|
Seorang anak bertanya pada seorang ibu, "Mengapa engkau marah padaku, Ibu. Sayangkah engkau padaku, Ibu?".
Ketika masih kecil, pertama aku marah, anakku seperti terpukul. Pertama kali pertanyaan ini keluar, tentu saja aku menghela nafas, tidak percaya, kata-kata itu terucap dari mulut kecilnya. Aku kemudian harus mengelus-elus punggungnya, menyakinkan bahwa cintaku tidak pernah hilang dan kemudian menyanyikan lagu lullabynya, "Sayang mama...sayang..mama...sayang..mama...sayang..mama" yang kemudian diikuti oleh suara lembutnya, "[dengan di sebut nama kecilnya] sayang mama, sayang mama, sayang Mama"
Ketika anak sudah agak besar saat aku marah, ia masih bertanya, "Apakah engkau benar-benar mencintaiku, lalu mengapa engkau marah kepadaku?". Pertanyaan ini kuyakini hanya untuk mencoba mengukur kecintaanku kepadanya.
Demikian percakapan ini selalu terjadi berulang-ulang kali setiap saat aku mencoba mendisiplinkan anakku. Sebagai anak satu-satunya (belum dikasih amanah untuk yang kedua), anakku selalu mempertanyakan kemarahanku sebagai ketidak-cintaanku kepadanya.
Aku mencoba menarik nafas dan memohon kepada Allah SWT untuk diberikan kesanggupan menjawab dan setelah helaan nafas kesekian kali baru kuberanikan diri untuk menjawab,"Aku marah karena aku mencintaimu. Aku tidak suka kelakuanmu, bukan aku tidak cinta kepadamu"
Anak menguji kecintaan adalah hal yang biasa karena anak masih terus belajar. Anak tidak serta merta mengerti bahwa marah adalah tidak sama dengan benci atau tidak cinta. Anak harus selalu berulang-ulang diyakinkan bahwa cinta Ibu sepanjang jalan. Seperti seorang kekasih yang berulang-ulang meminta diyakinkan dirinya akan kecintaan kita. Demikian pula anak kita.
Biasanya bila aku sedang marah dan aku ingin memberikan pengertian kepada anakku, maka sebelumnya aku berusaha menghilangkan kemarahanku dengan melakukan hal-hal dibawah ini (walau tentu saja aku terus masih belajar untuk bisa konsisten melakukannya):
1. Berusaha untuk menarik nafas dan menghitung sampai sepuluh sebelum membuka mulut. 2. Berusaha pergi ke lain ruangan dan menutup pintu. 3. Mencoba tiduran entah di sofa atau di tempat tidurku, kemudian aku mencoba menarik nafas secara perlahan, mencoba mengingat-ingat hal-hal yang menyenangkan seperti berlibur atau apa. 4. Ketika anakku sudah besar, dan ada orang yang mengawasi, aku mencoba meninggalkannya, keluar rumah, berjalan kaki satu atau dua blok di sekitar rumah (walau kalau sedang marah sekali, bisa berjalan jauh sekali) 5. Pergi ke kamar mandi atau closet kemudian menutup pintu dan mencoba menenangkan diri dengan membaca buku atau majalah, atau menulis atau menggambar-gambar sesuatu. 6. Duduk di tempat, mencoba menghiraukan orang-orang di sekitarku sampai aku tenang 7. Pergi ke tempat tidurku dan menyalakan music (Nashid atau apapun asal bukan rock and roll yang membuatku semakin marah), atau membaca Al Quran. 8. Mencoba menelpon beberapa teman, terutama teman yang sudah lama tidak ditelpon dan berbicara lama menanyakan kabarnya, dan hanya mendengarkan cerita-ceritanya. 9. Sholat khusus dan menangis kepada Allah SWT memohon diberikan kesabaran, dan memohon kepada Allah SWT agar mau membuka hati anakku.
Kulakukan semua itu, karena aku tahu, aku adalah manusia biasa, aku tidak ingin mendisiplinkan anakku saat aku marah besar, marah yang tidak terkontrol. Bila aku sedang marah besar, aku katakan sejujurnya kepadanya, "Ibu sedang marah sekali saat ini. Ibu tidak bisa mendisiplinkan kamu. Kalau sekarang ibu lakukan, ibu takut melakukan hal-hal yang tidak di ridhoi Allah SWT".
Setelah melakukan hal-hal diatas, maka kucoba untuk melakukan komunikasi dengan anakku. Kuyakini, semasa ia belajar mengenal perasaan dan dirinya, anakku akan selalu bertanya, "Apakah engkau mencintaiku? Mengapa engkau memarahiku?"
Karena aku sudah tenang, aku bisa mengatakan kepadanya, "Aku sayang padamu, anaku. Tidak. Aku tidak marah padamu, tetapi aku marah akan kelakuanmu" Bila ia kemudian berusaha mengelak, "Tidak, engkau tidak mencintaiku" Kemudian, aku mencoba menyakinkan dirinya, bahwa aku mengerti perasaannya, "Ibu mengerti mengapa engkau merasa aku tidak mencintaimu, atas kemarahanku". Kemudian kulanjutkan dengan mengatakan, "Aku tetap akan mencintaimu, walau aku marah" Dan kutanyakan kepadanya apakah ia ingin kupeluk. Hal ini kulakukan untuk menjaga rasa percaya dirinya dan keyakinannya tidak jatuh. Atau tanpa dimintapun, aku peluk dirinya, kucium pipinya, dahinya, dan kuulang-ulang kuucapkan, "I love you" kepadanya, sambil berdoa kepada Allah SWT agar dibukakan hatinya.
Sejujurnya aku tidak selamanya sabar, ada kala, aku kehilangan kesabaran. Ada kala, kata-kata bijak menjadi kata-kata yang menyakitkan. Kemudian aku pelajari, kadang kalau kita sebagai orang tua berbahasa kasar karena kemarahan kepada anak, maka anakpun akan berbahasa kasar kepada kita. Anakpun menjadi enggan untuk berkomunikasi dengan orang tua. Maka Aku usahakan untuk mengurangi kata-kata kasarku.
Kala, ada kata-kata yang tidak berkenan keluar dari mulutku, aku mencoba meminta maaf. Bila anakku berkata,"Engkau menyakitkan hatiku, Ibu" Setelah ia juga mengatakan hal yang menyakitkan, maka aku berusaha untuk mengatakan, "Ibu, minta maaf, bila Ibu menyakitkan hatimu tetapi Ibu juga menerima permintaan maafmu. Mari kita saling memaaafkan dan melupakan kesalahan kita. Marilah, kita berjanji untuk tidak saling menyakitkan hati kita".
Aku usahakan agar anakku bisa belajar juga menerima kemarahanku. Aku usahakan memberikan contoh bagaimana marah yang terkontrol, karena aku tahu, anakku belajar dari aku dan ayahnya. Aku usahakan untuk anakku bisa belajar dari kami, bagaimana marah yang baik. Aku usahakan agar anakku mengerti cara mengontrol kemarahan dengan baik dan efektif, mengerti bahwa pada setiap kemarahan yang tidak terkontrol ada konsekuensinya.
Aku usahakan untuk agar anakku bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia dengan selalu menunjukkan kepada anakku setiap hari, rasa cintaku, selalunya kuucapkan "Ibu sayang kamu. Kamu adalah anak yang berharga bagiku" sambail aku berikan pelukan, cium di pipi dan di dahinya.
Aku usahakan untuk bisa sedapat mungkin menunjukkan kepadanya rasa cintaku yang tidak terbatas itu. Karena aku tahu, bila aku dapat menunjukkan perasaan cintaku, anaku lebih bijaksana, lebih bisa mengontrol kemarahannya, bisa mengontrol rasa frustasinya.
Aku usahakan untuk mendengarkan setiap ocehan-ocehannya, cerita-ceritanya. Selalu kucoba kutunjukkan rasa tertarikku dengan cerita-ceritanya. Aku usahakan untuk memperhatikan dan menyakinkan dirinya, bahwa ia selalu selamat bersama kami.
Aku usahakan menetapkan dan melaksanakan jadual-jadualnya dengan baik: waktu makan, waktu tidur, waktu bermain, waktu membaca, waktu menulis dan waktu mengerjakan pekerjaan rumah, dan sholat2nya agar selalu terjaga setiap harinya.
Aku usahakan untuk selalu memuji bila anakku melakukan hal baik, melakukan sholat dengan baik dan tepat waktu, bila anakku bertingkah laku yang baik di tempat umum, seperti mesjid dan sekolah2nya (regular dan Islamic School).
Aku usahakan untuk selalu mengingatkannya bahwa aku mengkritik kelakuannya bukan dirinya. Aku usahakan untuk tetap konsisten pada peraturan-peraturan yang kucoba tegakkan di rumahku.
Dan aku akan berusaha memulai hariku dengan doa untuk menjadikan aku menjadi orang tua yang baik
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Saya ingin mendidik anakku menjadi khalifah Allah yang baik yang akan membantu menciptakan Dunia keislaman yang sebenarnya.
Hari ini, aku akan mencoba sebaik mungkin dan berusaha sebaik mungkin akan perkembangan jiwa dan raga anakku
Hari ini, aku akan mencoba sebaik mungkin untuk mengenal kekuatan buruknya yang bisa menjauhinya dari Allah SWT, dan mengenal kekuatan baiknya yang mendekatkannya kepada Allah SWT.
Hari ini, aku akan mencoba melindungi anakku dari kekuatan buruknya yang akan membuatnya menjauhi Allah SWT.
Hari ini, aku akan melindungi dan menjaga kekuatan baiknya yang akan membawa anakku mendekati Allah SWT.
Hari ini, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menjelek-jelekkan anakku. Dan bila aku harus mengkoreksi kelakuan buruknya, akan aku usahakan untuk mengatakan dengan baik.
Hari ini, aku akan mencoba memperhatikan kelakuan baiknya atau perkataan baiknya dan akan aku katakan kepadanya bahwa semua kelakuan dan perkataan baiknya dihargai oleh ku dan oleh Allah SWT.
Hari ini, aku akan mencintai anakku tanpa batas, tetapi aku akan mencoba sebaik-baiknya mengungkapkan perasaan cintaku pada saat anakku membutuhkan.
Hari ini, aku akan berusaha sebaik mungkin memberikan contoh yang baik sebagai seorang manusia dan seorang muslim yang baik.
Hari ini, aku akan berdoa kepada Allah SWT agar bisa membantuku menjadikan orang tua yang baik bagi anakku.
Doa dari http://www.islamic-world.net/papers/parent.htm
Salams, Febuary 15
|