|
Baru 2 jam yang lalu cellphoneku berbunyi. Kulihat nomornya, wah, siapa nih, tidak kenal. Begitu aku angkat, di seberang sana memperkenalkan diri sebagai nurse practitioner dari Davis School, sekolah 2 anakku. Berceritalah dia, Emily, anakku yang sulung baru saja mengalami kecelakaan di lapangan bermain. Dijelaskannya dengan rinci kedua telapak tangan Emily terbeset dan luka.
Karena Emily jatuhnya rupanya "nyungsep", wajahnya juga kena dan bibirnya berdarah. Perawat itu juga bilang tentang prosedurnya bagaimana dia merawat luka-luka Emily dan dia juga memeriksa gigi Emily. Karena jatuhnya kena wajah, takutnya giginya patah atau copot. Lalu diberikannya telponnya ke anakku.
"Sakit nggak?", pertanyaan yang bodoh memang dari Mamanya, karena tidak mungkin tidak sakit, kan. Tapi aku ingin tahu seberapa sakit si Emily merasakan lukanya. Karena itu penting apakah si anak masih awas akan dirinya (menguji allertness). Lalu aku tanya lagi,"Kenapa bisa jatuh?" Emily menjawab,"Brandy (nama samaran) pushed me." Wah, permainan anak-anak selalu tipis batasnya antara bermain yang aman dan tidak. Apalagi kalau kejadiannya tidak bisa kita pantau langsung
Antara senang-senang, ketawa-ketawa, bercanda-canda yang akhirnya bisa kelewatan dan mencelakkan orang lain pasti kita juga rasakan dulu sewaktu sekolah. Yang jadi persoalan adalah bagaimana menyikapi pernyataan si anak yang dicelakai kawannya baik itu sengaja maupun tidak. Karena sebagai orang tua, kita pasti tidak suka kalau anak kita dijadikan korban permainan anak lain. Tapi yang pertama harus kita ingat adalah memeriksa fisik si anak apalagi kalau si anak terluka. Periksa apakah lukanya biasa-biasa saja atau yang perlu sampai di bawa ke rumah sakit.
Jangan panik! Kesabaran dan kepala dingin adalah utama saat menghadapi kasus seperti ini. Jangan langsung menyalahkan anak lain yang mencelakai anak kita. Selidiki lebih lanjut ketika semua sudah reda. Dan kalau kejadian ini terjadi di sekolah, minta tolong pihak guru wali kelas untuk turut menyelidiki dan meminta perhatian dari orang tua anak yag lain itu. Hal yang penting lainnya adalah memberikan nasehat kepada kedua anak untuk bisa bermain dengan baik dan tetap berkawan.
Lain lagi kalau ceritanya anak kita yang ternyata mencelakai anak orang lain. Ingat, jangan pernah menyalahkan anak kita di depan orang lain. Ini penting untuk menjaga harga dirinya juga. Apalagi kalau dia tahu yang dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Jangan membentak, memukul atau menyakiti anak di depan anak lain. Anak kita bisa merasa malu dan ada kemungkinan dijadikan bahan ledekan oleh anak lainnya.
Pertama saat kita tahu anak kita sengaja atau tidak mencelakai anak orang lain, periksa anak lain itu, apakah dia terluka atau tidak. Kalau iya, apakah lukanya ringan atau parah. Ajak anak kita untuk turut membantu dan memperhatikan anak lain itu. Berikan kesempatan anak kita untuk meminta maaf kepada anak lain. Kalau ada orang tua si anak di sekitar situ, upayakan pendekatan yang kekeluargaan karena anak kadang masih belum bisa mengontrol dirinya saat bermain.
(Dian Yustisiana Adji - Jan0907) |