|
Sehabis nikah, biasanya isteri berganti nama, atau menambahkan nama suami di belakang namanya. Diskusi mengenai pergantian nama setelah menikah berlangsung juga di milis WRM. Ada pula Mommies yang tetap mempertahankan nama aslinya. Tentulah hal tersebut ada alasannya, seperti penuturan angota berikut ini:
"Setelah nikah aku tidak berganti nama, tetap bangga dengan nama yang diberikan orangtua dan lagi pula saya tidak ingin berganti nama, saya ingin tetap memiliki jati diri sendiri, tetap diakui sebagai "seseorang" bukan karena suami. Tetapi banyak cerita lucu akibat tersebut. Saat ke dokter ataupun berkunjung ke suatu tempat, suamiku disapa dengan Mr X, yang merupakan nama belakangku. Tentulah ia protes, dan memberitahukan bahwa itu bukan namanya. Yang diberitahukan terheran-heran.
Saya juga pernah mengalami kejadian lucu, saat disapa dengan nama suami, saya tidak perduli. Saya merasa itu bukan nama saya.
Pernah salah satu temanku protes, kenapa aku masih memakai namadari kecil, sedangkan sudah menikah, kalau menurut kebiasaan di Amerika, setelah nikah, isteri berganti nama dengan nama suami, seperti nama temanku tersebut. Aku jelaskan pada temanku tersebut, di Indonesia itu bukan kewajiban, terserah isteri, tidak ada keharusan, malah saat meninggal kita terbiasa menyebut dengan nama orangtua kita, bin or binti.
Temanku bilang, perganti nama tersebut, merupakan tanda hormat kamu terhadap suami kamu, lalu saya bertanya ke temanku tersebut, kalau begitu nama suami kamu Ash..., lalu temanku bilang iya dia suami pertamaku, saya sudah 3 kali nikah, tetapi nama saya masih pakai nama suami pertama saya. Lalu saya tanyakan, kalau begitu mana penghormatan kamu ke suami kamu sekarang. Jawabnya malas saya ngurus ganti nama. Jawabku, kalau begitu mendingan kamu pakai saja nama kecil kamu, nikah sama siapapun tidak perlu repot ngurus pergantian nama."
"Jika bicara mengenai nama sendiri, terus terang aku senang pakai 1st nameku. Tapi middle namenya dari dulu tidak suka. Bukannya tidak terima kasih sama orangtua, tapi rasanya feminin sekali. Jadi selalu aku singkat saja L. Malahan aku bercita-cita kalau punya anak perempuan akan dinamain nama yang bisa perempuan, bisa laki-laki. Nama yang kupakai masa sekolah beda dengan masa kerja, beda juga masa ibu RT. Sekolah aku pakai nama asli ku. Saat kerja nama profesional dan nama keluarga. Naah., sekarang pakai namaku plus nama suami. Mudah-mudahan diberkahi Tuhan dengan nikah sekali seumur hidup, jadi tidak perlu ganti last name."
"Kalau akua tetap pakai nama sendiri, tadinya setelah nikah berangan-angan mencantumkan nama suami. Tetapi setelah diucapkan tidak sreg. Jadilah tetap pakai nama sendiri dan kayaknya masih lebih oke, dan sudah terbiasa di telinga."
" Aku dari kecil, sekolah, kerja dan menikah tetap pakai nama sendiri, nama ayahpun tidak nyantel.., aku tidak punya alasan apa-apa. Dulu wktu aku kecil sering sekali aku liat ibuku itu kalau tulis namanya pakai Ny. terus nama ayah. Lalu aku berangan suatu saat seperti itu. Tetapi anehnya setelah hamil dan lahiran tetap pakai nama sendiri. Walaupun di buku kesehatan ditulis Ny..., baca dan dengarnya aneh.
Kebetulan juga aku dapat suami yang namanya juga nama sendiri, jadi pas anak kami pakai namanya sendiri,, keluarga juga tidak ada yg pada protes.."
"Kayaknya memang enak tetap pakai nama sendiri ya, lebih familiar. Tetapi kalau untuk teman-teman sendiri nama tidak berubah kecuali untuk orang-orang baru, saya mengenalkan diri sebagai Ny. I..., tapi pernah saya ikutan acara kumpul-kumpul dan saya mengenalkan diri sebagai Ny. I..., tapi karena tidak biasa pas nama saya dipanggil untuk dapat door prize dengan nama Ny. I.., saya tidak perduli. Ya sudah sampai acara selesai dan saya akhirnya pulang, saya tetap tidak sadar yang tadi disebut itu saya. Besoknya suami pulang bawa Dispenser. Suami saya bilang lain kali pakai nama sendiri saja, masih untung panitia masih temen dia sendiri, kalau bukan dan hadiah door prizenya mobil Merci, apa tidak."
"Aku juga masih pakai nama sendiri, tapi kalau sama tetangga aku jadi dipanggilnya Bu Ad.., atau Mama Alma, malah tidak ada yang tahu nama asliku. Itulah resiko jadi ibu RT, identitas kita seolah-olah hilang entah kemana." (MD)
|