We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Pengalaman Ber-homeschooling
Pengalaman Ber-homeschooling E-mail
Pengirim: Pungki Bullock   
Rabu, 28 Pebruari 2007

Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada saya, "Bagaimana sih cara ber-homeschooling". Saya jawab, "Tidak tahu cara-caranya. Biasanya semua itu saya ketahui ketika saya sedang mempraktekkannya." Memang saat ini Februari’07, mas Imam sedang bersekolah di public school, home schooling saya hanya bersifat part timer.

 

Diberikan setelah Mas Imam pulang sekolah. Saya hanya mengajarkan Islamic Ethic, anything Islamic studies yang simple-simple saja, seperti mengingatkan (selalu) sholat yang benar, mengingatkan bacaan-bacaan Quran (Juzama saja), sampai mendidik tentang menyayangi orang tua, pets,  sampai mengapa Allah menciptakan alam, dan lain sebagainya. Ketika mas Imam off atau libur dari sekolahnya seperti di musim Summer atau ketika sekolah berakhir, selama tiga bulan saya melakukan intensif homeschool.

Alasannya saya memberikan homeschool, mungkin karena saya suka mengajar dan suka bermain bersamanya.  Ketika Mas Imam kecilpun, saya mengajarkan dia membaca sambil bermain-main dan sambil membacakan buku-buku cerita kepadanya. Mengajarkan berhitung sambil bermain-main. Belajar berhitung, sambil menunggu bus sebelum berangkat ke sekolah Pre-schoolnya. Ia menghitung bus-bus yang lewat, atau menghitung kereta BART (waktu kami tinggal di San Francisco dan Oakland Bay Area). Belajar berhitung dengan menghitung jumlah makanan yang masuk ke mulutnya. Dan macam-macam yang diajarkan. Demikian ketika Mas Imam sudah mulai bersekolah, saya kaitkan semua yang ia lakukan dengan segala jenis materi pelajaran.

Saat regular schoolnya berjalan, bentuk pengajaran kepada Mas imam, tidak selalu dalam bentuk saya duduk di meja dan memberikan buku kepadanya dan kemudian saya memberikan materi-materi kemudian Mas Imam menyerap pelajaran. Bukan baku seperti itu. Kebanyakan hal-hal ini saya lakukan saat Mas Imam bermain sendirian atau bermain bersama kami, atau ketika Mas Imam hendak pergi tidur, atau ditengah-tengah kami makan pagi, makan siang dan makan malam. Atau ketika kami sedang menonton televisi, saya kaitkan program yang ditontonnya dengan Islam dan Allah SWT dan Prophet Muhammad SAW.

Bentuk baku baru pelajaran model sekolah baru diberikan saat Summer Holiday. Inilah saat-saat yang agak berat. Sebelum melakukan, saya pastikan, saya mendapatkan dukungan dari ayahnya Mas Imam. Juga adanya kemauan dari Mas Imam sendiri. Homeschooling itu tidak bisa berjalan tanpa permintaan Mas Imam. Ditengah-tengah waktu selama tiga bulan itu, disaat semangat mas Imam luntur, dan kesabaran ayahnya luntur, adakalanya mereka berdua lupa akan permintaan mereka, itulah saatnya saya ingatkan kepada mereka bahwa semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan dari Ayahnya dan permintaan dari murid atau mas Imam sendiri.

Apakah saya seorang ibu yang sempurna? kadang saya bertanya demikian. Kemudian saya lihat apa yang ada di sekeliling saya. Dan saya menemukan jawabannya. Saya bukan seorang ibu yang sempurna, dan saya bukan seorang istri yang sempurna. Dalam saya mengajar, saya harus rela, rumah saya sebagai tempat Mas Imam bermain. Saya harus rela, saya sebagai teman bermainnya. Memang kadang kalau sedang cape, kadang saya akan berujar ke Mas Imam, "Mas, main sendiri yeah sana" terutama saat  tenaga saya melemah, atau semangat saya menurun.

Saya harus rela rumah saya tidak selalu rapi. Ayahnyapun harus rela, meja tempat ia bekerja (meja makan kami yang besar), itu berantakan dengan kertas-kertas gambarnya atau sticky dengan claynya. Saya dan ayahnya harus rela, kami tidak selalu makan yang enak. Kami harus rela, dapur kami tidak rapi, biar berkali-kali kami rapikan, pastinya Mas Imam mempergunakan alat-alat dapur dan kebutuhan-kebutuhan dapur (terutama gula dan garam) untuk Science eksperimentnya. Kami harus rela, laundry menumpuk karena waktu menyuci baju terpakai untuk mengajar. Kadang kami harus rela, rumah kami menjadi rusak, tembok rumah menjadi sedikit jebol, ketika mas Imam mempraktekkan Tae Kwon Donya. Saya harus rela kamar mandi harus cepat kotor walau kami sudah bersihkan, karena Mas Imam bolak-balik mengambil air untuk Science eksperimentnya.

Saya juga harus menyadari, Mas Imam juga bukan anak yang istimewa dan ia bukan anak yang sempurna. Ia memiliki kekurangan ditengah kelebihannya. Saya tidak bisa membanding-bandingkan mas Imam dengan anak-anak yang lain. Kadangkala, ayahnyapun harus juga sering-sering mengingatkan saya akan hal ini. Apalagi saat ia tidak bisa seratus persen menerima pelajarannya. Ada saat-saat, saya harus mendengarkan keluhannya, bila ia sudah berkata,”Mom, I don’t understand what do you mean” Bila kata-kata ini terucap, berarti saya harus sedikit memperlambatkan kecepatan saya mengajar. Saya harus duduk bersamanya, dan menjelaskan yang ingin saya jelaskan sesuai dengan kecepatannya menangkap ilmu itu. Ini berarti saya harus menyadari waktu penyerapan pelajaran itu mungkin bisa berkali-kali lipat dari waktu biasanya.

Ada saat-saat, saya harus menyadari bahwa Mas Imam bukan saya, dan saya bukan Mas Imam. Saya harus menyadari kemampuan Mas Imam menyerap pelajaran akan berbeda dengan kemampuan saya. Seringkali, saya harus menekankan diri saya sendiri untuk tidak memaksanya. Seringkali, saya harus berkata kepada diri sendiri, “Mas Imam adalah Mas Imam”.

Juga kami berdua, saya dan ayahnya Mas Imam, harus menyadari, waktu kami tidak bisa seperti ketika kami hanya berdua, waktu kami dua puluh empat jam dan tujuh hari akan habis terpakai untuk mendidiknya. Kami harus menyertakannya dalam kegiatan kami. Dan mencoba mendorong Mas Imam untuk menulis journal sesanggupnya bila ia sudah melakukan kegiatan-kegiatannya. Barangkali sementara ini, cuma itu yang saya bisa rangkumkan. Mungkin dilain kali, saya akan menulis lebih banyak lagi.

Salams, Illinois 2007

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement