We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Bersambung arrow Melepas Mimpi Remaja (Bag. 1)
Melepas Mimpi Remaja (Bag. 1) E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Rabu, 21 Pebruari 2007

"Dijamin deh, kak Anya bakal kesengsem!"

Kalimat itu seketika mengunci pendengaran Anya. Cerita Ika selanjutnya seperti terbiar di udara. Sementara pikiran Anya terbang jauh, terperangkap kembali ke masa lalu. Kisah yang selama ini tersimpan rapi di ruang hati, tiba-tiba berlompatan dalam ingatan Anya.

"Idiiiih, Tante Nin! Kayak Siti Nurbaya jaman millenium aja deh, dijodoh-jodohin!" demikian komentar Anya waktu itu.

"Eh, ini bukan sembarang Siti Nurbaya. Dijamin deh, Anya bakal kesengsem!" nada suara Tante Nin persis sama seperti Ika. Kalimat mereka pun tak ada bedanya!

Setelah percakapan pertama itu, Tante Nin tak bosan merayunya. Akhirnya bujukan itu berhasil juga. Mereka berdua, Anya dan laki-laki itu, kemudian dipertemukan.

Tante Nin memang tidak salah! Sejak pertama kali bertemu, Anya seakan tersihir olehnya. Sampai detik ini pun, pertemuan pertama itu masih berjejak rapi dalam ingatannya. Bahkan dia masih ingat betul, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak menatap laki-laki itu. Berkali-kali dia menundukkan pandangannya. Kalau tidak, sepasang matanya pasti tak berkedip, terus menatapi mahluk tampan itu.

Sosok itu seperti jelmaan mimpi Anya! Tubuh jangkungnya yang terbalut rapi kaus putih berkerah dengan garis-garis biru tua di bagian dadanya. Sepasang mata dengan alis terpahat rapi memayunginya, juga bentuk hidung yang sempurna. Belum lagi gaya potongan rambutnya yang bagian depannya sesekali jatuh ke dahi. Melengkapi pesona magis laki-laki itu.

"Lulusan master dari University of Melbourne lho! Katanya sedang siap-siap mau ngambil S3 di negerinya Oshin. Coba apalagi yang kurang?" Tante Nin berbisik seraya mengedipkan matanya.

Yah! Siapa yang tak berbunga-bunga bertemu dan mendengar semua kriteria sosok gagah itu? Tampan, lulusan luar negeri, cerdas, karir yang menjanjikan dan masih ada sederet nilai plus lainnya. Setiap gadis remaja seperti Anya, pasti memimpikan pangeran seperti ini untuk datang dan meminangnya.

Sikapnya pun melambungkan harapan Anya. Sejuta bunga merekah dalam hatinya, menghadirkan harum beribu musim semi. Melodi yang sama bersenandung dalam hati keduanya.

Pertemuan sore itu pun berlanjut dengan kunjungan kedua, ketiga dan seterusnya. Mimpi Anya semakin dipenuhi oleh bayangan masa depan bersama sosok laki-laki itu. Melayari negeri impian bersamanya, rasanya tak sabar menanti hari itu akan tiba! Tak terhitung berapa baris yang sudah ditulisnya berulang-ulang dalam buku hariannya: "Muhammad Ichsan Budiman dan Anya Rizkia Abidin". Hmmmm! Begitukah kira-kira yang terukir pada undangan pernikahan mereka?

Tujuh tahun berlalu sudah. Kisah sore itu ternyata tak berakhir seindah impian remajanya. Hari yang dinantikan Anya tak pernah menjelang jadi kenyataan! Ternyata dia hanya seorang Anya, bukan putri impian dalam angan laki-laki itu!

"Saya tidak bisa terima cara mereka, Kak! Tidak elegan! Sehebat apapun mereka, sebagai pihak perempuan... kita kan tetap punya harga diri! Heran! Katanya berpendidikan luar negeri!"gerutuan Tante Nin di ruang tengah menahan langkah Anya petang itu.

"Sabar, Nin. Namanya juga baru perkenalan. Kalau tidak cocok masak dipaksakan? Belum jodohnya Anya barangkali." Suara Mama terdengar sangat tenang, tak seperti batin Anya yang bergemuruh nyeri.

"Tapi saya tetap tidak rela! Walaupun baru tahap perkenalan, mestinya lebih manis dong caranya. Mestinya calon-calon yang ada diperkenalkan satu-satu. Trus dijalani satu-satu, kalau nggak cocok baru dilanjutkan dengan yang lain. Kalau tau cara mereka seperti menyeleksi Miss World begini, sejak awal tentu saya tidak akan memperkenalkan Anya padanya! Dia pikir siapa kita sampai mau-maunya masuk dalam bursa jodoh mereka!" Tante Nin tampak sangat emosi. Anya tentu saja memaklumi kekecewaan tantenya. Sejak awal, beliau sangat bersemangat dengan perjodohan ini.

Adik papanya itu tidak punya anak perempuan. Sejak bayi, Anyalah anak perempuan tantenya itu. Dia ikut merawat Anya sejak lahir, karena Mama harus bolak-balik masuk rumah sakit. Rahimnya terus mengalami pendarahan, yang berakhir dengan diangkatnya rahim wanita yang dicintai Anya itu.

"Biasalah, Nin. Kriterianya memang bikin heboh para orang tua yang punya anak gadis kan. Lagian, siapa coba yang nggak mau besanan dengan keluarga Pak Arif Budiman?" suara Mama kembali terdengar.

"Tenang aja, Tante. Anya belum buru-buru mau kawin kok. Baru juga tingkat tiga! Anya mau dikenalin kan demi menyenagkan hati Tante, mama Anya nomer dua." Anya melangkah mendekati Tante Nin dan Mama. Dia berusaha tertawa riang, walaupun kekecewaan yang menggurat dirinya jauh lebih dalam dari kekecewaan di hati Tante Nin.

"Tapi kok kayak mancing ikan ya? Sekali lempar enam-tujuh kail gitu! Kan kasian kalo anak orang sudah berharap! Untung ponakan cantik ini nggak patah hati!" Tante Nin memeluk Anya sepenuh sayang.

Wanita itu dan Mamanya tak melihat perubahan di wajah Anya saat itu, yang tersembunyi dalam pelukan tantenya. Hanya kamar dan diarinya yang menyaksikan, luka hati gadis itu luruh dari kedua sudut matanya. Mengalir membasahi pipinya malam itu.

"Kenapa tiba-tiba melodi hatimu berubah, setelah harapan kau letakkan di menara anganku? Ataukah aku yang salah mengartikan kesantunanmu?" pertanyaan yang ditulisnya itu nyaris tak terbaca. Kabur dan basah oleh tumpahan kepedihannya.

"Cantik, pintar…tapi tingginya kurang sesuai! Abis pas ketemu, Anya nggak pakek sepatu hak tinggi sih! Trus belum sarjana. Takut beda pemikiran. Lulusan luar negeri gitu lho! Dia nggak tau betapa ruginya nggak milih Anya sih! Untung kita sepupuan ya. Kalo nggak, udah sejak kapan-kapan deh aku jatuh cinta!"begitu seloroh Bang Fajar, sepupunya, ketika Anya secara bergurau bertanya, mengapa dia terdepak dari nominasi laki-laki itu.

Begitulah, impian remajanya terhempas untuk pertama kali. Rasa percaya dirinya tercabik, tak lagi seutuh dulu. Lantas ketakutan untuk membuka hati pada mimpi yang lain terus membayangi langkah gadis itu selanjutnya.

Begitu rapi luka itu tersembunyi, sampai semua keluarganya menganggap kejadian itu tak berarti apa-apa. Tujuh tahun setelah itu, saat Anya masih melangkah sendirian, semua menganggap gadis itu jatuh cinta berlebihan pada karir dan pekerjaannya.

"Yaaa, payah ibu menejer satu ini! Kita udah berbusa-busa bercerita, eh... dia malah melamun!" seruan Ika menariknya kembali dari kenangan pedih itu.

"Siapa yang melamun? Ika kan tahu, Kak Anya nggak berminat ngobrolin topik itu." Anya mencoba menyembunyikan lamunannya. Dia berpura-pura sibuk dengan beberapa berkas laporan di atas meja kerjanya.

"Justru karena Ika yakin, Kak Anya bakal berminatlah makanya Ika jadi berapi-api begini! Sebelumnya, mana pernah Ika sok sibuk jodoh-jodohin Kak Anya. Ayo dong, Kak. Aku berharap sekali lho supaya misi ini sukses." Wajah Ika dibuat memelas, seperti biasanya kalau dia sedang mohon sesuatu pada Anya.

"Halah! Ngerayu dot kom!" Anya memanyunkan mulutnya.

"Percaya deh, calonnya dijamin tooooopppp bangeeeett. Aku aja terpana!"

"Lah kenapa nggak dengan Ika aja kalu emang kualifikasinya oke?" Anya menarik kedua sudut bibirnya, mengejek Ika yang mulai akrab dengannya dua tahun belakangan ini.

"Ntu die, masalahnye, Mpok! Dia itu Abang kandungku!"

Kali ini mata Anya membulat. Rasanya, dia sudah kenal semua saudara laki-laki Ika. Gadis itu putri bungsu dari empat bersaudara. Itulah barangkali yang membuat mereka menjadi sangat akrab dalam rentang waktu yang relatif singkat. Kebutuhan Ika akan kehadiran kakak dan keinginannya untuk tidak sendiri sebagai putri tunggal dalam keluarganya.

"Ini abangmu yang mana lagi, Dek? Bukannya semua sudah menikah? Ini bukan proposal poligami kan?"

"Yeeee..."Ika menjulurkan lidahnya.

"Berarti selama ini Kak Anya nggak pernah menaruh perhatian sama cerita-ceritaku. Abangku yang paling tua kan belum menikah, Kak! Makanya aku tidak mau menerima lamaran Bang Adi."

"Upppssss... Maaf, Dek. Aku yang lupa. Abis belum pernah ketemu sih."

"Kak Anya tadi ngelamun sih! Padahal aku udah cerita tiga paragraf tentang beliau! Mau ya, aku kenalin ama Bang Juanda?"

Anya tidak menjawab. Bayangan masa lalu masih berkejaran dalam ingatannya. Ketakutan dan keraguan begitu kuat mengepungnya. Lama, dia baru menemukan suaranya kembali.

"Kita lihat saja nantilah. Kalo jodoh pasti ketemu sendiri kan, Dek. Seperti pertemuanmu dengan Adi. Udah ah, ntar aku dimarahin Pak Boss. Dia ingin laporan penelitian yang ini segera dikirim ke UN-HABITAT!" akhirnya Anya menemukan alasan untuk tidak memenuhi permintaan Ika.

Ika tak berani mendesak lagi. Walaupun sedikit kecewa dengan jawaban Anya, namun diam-diam hatinya terus menyemai harapan. Dua tahun sudah Ika mengenal manajernya itu. Dia yakin sekali, Kak Anya adalah gadis tepat untuk menjadi pendamping abangnya.

***

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement