|
Saat menelusuri rubrik Humaniora pada surat kabar Kompas hari Rabu, 18 Agustus 2004, mata saya berhenti pada satu judul di kolom enam, berbunyi “Tingkatkan Minat Baca dengan Kompetisi Baca Tulis.” Penasaran soal kompetisi itu, saya membaca lebih lanjut. Kompetisi Baca Tulis Tingkat Nasional diselenggarakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia. Dalam kompetisi, panitia menawarkan sejumlah buku fiksi dan non fiksi yang bisa dipilih para peserta untuk diresensi. Selain itu mereka harus menulis karangan dengan tema berbeda bagi siswa SD, SMP dan SMA.
Panitia menilai secara keseluruhan, jumlah dan mutu peserta menurun. Meskipun secara pribadi hasil tulisan juara 1 dari SD sampai SMA sangat mengesankan. Dapatkah kita berbahagia membaca hal tersebut? Saya lalu teringat pada tulisan Masmimar Mangiang, seorang wartawan senior yang membahas soal budaya lisan bangsa Indonesia melalui tulisannya berjudul “Tukang Omong” dalam rangka peringatan Hari Aksara Internasional tahun 2003.
Menurutnya sudah lama sekali diketahui dan sudah sangat sering diperbincangkan bahwa kebudayaan lisan di Indonesia lebih kuat ketimbang kebudayaan tulis. Tak ada rekaman tertulis yang kita buat. Tidak ada tradisi berdokumentasi yang kita punyai. Dalam hal ini, kita tertinggal sangat jauh dari Barat, Timur Tengah, dan juga Timur Jauh seperti Jepang dan Cina. Bahkan di kalangan sarjana Indonesia sedikit sekali ditemukan tradisi menulis itu.
Mungkin karena itu kita sering kehilangan "hubungan" dengan masa lalu. Sulit buat kita belajar dari pengalaman karena pengalaman itu tidak terdokumentasikan dengan baik. Boleh jadi juga karena itu kita tak sanggup melihat masa depan. Bahkan untuk memahami keadaan sekarang pun kita kerap menghadapi kesulitan. Tetapi kebudayaan lisan Indonesia agaknya tidak sekadar dalam pengertian lebih suka bicara dan tidak memiliki tradisi menulis. Boleh jadi ia lebih "parah" dari itu, karena kebudayaan lisan alias bertutur ini barangkali sudah menjadi kebudayaan "hanya bisa ngomong dan tidak mengerti memecahkan masalah."
Begitu Indonesia menghadapi persoalan pelik yang namanya krisis multidimensi, setiap hari di televisi ada siaran tentang seminar atau diskusi. Khalayak hampir muak dijejali dengan talk show yang kerap kali hanya menjadi tempat berpamer pikiran sepotong-sepotong, tidak utuh, dan karena itu sebagai gagasan ia tak bermanfaat untuk memecahkan persoalan. Lebih celaka lagi, ada kesan, setelah sesuatu dibicarakan begitu sering, habis-habisan, melibatkan banyak orang dalam banyak forum, kita menganggap masalahnya selesai tanpa diikuti tindakan nyata untuk memperbaiki persoalan itu. Yang dihasilkannya hanyalah bintang-bintang tukang omong, populer bak layaknya selebriti.
Persoalan "budaya lisan" pun dari dulu sampai sekarang hanya sekadar kita "bicarakan." Berpuluh-puluh tahun dikatakan bahwa menulis dan membaca itu penting, dan selama itu pula persoalan ini kita diamkan. Tak ada perubahan nyata pada kurikulum sekolah yang menciptakan budaya menulis dan membaca. Tak ada kebijaksanaan penerbitan dan perdagangan buku yang memudahkan masyarakat memperolah bacaan. Tak ada keseriusan mengembangkan dokumentasi dan perpustakaan. Oleh karena itu, walau ada seribu Hari Aksara lagi, dengan seribu lagi seruan agar menulis dan membaca dijadikan tradisi, tak akan ada hasil yang nyata. Jangan-jangan kita kelak akan menjadi bangsa yang terlalu banyak bicara, sedikit berpikir, dan tak bisa bekerja.
Cukup panjang saya mengutip tulisan wartawan senior yang pernah menjadi guru saya itu. Kalimat terakhir membuat saya berfikir, seironis itukah bangsa Indonesia nantinya? Kalau ya, bukankah tugas saya dan rekan-rekan orang tua untuk menanamkan kecintaan baca tulis kepada generasi kami? Dengan demikian, generasi anak-anak kami kelak dapat menjadi “tukang omong” yang tangguh, secara lisan dan tulisan. Pencatat sejarah dan pembentuk budaya baru yang lebih baik bagi bangsa ini.
Oleh: Wanda Hazman Terima kasih untuk Masmimar Mangiang, wartawan senior dan guru saya semasa kuliah di FISIP UI. Berkat beliaulah saya mengerti bahwa menulis itu menyenangkan |