We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Musik arrow Melepas Mimpi Remaja (Bag. 2)
Melepas Mimpi Remaja (Bag. 2) E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Rabu, 28 Pebruari 2007

Gedung ACC Prof. Dayan Dawood tampak penuh dengan peserta diskusi. Sepertinya, hari libur tak membuat mereka kehilangan semangat untuk tetap hadir. Anya bergerak mengikuti langkah Pak Boss dan Pak Hadi. Mereka segera mengisi daftar hadir dan mengambil kartu tanda peserta.

“Apa nggak jet-lag tuh stafnya Clinton. Kemarin sore nyampek ke sini, trus langsung diskusi ama kita-kita.” Pak Hadi berbisik, disambut senyum Pak Boss.

Acara pembukaan berlangsung singkat, panitia memang tidak ingin berlama-lama dengan pidato panjang. Mereka ingin menghabiskan waktu yang tersedia untuk berdiskusi, agar memperoleh masukan sebanyak mungkin dari peserta diskusi mengenai isu-isu strategis seputar rehabilitasi dan rekonstuksi paska tsunami di Aceh.

Lima isu penting itu sudah disosialisasikan beberapa hari sebelumnya, agar diskusi hari ini mencapai sasaran yang diinginkan. Terlebih hasilnya akan dilaporkan langsung pada mantan orang nomor satu di Amerika itu. Kemudian Presiden Clinton akan membahasnya dengan tokoh-tokoh penting di PBB, sebagai bagian dari tugas beliau selaku special envoy PBB untuk tsunami.

Anya tak dapat menahan kantuknya pagi ini. Tak biasanya dia seperti ini. Padahal semalam dia tidak begadang seperti biasanya.

“Ngopi dulu, Nya. Biar fresh!” Pak Bos yang tak lain adalah sepupunya, tersenyum melihat wajah Anya yang terangguk-angguk diayun kantuknya. Mereka saat itu baru saja memasuki jeda tiga puluh menit, sebelum para peserta dikelompokkan dalam diskusi per-isu terkait.

“Kali Anya jet-lag juga Bos!” Pak Hadi tersenyum lebar. Laki-laki separuh baya itu ikut menggoda Anya.

Anya suka sekali bekerja dengan laki-laki separuh baya itu. Cara berpikirnya sangat positif dan pragmatis. Semua masalah tampak mudah kalau berurusan dengan beliau.

“Kalo Pak Hadi yang ngomong, Anya iya aja lah…”Anya bangkit dari duduknya.

“Sekalian ambilin Abang juga ya, Nya. Pleaseeeee…”

“Yeee, rupanya nyuruh Anya minum kopi karena ada maunya! Kirain tulus! Kapan bisa maju negara ini, kalau saat diskusi begini pun, perempuan tugasnya tetap aja disuruh bikin kopi!”

“Minta tolong malah jadi isu gender begini. Payah Anya nih, Pak Hadi!”

Mereka berdua tertawa pelan. Anya menggeser kursi tempatnya duduk, melangkah meninggalkan dua laki-laki yang masih terkekeh itu.

“Dari lembaga riset ya?” seorang laki-laki menyapa Anya saat gadis itu menuang kopi dalam cangkir plastik.

“Iya….” Anya menyahut singkat, sekedar membalas basa-basi laki-laki itu.

“Saya kenal seseorang yang bekerja disitu lho! Ini, saya punya fotonya.” Laki-laki bertanda peserta “panitia” itu terus bicara. Dia kini meraih kamera digital yang disandang di bahu kirinya.

“Mau lihat?” dia menyodorkan kamera tersebut ke arah Anya.

Mulanya Anya hanya melirik sekilas tanpa minat. Tapi begitu melihat foto yang terpampang di kamera digital itu, kantuknya lenyap seketika!

Berbagai rasa berkecamuk dalam benaknya. Lantas menggumpal menjadi rasa muak pada laki-laki di hadapannya ini. Tapi ditahannya keinginan hati untuk melepaskan amarah dan kekesalannya pada laki-laki itu. Anya sadar, kehadirannya disini mewakili lembaga riset mereka. Dia tak ingin Pak Bos dan lembaga mereka terbawa-bawa, karena dia tidak bisa menahan diri.

Sekilas Anya melihat kartu tanda peserta laki-laki di hadapannya itu.

“Saya kira, sebagai panitia apalagi dari sebuah NGO seterkenal itu, anda tentu memiliki etika dan rasa santun yang tinggi. Rasanya sungguh tidak etis, bila anda memanfaatkan kekuasaan yang anda miliki untuk kesenangan pribadi. Apa maksud anda mengambil foto saya close-up begitu, kemudian menunjukkannya dengan cara yang baru saja Anda lakukan?”

“Duh, jangan galak begitu dong. Cewek Aceh galak-galak ya? Saya kan cuma becanda. “

“Kalau tamu yang datang ke Aceh seperti anda, power abuse, tentu yang salah bukan sikap perempuan Aceh! Perempuan dimana aja juga akan bersikap galak kalo bertemu dengan laki-laki yang bersikap seperti anda!”Anya memasang muka tak suka. Dia lega sudah meluapkan isi hatinya sebelum melangkah meninggalkan laki-laki itu.

“Kenapa Nya? Sewot gitu? Isu gender lagi?” Bang Fajar sudah berada di sisinya.

“Heran, sedang diskusi serius begini masih ada aja yang iseng nggak menentu! Makanya masalah Aceh paska tsunami nggak kelar-kelar! Kalau perempuan bersuara, dianggap urusan gender!” Anya berbalik kesal, bergegas meninggalkan meja komsumsi.

“Aduuuhhhh!” seorang laki-laki berseru.
Karena terburu-buru, tanpa sengaja Anya menabrak peserta lainnya dengan tangan yang memegang cangkir kopi.

“Aduuuuhhh, maaf, maaf, maaf sekali. Saya betul-betul nggak sengaja. Maaf...”sederet permintaan maaf diucapkannya dengan kikuk dan rasa serba salah. Dalam hati, dia kembali menyumpahi laki-laki tadi.

“Nggak pa-pa. Tumpahnya cuma sedikit kok. Saya kaget aja tadi.” Sosok jangkung di hadapan Anya tampak mengeringkan bagian lengan kemejanya yang terkena tumpahan kopi dengan serbet kertas.

Suara tawa Bang Fajar terdengar di belakangnya.

“Nggak cukup minta maaf aja, Nya. Kalo Cuma bilang maaf, siapa aja bisa. Ayolah, ajak makan malam, untuk menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh.” Bang Fajar tersenyum menggoda. Sepupunya itu memang pantang melihat ada kesempatan Anya berkenalan dengan seorang laki-laki.

“Eh, Bang Fajar! Apa kabar bang?” laki-laki itu menjabat erat tangan sepupunya.

“Baik, Jo. Baik sekali! Masih di UNHCR?”

Mereka berdua tampak akrab. Laki-laki yang dipanggil Jo itu mengangguk.

“Kenalkan, ini adik sepupuku, panggilannya Anya. Nama lengkapnya tanya sendiri. Manager keuangan di lembaga riset kami. Galaknya minta ampun! Barusan nyemprot panitia, eh sekarang numpahin kopi ke baju peserta!” Bang Fajar tertawa lagi. Bahunya bergunccang seirama dengan tawanya. Sementara Jo dan Anya saling tersenyum kaku.

“Aku serius lho dengan ide makan malam tadi. Gimana Jo?”

“Bang Fajar sepertinya salah menu sarapan hari ini. Dari tadi nyari perkara terus sama aku! Ya udah, karena aku yang salah, aku yang traktir deh. Di Lamnyong Restoran nanti malam ya.” Anya menatap sepupunya penuh kemenangan.

Akal-akalan Bang Fajar sudah bisa dibacanya. Bukan kali ini saja sepupunya itu mengajak makan di restoran, kemudian pura-pura berhalangan. Jadinya Anya dan siapapun laki-laki yang ingin dikenalkannya pada Anya, akan pergi makan berdua saja.

“Lamnyong restoran? Nanti malam?”

“Ya!” Anya menjawab mantap.

Fajar kehilangan kata. Dalam hati dia mengakui kecerdikan adik sepupunya. Pertama, waktu dadakan yang dipilih Anya tentu membuka peluang besar bagi Jo untuk tidak bisa datang. Kedua, tempat yang dipilih Anya sama sekali tidak cocok dengan skenarionya Fajar. Dia tidak bisa membayangkan, akhir pekan begini makan malam di sana. Pasti penuh dengan suara orang berkaroake.

“Paling Jo juga nggak bisa, kan Malam Minggu.” Anya kembali bersuara.

“Oh, saya nggak kemana-mana kok. Sekalian nostalgia masa di ITS dulu ya Bang.”

“Ya, sekalian reunianlah.” Kini giliran Fajar menatap Anya penuh arti. Kemenangan ternyata belum berpihak pada gadis itu.

Pengumuman dari panitia terdengar dari pengeras suara. Mereka bergegas menuju ruang diskusi kelompok.

Tak disangka, ternyata Anya dan Jo memilih isu yang sama, akuntabilitas pengelolaan dana public untuk program tsnumai. Jadilah Anya satu ruangan dengan laki-laki jangkung itu.
Anya terkesan dengan pemikiran dan cara pandang Jo. Dia tidak serta-merta menafikan usaha yang ditempuh berbagai pihak untuk mewujudkan aspek akuntabilitas dalam pengelolaan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Bahasa yang dipilihnya halus, ketika menyorot berbagai kekurangan yang bisa berakibat pada bocornya dana rehab-rekon Aceh itu. Solusi yang dipaparkannya dengan berbagai kemungkinan juga menarik.

Diskusi mereka masih berlanjut saat menikmati makan malam di restoran. Seperti diduga, Bang Fajar mengirim sms padanya dan Jo. Selalu ada alasan jitu yang disampaikan sepupunya itu, hingga tidak bisa ikut bersama mereka.

Obrolannya dengan Jo mengalir begitu saja. Mulai dari lanjutan diskusi sampai berbagai topik hangat tentang Aceh. Diam-diam Anya menyesal, kenapa memilih Lamnyong restoran yang riuh dengan suara orang berkaroake. Berkali-kali dia dan Jo terpaksa berbicara agak keras, mengurangi kenyamanan perbincangan mereka.

“Aku janji pada Papa akan kembali pukul 10.” Anya mengakhiri perbincangan mereka malam itu. Aneh, ada keasikan yang tercipta begitu saja. Waktu berlalu begitu saja, tak terasa mereka sudah berada di sana nyaris dua jam lamanya.

“Terima kasih untuk makan malamnya.” Jo bergerak bangkit, mengikuti langkahnya meninggalkan meja mereka.

“Maaf ya, kalau makan malam ini tidak memadai sebagai permintaan maaf, karena aku sudah menumpahkan kopi di bajumu.”

“Terus terang, sebenarnya belum cukup lho. Masih ada bunganya juga seperti pinjaman Bank.” Jo tersenyum, memperlihatkan sederet giginya yang teratur rapi. Dia melambaikan tangan, sampai mobil Anya meninggalkan pelataran parkir restoran itu.

Setelah makan malam itu, Jo benar-benar membuktikan ucapannya. Masih ada “bunga” yang harus dibayar Anya, sebagai lanjutan dari permintaan maafnya. Tapi Anya selalu berhasil menolak dengan halus ajakan makan siang atau makan malam dari laki-laki itu. Namun penolakannya, tak membuat Jo berhenti menelpon atau mengirim sms hampir empat-lima kali setiap hari. Kadang mereka berdiskusi lewat email-email panjang tentang banyak hal.

Sosok Jo semakin dikenal Anya lewat diskusi-diskusi mereka. Namun Anya belum berani melangkah lebih dari itu. Dia juga berusaha pura-pura tak mendengar ucapan bernada promosi dari Bang Fajar tentang Jo. Ragu dan takut masih saja membentengi hatinya.

Anya tahu, dari sikap dan gayanya, Jo menaruh perhatian khusus padanya. Tapi dengan kualifikasi yang dia miliki, siapa yang berani menjamin bahwa Anya bukan satu diantara sekian pilihan yang tersedia baginya? Barisan panjang gadis-gadis muda dan cantik tentu sudah beratur rapi menunggu pinangannya. Bagaimana kalau ternyata pada akhirnya Anya tak memenuhi syarat yang diinginkan laki-laki itu? Anya tak siap untuk terluka lagi!

Haruskah Anya menepis kehadiran Jo? Tidakkah itu berarti dia memungkiri hatinya yang mulai merasa nyaman dengan kehadiran laki-laki itu?

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement