi. Cuma beda tokohnya aja!

Anya memandang Ika yang melangkah pelan, meninggalkan ruang kerjanya. Dia sebenarnya suka ngobrol dengan gadis bertubuh mngil itu. Apalagi gadis itu sudah seperti adik sendiri bagi Anya. Tapi untuk topik yang bertajuk perjodohan, siang-siang begini sungguh membuat kepala Anya akan berdenyut tidak karuan!

Laporan akhir bulan dan beberapa proposal membuat Anya sejenak melupakan permintaan Ika. Jam pulang kantor pun terlewati begitu saja. Ketika melihat Ika masih menunggunya di halaman depan kantor, Anya baru tersadar!

"Udah lama nunggunya Ika?"

"Belum, tuuuh belum jamuran..." gadis berjilbab biru muda itu memajukan bibirnya.

"Mau ngobrolin apa sih? Nggak bisa besok? Aku ada janji mau ngantar Mama nih.." Anya masih berusaha menghindar.

"Ngga lama, kok. Paling sepuluh menit. Ika cuma mau minta maaf..."

"Maaf?" Sepasang alis Anya bertaut. Sesaat Anya teringat pada Jo. Pada pertemuan mereka yang berawal dari kata itu.

"Iya..." wajah Ika yang tampak sedih membuat Anya menarik tangan gadis itu, menuju bangku mungil di dekat palataran parkir.

"Kemarin itu Ika begitu semangat hendak memperkenalkan Kak Anya sama Bang Juanda." Nada suara Ika terdengar begitu ragu.

"Oh, masalah itu ya…" Anya berpura-pura tidak mengerti.

"Maaf, kalau penolakanku waktu itu membuatmu sedih. Ya udah, ayo kenalkan abang sulungmu padaku. Biar komplit, aku kenal semuanya. Tanggung kan, karena aku udah kenal kedua abangmu yang lain." Anya mencoba bergurau.

"Itu dia, Kak! Ika yakin sekali lho kalian berjodoh. Ika sempat cerita tentang Kak Anya pada Bang Juanda. Sepertinya dia kelihatan tertarik. Ika pikir, tinggal merayu kakak aja, supaya mau diperkenalkan. Selanjutnya kan terserah kalian berdua, siapa tau Allah memang menentukan kalian berjodoh. " Ika kini malah terpekur. Sesekali tangannya bergerak merapikan jilbabnya yang dipermainkan angin.

"Loh, kan aku sudah bersedia dikenalkan. Kok malah tambah sedih... Ayo dong Ka..."

"Belum lagi aku berhasil merayumu, kini muncul pula masalah baru. Sepertinya Abangku sekarang sedang jatuh cinta. Kami belum tau sama siapa. Aku dan Bunda tidak berani bertanya."

Suara Ika yang serak dan nyaris bercampur tangis itu disambut tawa lebar Anya. Ika mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata Anya yang memandangnya dengan sorot geli.

"Kamu ini aneh, Ka. Seharusnya kamu kan bahagia. Bukannya itu yang kamu dan keluargamu inginkan?"

"Tapi aku kan sudah berjanji akan meperkenalkan Bang Juanda sama Kak Anya..."

"Oooo, itu yang membuat kamu susah hati? Tenang aja, Dek. Aku kan belum ketemu ama Abangmu. Jadi nggak masalah bagiku. Lagian, aku sendiri yang waktu itu menolak untuk dikenalkan. Berbahagialah, Ika. Semoga kali ini Bang Juanda bertemu jodoh idamannya. Aku ikut berdo’a…Betul kataku kan, kalo kata Allah berjodoh, nggak akan kemana!"

Kelegaan perlahan memancar di wajah Ika. Sepenuh hati dipeluknya Anya.

"Makasih Kak, walaupun dalam hati aku masih berharap kita akan bersaudara."

"Tanpa menjadi istri abangmu pun, kamu sudah kuanggap adik sejak dulu, Ka."

"Eh, sore-sore pada peluk-pelukan. Ayo, pada pulang..." Pak Hadi berseru pada keduanya.

"Nyuruh-nyuruh pulang emangnya mau ngasih tumpangan Pak Hadi?" Ika balas berseru.

"Ayo aja, tapi jemput istri saya dulu ya."

"Asiiikkk, hemat ongkos becak." Ika tertawa. Dia mengikuti langkah laki-laki itu menuju mobilnya.

Anya tersenyum lega. Persoalan Ika sudah selesai. Kini tinggal menata hatinya, menghimpun kekuatan untuk menentukan sikap. Beranikah dia membuka hatinya kembali? Menepis mimpi remaja dan membiarkan tidurnya ditemani mimpi indah yang lain?

Telepon genggamnya berbunyi beep-beep. Ada pesan masuk rupanya. Dari Jo!

"Aku dtg jam 8. Sdh tlp Mamamu, beliau blg silahkan kl mau dtg. Kami tdk ada acara. "

Huh! Ini pasti hasil kerja sama dengan Bang Fajar. Kalau tidak, dari mana Jo tau nomor telepon rumahnya dan berani bicara pada Mama? Mama juga tanpa bertanya dulu pada Anya, langsung main suruh datang aja!

Anya membuka pintu mobilnya dengan perasaan campur aduk. Aneka rasa silih berganti mengayun bimbang hatinya. Tuhan, setelah tujuh tahun berlalu, akankah ragu dan takut ini sirna?

 
< Sebelumnya

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement